
Di dalam rumah tersebut ada tiga orang pria dan satu orang wanita yang di bawa tadi, salah satu pria tersebut sangat di kenal oleh Rudi.
Seseorang yang selalu menjadi motivator Rudi, seseorang yang selalu menjaga Rudi dan seseorang yang paling Rudi banggakan. Pria tersebut adalah Romi–kakak kandung Rudi.
"Hohoho, ada tamu yang tidak di undang di sini." Romi berjalan mendekati Rudi.
"Kakak, aku sudah lama mencarimu." Rudi mengulurkan tangannya pada Romi, "Mari kita pulang dan lupakanlah dendam serta kebencianmu!"
"Melupakan dendam dan kebencian? Jika kau menjadi diriku, apa kau bisa melupakan semua itu setelah istrimu di perkosa dan di jadikan budak sex!?"
Seketika Rudi mematung, ia mengingat kejadian masa lalu tentang kakaknya. Pada awalnya sifat Romi tidak seperti ini, ia terkenal ramah serta penyayang namun sebuah kejadian membuatnya berubah.
Sifat Romi berubah pada saat istrinya di culik dan di perkosa tepat pada hari pernikahannya, tak berhenti di situ saja istri Romi pun di jadikan budak sex oleh sebuah kelompok kriminal.
Pada akhirnya istri Romi tewas bunuh diri karena ia sudah malu dan merasa dirinya sudah tidak pantas untuk hidup lagi.
Setelah kejadian itu Romi menjadi sangat dendam pada kelompok kriminal tersebut namun karena ia tidak dapat melawan kelompok kriminal tersebut, ia melampiaskan dendamnya dengan cara memperkosa gadis-gadis.
Perbuatan Romi tersebut membuat kedua orang tua Romi menjadi sangat marah dan mereka mengusirnya dari rumah.
"Aku ingin kau kembali seperti dulu, menjadi seorang kakak yang aku banggakan. Jadi, tolong lupakan segala kebencian itu dan kita akan memulai hidup baru!"
"Hahaha, kau menyuruhku untuk melupakan kebencian itu sendangkan dirimu saja memiliki kebencian yang cukup dalam."
Rudi melebarkan matanya, "Mengapa kau bisa mengetahui hal itu?"
"Cih, aku ini adalah kakakmu dan aku dapat melihat kebencian dari matamu."
Tiba-tiba saja Romi mengeluarkan sebuah pistol lalu mengarahkannya pada Rudi, "Aku sudah muak melihat dirimu! Wajahmu itu mengingatkanku pada kenangan yang buruk."
Rudi menelan ludahnya, ia berpikir untuk pergi namun hatinya tetap ingin berada disana, ia menghela nafasnya lalu ia memejamkan matanya.
Pada saat bersamaan Romi telah menembak, namun tembakannya tak mengenai Rudi. Tangan Romi bergetar dan dadanya bergemuruh.
"Mengapa aku tidak bisa menembaknya!?"
Rudi membuka matanya lalu ia tersenyum kecil dan berkata dalam hatinya, 'Bagaimanapun juga seorang kakak tidak akan pernah bisa melukai adiknya.'
Romi membuang pistolnya lalu ia memegang kepalanya, tiba-tiba saja ia mengingat semua kenangan bersama Rudi.
Romi menatap tajam Rudi, "Pergilah dan jangan pernah menemuiku lagi!" Romi juga menatap wanita yang telah di ikat dan dijaga oleh kedua anak buahnya.
"Kalian berdua lepaskan wanita itu dan biarkan aku sendiri!" kedua anak buahnya tersebut ingin menolak namun mereka tidak bisa menolak perintah bosnya.
Segera saja kedua anak buah Romi tersebut membukan ikatan pada wanita tersebut lalu mereka semua termasuk Rudi keluar dari rumah tersebut dan hanya meninggalkan Romi sendirian.
Pada saat di luar Rudi hanya bisa menghela napas, ia berjalan pergi dari halaman rumah tersebut namun suara meminta tolong membuatnya menghentikan langkah dan berbalik.
Ternyata wanita tadi sedang di tarik paksa oleh kedua anak buah Romi tersebut, wanita tersebut terus memberontak namun karena terlalu lemah sehingga ia tak dapat melawan.
"Hahaha, kau kira kami berdua akan melepaskanmu begitu saja."
"cobalah lihat tubuh wanita ini! Sungguh menggiurkan."
Salah satu pria tersebut menyeringai lalu pria lainnya segera menggendong wanita tersebut dan membawa wanita tersebut pergi. Sebelum hal itu terjadi Rudi telah menghadang kedua pria tersebut.
Tanpa berkata-kata lagi Rudi segera meninju pria yang membawa wanita tersebut dan segera saja Rudi mengambil wanita tersebut lalu meletakannya di tempat yang aman.
Setelah itu Rudi segera melesat ke arah dua pria tersebut dan mengeluarkan jurus-jurus kung-funya.
Beberapa menit kemudian kedua pria tersebut sudah terkapar dan tak sadarkan diri, Rudi segera mendekati wanita tersebut.
"Apa kau baik-baik saja?"
Wanita tersebut mengangguk, "Terima kasih karena telah menyelamatkanku."
"Sama-sama. Tunggu, bukankah kau wanita yang pernah kutabrak beberapa hari yang lalu."
"Ah, iya aku ingat."
"Namaku Lilly dan siapa namamu?"
"Namaku Rudi."
Setelah itu Rudi ingin mengantarkan Lilly pulang karena khawatir akan terjadi hal yang tidak di inginkan seperti tadi namun Lilly menolaknya karena tak ingin merepotkan Rudi.
Rudi tetap memaksa ingin mengantarkan Lilly namun Lilly juga tetap bersikeras untuk menolaknya dan pada akhirnya Rudi pun mengalah.
Rudi segera pulang ke rumahnya dan ia pun segera pergi tidur.
Keesokan harinya, Rudi baru saja selesai membersihkan rumah dan sarapan. Rudi berniat melupakan kejadian semalam namun ia masih berharap bahwa kakaknya akan kembali.
Rudi menghela napas panjang lalu ia segera memakai Rens-gear.
***
Hari ini Aslan berniat untuk pergi ke ibu kota kekaisaran untuk menemui Ryan. Ia pun segera pergi ke pasar untuk mengisi ulang perbekalan.
Beberapa menit kemudian Aslan telah mengisi ulang perbekalannya lalu ia segera pergi ke gerbang timur kota dan menuju ibu kota.
Dalam perjalanan Aslan tidak menemukan sebuah kesulitan yang cukup berat, ia hanya bertemu dengan monster-monster berlevel rendah.
"Kenaikan levelku bertambah sulit." Aslan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecut.
Tiba-tiba ia mendengar sebuah teriakan kencang diiringi dengan gelombang suara yang menerbangkan apa saja yang di laluinya.
"Tidak, jangan ini lagi!"
Aslan segera berlari agar ia tidak ikut terbang namun naas, ia tetap terkena gelombang suara tersebut dan ia pun terpental ke langit.
Pada saat bersamaan, seorang pria yang membawa sebuah gitar muncul lalu ia segera memutus dua senar gitarnya, kedua senar gitar tersebut bergerak sendiri lalu melesat ke arah Aslan.
Dua senar gitar tersebut melilit kaki Aslan dan membuat Aslan tidak terpental. Kedua senar gitar tersebut segera menarik Aslan turun dengan selamat.
Setelah menurunkan Aslan, kedua senar tersebut kembali dan menyatu lagi seperti semula.
Pria yang membawa gitar tersebut segera menghampiri Aslan.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja." Aslan berdiri sambil menatap tajam pria tersebut, "Apa kau tidak bisa melihat sekitar dahulu sebelum menggunakan skillmu?!"
Pria tersebut tersenyum sambil menggaruk kepalanya, "Maafkan aku! Aku hanya sedang berlatih skill baruku."
Aslan mengangguk namun seketika ia mengerutkan dahinya, " Tunggu, sejak kapan di Vegas Online ada job seperti dirimu? Apakah kau memiliki job tingkat Special?"
"Ah, tidak. Saat ini jobku hanya berada di tingkat Menengah dan nama jobku adalah Musician."
"Aku baru mendengar job tersebut."
"Hahaha, tingkat biasa dari jobku adalah Singer dan job tersebut sangat jarang peminatnya karena bukan tipe serangan atau pertahanan, tapi saat jobku menjadi tingkat Menengah, aku dapat menggunakan beberapa skill menyerang."
Aslan mengangguk lalu ia menanyakan nama pria tersebut dan ternyata nama pria tersebut adalah Kurt Aslan pun mengenalkan dirinya dan ia juga memberitahu Kurt bahwa dirinya akan pergi ke ibu kota.
"Kalau begitu mari kita pergi bersama! Aku juga ingin pergi ke ibu kota kekaisaran untuk kembali ke guildku."
Aslan menyetujui hal tersebut dan akhirnya mereka pun pergi ke ibu kota kekaisaran bersama.
**Maaf ya telat lagi, saya tuh lagi banyak tugas jadi up nya jadi telat deh tapi tenang saya usahakan besok bakal tepat waktu.
Jangan lupa like, vote, comment dan favoritenya agar saya bisa bertambah semangat lagi nulisnya.
Sekan, Terima kasih**