Vegas Online

Vegas Online
Ch 27 - Menjadi Peace Knight



Seorang pria paruh baya yang membawa joran di tangannya sedang melompati atap-atap rumah di Kota Srinblue untuk mengejar seseorang yang sudah diincarnya sejak lama.


Ia berhenti saat sudah sampai di luar kota, kebenarannya tak begitu jauh dari seseorang yang telah ia tunggu selama satu abad ini.


Orang yang di maksud pria paruh baya tersebut adalah Aslan, pada saat itu Aslan masih dalam pertarungan melawan Hirens.


Pria dengan joran tersebut tidak berniat mengganggu pertarungan keduanya sampai ia melihat Job Book ingin digunakan oleh Hirens, ia tak ingin membiarkan kekuatan gurunya itu jatuh ke tangan orang lain karena ia sudah lama menginginkan kekuatan tersebut.


"Aku tak akan membiarkan kekuatan guruku jatuh ke tangannya."


Pria tersebut adalah salah satu murid dari Peace Knight, tepatnya adalah satu dari sembilan pemegang kekuatan Peace Knight.


Joran pria tersebut memanjang dan siap untuk menangkap Hirens namun seorang gadis dengan topeng ungu datang lalu memotong joran pria tersebut.


"Lama tidak bertemu, Guru Vincent." Gadis yang tak lain adalah Topeng Ungu menunduk hormat di hadapan pria tersebut.


"Vi...ah, bukan Topeng Ungu, jangan pernah panggil aku guru lagi! Aku tidak sudi memiliki murid sepertimu."


"Eh, bukankah dulu kau yang menjadikanku muridmu? Seingatku aku tidak pernah ingin berguru padamu tapi kau selalu memaksaku sehingga mau tidak mau aku harus menerimanya."


Vincent mencengkeram jorannya sangat kuat sampai-sampai joran tersebut hancur menjadi debu. Topeng Ungu menyeringai dalam topengnya, ia telah berhasil membuat Vincent lupa akan Hirens.


Namun perubahan raut wajah Vincent membuat Topeng Ungu menghentikan seringainya.


"Kau pikir aku melupakan orang itu." Vincent menunjuk Hirens, "Kau sudah salah besar karena aku tidak peduli lagi dengannya, yang sekarang aku pedulikan adalah kau."


Sebuah joran baru muncul di tangan Vincent, ia bersiap menyerang Topeng Ungu. Topeng Ungu pun menghunuskan kedua belatinya pada Vincent.


"Guru, apa kau ingin mereka terganggu dengan pertarungan kita?"


Vincent langsung mengerti maksud Topeng Ungu, ia pun segera melesat menjauh dari Aslan dan Hirens. Topeng Ungu pun mengikuti ke mana Vincent pergi.


Langkah Vincent terhenti di pinggir sungai, ia memilih tempat tersebut karena ia sangat ahli jika bertarung menggunakan air.


Tak lama kemudian Topeng Ungu datang, ia sudah menebak jika gurunya itu akan memilih sungai sebagai tempat bertarung.


Tanpa berkata-kata lagi, Topeng Ungu langsung melesat ke arah Vincent. Jorannya memanjang lalu menahan tubuh Topeng Ungu.


Tubuh Topeng Ungu menghilang membuat Vincent melirik ke sekitar sambil menajamkan instingnya namun tiba-tiba sebuah belati menusuknya dari belakang.


"Kau lengah wahai guruku." Satu belati lagi hendak ditusukkan oleh Topeng Ungu namun Vincent segera menghindarinya.


"Sudah kubilang jangan pernah menyebutku guru lagi!" Setelah berkata seperti itu Vincent memasukkan benang pancingnya ke dalam sungai lalu puluhan ikan melompat keluar dari sungai.


Puluhan ikan tersebut melompat ke arah Topeng Ungu, Topeng Ungu segera memotong seluruh ikan tersebut.


Tanpa diketahui Topeng Ungu, Vincent telah berada di belakangnya. Vincent mengangkat jorannya namun sesuatu membuat Vincent tidak jadi menyerang Topeng Ungu.


"Ini...mengapa aku merasakan keberadaan guru di sekitar sini?"


Topeng Ungu berbalik saat mendengar Ucapan Vincent tersebut, ia merasakan kekuatan yang sama dengan kekuatan yang menyegel Dewa Kehancuran.


"Apakah ini Peace Knight?" Topeng Ungu bertanya pada Vincent.


"Benar, aku merasakan keberadaan guru di sekitar sini."


Mereka berdua memutuskan untuk menghentikan pertarungan, mereka ingin mencari sumber kekuatan tersebut.


***


Dragon Soul Sword memancarkan cahaya, dari cahaya tersebut muncul dua buah hologram. Salah satu hologram tersebut adalah naga emas yang pernah dikalahkan oleh Aslan namun dalam bentuk kecil.


Di sebelah naga tersebut ada seorang pria yang sangat tampan, ia tersenyum sambil mengelus kepala naga emas tersebut.


Setelah cahaya dari pedang tersebut menghilang, barulah Aslan dan Aztec membuka mata mereka.


Mereka sangat terkejut saat melihat dua buah hologram tersebut, Aztec lebih terkejut saat melihat pria di samping naga emas. Pria yang menjadi panutannya, sang guru tercinta, Peace Knight Zen.


Air mata menetes dari mata Aztec, rasanya ia ingin memeluk gurunya tersebut namun ia sadar bahwa saat ini gurunya hanya hologram sehingga ia mengurungkan niatnya.


"Aztec, ingat umurmu! Apa kau tidak malu menangis di depan seorang anak muda?"


Mendengar perkataan Zen, Aztec segera menghapus air matanya. Zen terkekeh melihat muridnya tersebut.


"Mengapa kau melihatku seperti itu, manusia lemah?"


"Karena dirimu aku harus kehilangan job dan level. Aku sangat membencimu karena itu." Aslan mengacungkan pedangnya ke arah naga tersebut.


Naga emas sangat geram, jika saja saat ini ia memiliki tubuh sudah pasti ia akan menghajar Aslan habis-habisan.


"Sudahlah, naga baik tidak akan mudah marah." Zen menepuk kepala naga tersebut layaknya seorang anak kecil.


Sang naga emas menjadi sangat marah, ia menatap tajam Zen, namun Zen hanya tersenyum lalu menepuk lagi kepala naga tersebut.


Seketika hologram naga tersebut berubah menjadi partikel cahaya, Zen tersenyum sambil menepuk-nepuk kedua tangannya.


"Sekarang kau bisa mati dengan tenang. Oh iya, namaku Zen. Apa kau adalah orang terpilih?"


Aslan mengerutkan dahinya lalu mengangguk, "Bukankah kau yang memilihku? Bagaimana bisa kau tidak mengetahui diriku?"


"Aku ini hanya kekuatan Peace Knight yang disegel di dalam pedang itu. Jadi, aku tidak tahu siapa orang terpilih."


"Tunggu, Guru. Apa yang Guru maksud dengan kekuatan Peace Knight? Yang aku tahu Guru sudah membagi masing-masing 10% pada sembilan muridnya dan sisanya akan di berikan pada orang terpilih, namun sekarang kekuatan itu telah di ambil oleh orang lain sehingga sudah tidak ada lagi kekuatan yang tersisa."


"Apa aku pernah bilang jika aku akan memberikan 10% kekuatan pada orang terpilih? Aku hanya memberikan 9% pada orang terpilih dan 1% aku segel pada pedangku.


Saat itu pedangku hampir rusak akibat melawan Meish sang pembuat kehancuran dan agar pedangku tidak rusak aku menyegel 1% kekuatanku namun itu saja tidak cukup, jadi aku menyegel jiwa naga emas juga ke dalam pedangku.


Seharusnya 1% kekuatan ini di dapatkan setelah 99% kekuatan Peace Knight telah terkumpul tapi kejadian tak terduga membuat aku harus muncul sekarang.


Aku akan memberikan 1% kekuatan ini padamu namun pedangku ini akan menurun tingkatnya menjadi Basic, kau tenang saja karena pedangku akan kembali seperti semula seiring berjalannya waktu."


Tangan Zen terangkat ke atas, bersamaan dengan tubuh Aslan yang bercahaya lalu muncul notifikasi di hadapan Aslan.


[Selamat Anda mendapatkan job tingkat Special, Peace Knight]


[Terima/Tidak]


"Tentu aku terima."


[Job Anda telah berganti menjadi Peace Knight]


Zen tersenyum senang, "Waktuku sudah tidak banyak lagi. Aztec, tolong gunakan kekuatanmu untuk mengembalikan bentuk fisik pedangku!"


Aztec mengangguk lalu ia mengeluarkan Dragon Rose dan Immortal Pearl. Kedua item tersebut bercahaya lalu bersatu dengan tubuh Aztec.


Aztec mengarahkan tongkatnya pada pedang tersebut, seketika pedang tersebut di selimuti cahaya kuning keemasan.


Muncul tengkorak di antara bilah dan gagang pedang, di dahi tengkorak tersebut terdapat empat lubang. Kini pedang tersebut kembali ke wujud awalnya dan namanya adalah Penta Sword.


Pedang tersebut terbang ke arah Aslan, dengan sigap ia pun mengambil pedang tersebut lalu memeriksa statusnya.


[Penta Sword (Basic|0/30.000)


{Membutuhkan 30.000 nyawa untuk naik tingkat}


Req : Peace Knight


STR : 500


INT : 420


AGI : 400


EFEK : - Membutuhkan 4 Elite Elemental Core untuk mengaktifkan kekuatan]


Aslan menatap takjub pedang tersebut, ia pun segera memasukkan pedang tersebut ke dalam Inventorynya.


"Oh iya, aku ingin meminta tolong padamu untuk mencari keturunanku! Ia memiliki tato segi lima di punggung tangannya sepertiku dan sekarang ia berada di Desa Zulu.” Zen menunjukkan tato di punggung tangannya, “Kau bisa menjadikannya sebagai sekutu karena aku yakin kemampuannya akan sangat kau butuhkan untuk melawan Meish nanti.”


"Baiklah, akan aku cari dia dan kujadikan dia sebagai sekutu."


"Terima kasih, setelah ini aku serahkan padamu, Aztec." Tubuh Zen bercahaya lalu ia berubah menjadi partikel cahaya.


Lagi-lagi Aztec menangis saat gurunya pergi, ia merasa harus secepatnya menyelesaikan misinya agar ia bisa mati dan bertemu gurunya lagi di alam sana.