
Matahari telah bersinar tinggi di langit yang biru, setiap orang sudah melakukan aktivitasnya masing-masing, namun seorang pemuda bernama Rudi masih melekat di tempat tidurnya.
Rudi sangat mengantuk karena ia bermain Vegas Online sampai dini hari. Ia tak langsung kembali ke Kota Srinblue namun ia memilih berburu.
Perburuan tersebut membuat Rudi lupa waktu namun ia mendapatkan kenaikan level yang lumayan banyak, ia naik 4 level sehingga saat ini Rudi telah mencapai level 30.
Tiba-tiba ponsel Rudi berdering membuat Rudi segera bangun, ia melihat ponselnya dan ternyata sebuah panggilan telepon dari ayahnya.
ia pun segera mengangkat telepon tersebut.
"Halo. Apa kabar, Rudi?"
"Aku baik, ada apa? Tidak biasanya Ayah menelponku"
“Aku hanya ingin bertanya, apa kau tidak merindukan ayah dan ibumu ini, Nak?"
Rudi sudah tahu maksud dari ayahnya tersebut, "Baik, aku akan pergi ke rumah kalian." Rudi segera menutup panggilan telepon tersebut lalu menaruh ponselnya di nakas.
Dengan langkah gontai dan mata yang setengah terbuka, Rudi berjalan ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Rudi keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih baik dari sebelumnya, ia segera pergi ke kamarnya lalu memakai pakaiannya.
Setelah berpakaian tiba-tiba perut Rudi berbunyi, Rudi sudah sangat lapar namun saat ini ia sedang malas memasak sehingga ia memutuskan untuk membuat mie instan saja.
Setelah selesai membuat mie instan, ia segera memakannya sambil menonton televisi. Rudi mencari-cari saluran televisi yang diinginkannya hingga ia sampai di sebuah saluran yang membahas Vegas Online.
Di saluran tersebut sedang membahas tentang player dengan level tertinggi sekaligus player terkuat di Vegas Online.
"Cih, entah mengapa aku tidak suka dengan player itu."
Player terkuat tersebut bernama Nibi, saat ini ia memiliki level 283. Kecepatan kenaikan levelnya meningkat saat ia mendapatkan item yang bisa mengambil level seseorang.
Nibi bisa menjadi player terkuat tentu saja karena jobnya yang berada di tingkat Special, jobnya bernama Shadow Knight.
"Saat aku sudah memiliki job tingkat Special, aku akan menantangnya." Rudi mematikan televisinya lalu dengan ia segera menghabiskan mie instannya.
Setelah habis, ia segera memakai jaket dan celana panjang lalu pergi dari rumahnya menuju terminal bus.
Rumah orang tua Rudi berada di kota yang berbeda dengan Rudi, butuh waktu 2 jam perjalanan untuk sampai di sana.
Di terminal bus, Rudi segera menaiki bus yang pergi ke kotanya. Bus pun berangkat ke dari terminal tersebut.
Dua jam kemudian Rudi telah sampai di depan sebuah rumah yang amat besar bak istana. Rudi membuka pintu gerbang tersebut, saat pintu gerbang tersebut terbuka ada seorang pelayan yang tengah menunggu dirinya.
"Ah, Tuan Muda." Pelayan tersebut langsung menunduk hormat, "Tuan dan Nyonya telah menunggu Anda, Tuan Muda."
Rudi mengerutkan dahi, 'Tidak biasanya ayah menyuruh seorang pelayan untuk menyambutku,'
Rudi menghela napas dan mengangguk lalu pelayan tersebut mengantar Rudi masuk ke dalam rumah orang tua Rudi.
Langkah pelayan tersebut terhenti saat mereka sampai di ruang keluarga, di sana sudah ada kedua orang tuanya bersama seorang gadis yang usianya lebih muda dari Rudi.
Rudi meminta pelayan tersebut pergi, ia segera menyapa kedua orang tuanya.
"Kupikir kau lupa dengan kami," sindir Ayah Rudi.
Rudi menggaruk kepalanya lalu duduk di hadapan orang tuanya, "Sebenarnya ada apa sampai kalian memanggilku bahkan menyuruh pelayan untuk menyambutku dan siapa dia?" Rudi menunjuk seorang wanita yang berada di samping ibunya.
"Ada yang ingin kami bicarakan denganmu lalu apa kau tidak tahu siapa wanita di depanmu ini?" Rudi menggelengkan kepalanya.
"Dia adalah adik sepupumu, namanya Vivi. Bukankah dulu kalian sering bermain bersama?"
"Ah, aku ingat. Vivi si gadis tomboy itu, tak kusangka kau bisa tampil feminim seperti ini."
Seketika Vivi menatap Rudi dengan tajam membuat Rudi menelan ludahnya. Vivi berdiri lalu berjalan ke arah Rudi, tangannya mulai mencengkeram kerah baju Rudi lalu mengangkatnya.
Vivi mendekatkan wajahnya ke telinga Rudi lalu berbisik, "Jika kau memanggilku dengan sebutan itu lagi maka habis kau!"
Bulu kuduk Rudi berdiri, napasnya tertahan saking takutnya
'Cih, penampilannya saja yang berubah, tapi sikapnya tidak,' batin Rudi.
Cengkeraman Vivi akhirnya terlepas saat Ibu Rudi meminta Vivi melepaskan Rudi. Vivi menghela napas lalu kembali ke tempat duduknya.
Mata Rudi melirik ayahnya, "Ayah, mengapa dia bisa ada di sini? Bukankah seharusnya dia ada di Amerika."
"Dia merindukan Indonesia jadi aku menyuruhnya untuk tinggal di sini dalam beberapa bulan." Rudi mengangguk saat mendengar perkataan ayahnya.
Dahulu Vivi sangat dekat dengan Rudi, mereka berdua sering bermain bersama hingga suatu hari Vivi harus pindah ke Amerika karena pekerjaannya ayahnya.
Sudah 12 tahun mereka berpisah dan saat ini mereka pun akhirnya di pertemukan.
"Baiklah, Ayah ingin membicarakan apa padaku?"
"Ada banyak yang ayah ingin bicarakan tapi ibumu juga ingin membicarakan sesuatu." Rudi pun melirik ibunya.
"Rudi, kapan kau akan menikah? Ibu sudah tidak sabar ingin menggendong cucu darimu."
Seketika Rudi tersedak napasnya sendiri, "Aku belum menemukan wanita yang cocok denganku, jadi Ibu harus menunggu sedikit lebih lama jika ingin mendapatkan cucu."
Ibu Rudi menunduk lesu lalu mengangguk, Ayah Rudi menghela napas lalu mengelus pudak istrinya.
"Baiklah, sekarang giliran ayah. Apa kau sudah memiliki pekerjaan saat ini?" Lagi-lagi Rudi tersedak napasnya sendiri saat mendengar pertanyaan tersebut.
"Aku belum mendapatkan pekerjaan."
Ayah Rudi menaikkan alisnya, "Sudah ayah bilang jika kau lebih baik mengurus perusahaan milik ayah."
"Maaf, tapi aku tidak ingin terus bergantung pada kalian. Aku ingin sukses tanpa uluran tangan dari kalian, kalian cukup mendo'akan aku saja agar aku bisa sukses dengan keringatku sendiri."
Ayah Rudi tersenyum kecut, "Sudah kuduga, tapi tolong berjanjilah jika suatu saat nanti terjadi apa-apa pada diriku, aku minta kau meneruskan perusahaan ayah!"
"Baiklah, aku akan berjanji untuk hal itu."
"Terima kasih. Oh ya, apa kau sudah tahu jika keempat temanmu itu mengundurkan diri dari perusahaan ayah?"
Keempat sahabat Rudi memang bekerja di perusahaan Ayah Rudi, itu pun karena Rudi kasihan pada mereka dan meminta ayahnya untuk memberi pekerjaan pada mereka.
"Benarkah, apa alasan mereka hingga mereka mengundurkan diri? Apa karena aku?"
"Yang ayah tahu, mereka mengundurkan diri karena sudah menemukan pekerjaan yang lebih baik daripada di perusahaan ayah dan itulah masalahnya."
"Maksudnya?"
"Mereka bekerja di sebuah perusahaan properti yang bernama Hurub Corp, awalnya ayah biasa saja tapi ayah sangat terkejut saat ayah diberitahu oleh informan ayah bahwa perusahaan itu adalah perusahaan yang memperjual belikan manusia, tapi itu masih belum pasti kebenarannya."
Wajah Rudi memucat, ia memang membenci mantan sahabatnya itu tapi ia juga tidak bisa melihat keempat sahabatnya terjerumus sesuatu yang salah.
Suasana menjadi hening, namun seseorang datang sambil bersuara menghilangkan keheningan tersebut.
"Bukan hanya itu saja yang dilakukan Hurub Corp, masih banyak lagi yang hal-hal dilakukan perusahaan itu." Semua orang melirik ke arah orang tersebut dan mereka sangat terkejut saat tahu siapa orang tersebut.