Vegas Online

Vegas Online
Ch 42 - Silvia



"Benar sekali, aku adalah Zagi, cucu dari gurumu." Zagi membalas perkataan Olivia.


Olivia mengangguk lalu bertanya alasan Zagi datang ke istana selain mengantarkan cucunya, Putri Velia.


"Aku datang kemari untuk membicarakan tentang takdirmu." Zagi menarik napas dan mengembuskannya, "Riska Baraghi aku tahu kau berada di sana. Jadi, keluarlah! Kami tidak sedang bermain petak umpet." Zagi menunjuk ke salah satu sisi ruangan.


Pada saat bersamaan seorang gadis keluar dari tembok, gadis tersebut terlihat seperti anak berusia 10-an tahun, namun usia asilnya sama seperti Olivia, yaitu 300 tahun.


Karena eksperimen yang dilakukan klannya, gadis yang bernama Riska itu tidak bisa tumbuh lagi.


Olivia menaikkan alisnya saat melihat gadis itu, "Hohoho, si cebol Riska ini berani sekali menyusup ke dalam istanaku."


"Diam kau nenek tua sialan! Dan kau juga, bagaimana kau bisa mengetahui kebenaranku? Selama aku hidup tidak pernah ada yang mengetahui keberadaanku, bahkan itu guru sekalipun."


"Ah, aku hanya asal menebak saja." Sontak jawaban Zagi itu membuat Riska menjadi murka.


Sebelum hal yang tak diinginkan terjadi, Olivia menghentikan Riska dan meminta pada orang-orang yang ada di ruangan itu untuk meninggalkan mereka bertiga.


Semua orang hendak menolaknya, namun sang ratu menatap tajam mereka sehingga mau tak mau mereka harus pergi dari ruangan itu.


"Kenapa tidak sejak tadi? Sekarang aku sedikit lebih leluasa untuk melakukan apa pun." Zagi duduk di salah satu kursi yang berada di sana, ia memperhatikan kedua wanita itu dengan tatapan tajam.


"Apa yang ingin kau katakan?" Olivia berkata pada Zagi.


"Cepat katakan! Aku tidak memiliki banyak waktu," ucap Riska dengan sedikit berteriak.


Sementara itu, Zagi tersenyum penuh arti dan masih memperhatikan kedua wanita tersebut.


"Olivia Fugian dan Riska Baraghi...kalian berdua adalah Pemegang Kekuatan Peace Knight, aku yakin kalian tidak melupakan sebutan itu."


"Tak perlu basa-basi! Langsung pada intinya saja." Riska membentak Zagi.


Zagi hanya bisa menghela napas sambil mempertahankan senyumannya, "Seharusnya kalian tahu alasan kalian diberikan kekuatan itu, tetapi kalian malah mengedepankan ego kalian untuk menjadi terkuat dengan mencoba mengambil Penta Sword dari orang terpilih."


Mata keduanya melebar, selama ini mereka memang mencoba segala cara untuk mengambil pedang itu, namun pada saat itu Aztec selalu menggagalkannya.


Saat mereka tahu bahwa Aztec telah meninggal, mereka tak langsung bertindak untuk mengambil Penta Sword karena ada seseorang yang menjaga orang terpilih dari belakang.


Hingga saat peperangan antara Guild Death Fire dan Guild Black Demon terjadi. Olivia sudah tidak lagi berusaha mengambil itu, namun Riska malah mengambil kesempatan itu untuk membuat orang terpilih menjadi lemah dan hasilnya ia harus berurusan dengan seseorang yang menjaga orang terpilih selama ini.


"Ingatlah! Ego kalian itu bisa membuat dunia ini hancur, kalian juga harus ingat bahwa umur kalian itu sudah lebih dari 3 abad bahkan umur kalian lebih tua dari Kakek Zen. Jadi, sudah seharusnya kalian itu mati."


Setelah mendengar hal itu keduanya termenung, Olivia merasa tindakannya selama ini memang salah dan berniat untuk tidak melakukan hal itu lagi.


Berbeda dengan Olivia, Riska malah semakin ingin merebut Penta Sword dan mengambil seluruh kekuatan Peace Knight.


"Aku hanya ingin mengingatkan hal itu, keputusan ada berada di tangan kalian. Aku pergi dulu." Zagi menaiki Phoenix lalu pergi terbang keluar istana.


***


Tiga hari setelah perang selesai, selama itu pula Aslan berburu tanpa henti. Pada awalnya ia menggunakan Gemini Ring supaya lebih cepat menaikkan levelnya, namun saat Aslan berada di level 56 ada suatu keanehan yang terjadi.


Level Aslan meningkat, namun seluruh statusnya tidak bertambah sama sekali. Sejak saat itu, Aslan tidak menggunakan lagi Gemini Ring.


Saat ini Aslan sedang duduk di bawah pohon, setelah sebelumnya ia berburu bersama Artemis, berkat bantuan Artemis juga sekarang ia telah berada di level 65.


Ketiga petnya juga mengalami kenaikan level yang cukup drastis, saat ini ketiga pet Aslan masih berada di dalam tato akibat kemarin mereka tewas saat membantu Aslan melawan monster.


"Hmm...sejauh apa kemajuanku...ya." Aslan membuka statusnya.


[Aslan | Human


Job : Peace Knight{20%}


(Setiap naik level +5 STR, +3 AGI, +3 INT & +3 VIT)


Level : 65 / Title : 1


HP : 6826/7655


MP: 5543/6754


STR: 1500


AGI : 1368


INT : 1477


Money - Gold : 30


- Silver : 43


- Copper : 34


Skill :


-Toxic Sword (Level 2)| Active


{Melapisi pedang dengan racun tingkat 2}


- Clone (Level 1) | Active


{Membuat 1 clone yang hanya akan memiliki 10% kekuatan dari penggunanya}


- Healing Water(Level 1)| Passive


{Mengebalikan 100 Point HP dan MP saat seluruh tubuh terkena air}]


"Sejauh ini peningkatannya cukup bagus." Aslan tersenyum saat melihat statusnya itu.


"Aslan!" Aslan segera melirik ke arah Artemis yang memanggilnya.


"Ada apa?"


"Aku melihat ada sebuah kota di dekat sini, mari kita pergi ke sana untuk mengisi ulang perbekalan!"


Tanpa menunggu jawaban Aslan, Artemis langsung menarik tangan Aslan dan membawanya ke kota yang dimaksudnya.


Saat sampai di kota tersebut, tatapan semua orang tertuju kepada mereka berdua. Semua orang di sana saling berbisik, Aslan yang mengetahui mengetahui alasan semua orang seperti itu segera berkata pada Artemis, "Artemis, bisakah kau lepaskan tanganku? Kita sedang dipandangi oleh semua orang."


"Ah, maafkan aku!" Langsung saja Artemis melepaskan tangan Aslan dengan wajah yang merona.


Artemis pun langsung pergi ke sebuah toko dan diikuti oleh Aslan.


"Kalian pasangan yang cukup serasi, aku akan beri potongan harga untuk kalian berdua." berkata pada Aslan dan Artemis.


"Terima kasih, Tuan." Aslan dan Artemis tersenyum canggung.


Beberapa saat kemudian, mereka telah mengisi ulang perbekalan dan berniat untuk segera pergi dari kota tersebut.


Sesampainya di gerbang kota, seorang gadis dengan job Mage menahan mereka, namun gadis tersebut hanya menundukkan kepalanya dan tidak berbicara sepatah kata pun.


"Apa yang ingin kau katakan? Kami ingin segera pergi dari sini." Aslan berkata pada gadis tersebut, namun gadis tersebut tidak menjawabnya.


"Dia terlihat sangat gugup, Aslan. Biar aku saja yang mengurusnya." Artemis pun mengajak gadis tersebut sedikit menjauh dari Aslan dan mencoba berbicara dengannya.


Tak lama kemudian kedua gadis tersebut kembali ke tempat Aslan berada, wajah gadis itu sedikit lebih cerah daripada sebelumnya dan ia sudah tidak menundukkan kepalanya lagi.


"Aslan, nama gadis itu Silvia. Dia adalah player pemula yang butuh bantuan dalam berburu, namun ia tidak berani mengungkapkan itu sehingga tidak mendapatkan bantuan dari siapa pun." Artemis menjelaskan pada Aslan.


"Jadi seperti itu, lalu bagaimana kau bisa membuatnya berbicara?"


"Aku hanya menggunakan pendekatan sesama perempuan."


Walaupun tidak mengerti, Aslan tetap mengangguk. Setelah itu, Aslan memandang Silvia, membuat yang dipandangnya menundukkan kepala lagi.


Aslan tersenyum lalu mengelus kepala Silvia, "Cobalah untuk berani mengungkapkan sesuatu! Aku tidak memaksamu, tapi cobalah."


Pipi Silvia pun langsung menjadi merah, "A...aku akan mencobanya."


"Tak kuduga jika suaramu itu sangat indah. Baiklah, mari kita pergi berburu!" Aslan memimpin jalan menuju hutan diikuti Silvia dan Artemis.


"Rasanya aku telah salah karena membantunya." Artemis yang sedikit cemburu menggerutu pelan agar Aslan dan Silvia tidak mendengarnya.


Sesampainya di hutan, Aslan dan Artemis langsung membantu Silvia berburu monster-monster di sana.