
Pemimpin Re Weapon yang bernama Ivan sedang melihat tawanannya sambil menikmati arak, ia sangat senang tawanan-tawanannya kali ini banyak wanita cantik.
Ivan menjilat bibirnya sambil menatap penuh nafsu wanita-wanita tersebut, ia tak sabar ingin bersenang-senang dengan mereka.
Saat Ivan masih memperhatikan wanita-wanita tersebut, tiga anak buahnya datang sambil membawa seorang gadis cantik yang berasal dari ras Elf.
"Gyahahaha, kerja bagus. Sebagai bonus, kalian bisa memilih beberapa wanita itu, nanti malam aku ingin bersama gadis ini."
Tiba-tiba gadis Elf tersebut tertawa, Ivan mengerutkan dahinya karena ini pertama kalinya ia mendapatkan respon seperti itu.
"Hihi, aku menyukai pria sepertimu, akan aku pastikan kau merasa puas." Gadis tersebut memasang paras menggoda pada Ivan.
Ivan tersenyum, "Kalian bawa gadis ini ke penjara khusus! Pastikan ia mendapatkan pelayanan yang layak dan jangan sampai tergores sedikit pun!"
Ketiga anak buahnya langsung membawa gadis elf tersebut ke penjara khusus yang berada di bawah tanah.
Ivan sangat gembira lalu ia pergi ke ruangannya, di ruangan Ivan ada 4 orang wanita yang tangan dan kakinya dirantai.
Bukan hanya itu saja, keempat wanita tersebut tidak mengenakan pakaian dan tatapan mereka kosong seperti sudah tak memiliki harapan hidup lagi.
Ivan menatap keempat wanita tersebut, "Maafkan aku karena malam ini aku tidak bisa bersama kalian, aku menemukan gadis elf yang sangat cantik dan mungkin besok ia akan bersama kalian di sini."
Keempat wanita tersebut sedikit lega karena malam ini mereka dapat tidur sedikit lebih tenang.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang begitu kencang, awalnya Ivan tidak menghiraukannya karena ia sudah biasa dengan teriakan seperti itu namun tiba-tiba kastil yang ditempatinya ini berguncang.
Ivan mulai khawatir dan pintu ruanganhya terbuka, salah satu anak buahnya datang lalu memberitahukan bahwa ada serangan.
"Cih, siapa yang berani menyerang Re Weapon? Mereka hanya akan mencari mati. Kerahkan anggota yang lainnya dan jangan biarkan mereka pergi sambil bernapas!"
Anak buahnya tersebut pergi dan memberi tahu hal tersebut. Ivan menggertakkan giginya, ia memiliki firasat buruk dengan penyerangan kali ini.
***
Ratusan peluru mulai melesat ke arah para bandit tersebut, Artemis yang melakukan hal itu tertawa jahat seperti seorang monster yang haus darah.
"Hei, mengapa kau tidak menggunakan bazooka saja? Bukankah lebih mudah untuk melawan mereka."
Ucapan Kurt barusan membuat Artemis sedikit kesal, "Kau pikir menggunakan senjata seperti itu mudah!? Aku hanya bisa menembakkan 4 peluru bazooka saja karena kapasitas manaku yang sedikit tapi dengan senapan mesin aku dapat memaksimalkan seranganku tanpa takut kehabisan mana."
Kurt mengangguk, "Terserah kau saja dan aku akan ikut membantumu."
Kurt memotong tiga senar gitarnya lalu senar-senar gitarnya tersebut segera melesat ke arah para bandit.
Masing-masing senar gitar tersebut melilit leher bandit-bandit tersebut lalu seketika para bandit tersebut tewas kehabisan napas karena tercekik.
Kurt mengulang hal tadi, namun pada saat bersamaan ia juga memetik sisa senar gitarnya lalu muncul not-not balok. Not-not balok tersebut segera menyerang para bandit.
"Sepertinya kau memiliki skill yang cukup unik." Artemis mendekat pada Kurt lalu menembak para bandit tersebut sambil menjadikan tubuh Kurt sebagai tameng.
Sementara itu, Aslan, Yura dan Viona sudah menerobos masuk ke dalam kastil. Viona meminta Aslan dan Yura untuk pergi mencari para tahanan yang sedang di tahan.
"Berhati-hatilah! Aku akan mencari pemimpinnya."
"Yura tidak setuju, akan sangat berbahaya jika kau melawannya sendirian. Yura akan membantumu melawan pemimpin itu."
"kau tidak perlu takut, Yura. Aku akan menahannya sampai kalian selesai menyelamatkan para tahanan dan kita berlima akan melawannya."
"Apa kau yakin Artemis dan Kurt akan selesai dengan cepat?" Aslan meragukan Viona.
"Tentu aku sangat yakin, bahkan mereka akan lebih cepat selesai daripada kalian. Ah sudahlah, aku akan memberitahu kalian lokasinya saat aku menemukan pemimpin bandit itu."
Setelah berkata seperti itu Viona pun segera menghilang, Aslan segera mengajak Yura untuk mencari keberadaan para tahanan tersebut.
Beberapa menit mencari akhirnya Aslan dan Yura berhasil menemukan lokasi para tahanan, ternyata di sana dijaga ketat oleh 10 orang bandit.
"Yura, aku akan mengalihkan perhatian mereka, kau selamatkan para tahanan!"
"Penyusup...!!!" Kesepuluh bandit tersebut segera menghunuskan senjata mereka pada Aslan.
Tanpa berkata-kata lagi, Aslan segera lari menjauh dari penjara tersebut lalu di ikuti oleh sepuluh bandit tersebut. Saat berlari Aslan sempat mengirim pesan pada Yura untuk membawa para tahanan ke tempat yang aman.
Setelah merasa sudah cukup jauh dari penjara, Aslan menghentikan langkahnya. Aslan berbalik dan ternyata kesepuluh bandit tersebut sudah berada di dekatnya.
Pedang Aslan segera terlapisi skill [Toxic Sword] lalu ia menghunuskan pedangnya pada sepuluh bandit tersebut.
Aslan segera melesat ke salah satu bandit tersebut lalu membuat sebuah goresan pada bandit tersebut. Bandit tersebut sangat terkejut saat tahu pedang Aslan dilapisi racun.
Melihat lawannya lengah Aslan segera memberikan tebasan lagi namun tebasan tersebut ditahan oleh salah satu bandit lainnya.
Bandit yang sudah terkena racun tersebut ingin memberitahu temannya tentang pedang Aslan namun Aslan segera menendangnya membuat bandit tersebut tidak jadi bicara.
Sebilah pedang menusuk perut Aslan, Aslan ingin melepaskan pedang tersebut namun bandit lainnya menghantamkan sebuah gada pada Aslan.
Aslan berdecak kesal namun tiba-tiba kesepuluh bandit tersebut jatuh tak bernyawa, Aslan melirik ke sekitar dan ternyata sudah ada Artemis dan Kurt di sana.
"Maaf, Aslan. Aku menembak semua bandit milikmu, hehe." Artemis tersenyum sambil menggaruk kepalanya.
"Tidak apa-apa. Ah, kalian ternyata sudah selesai menghabisi para bandit itu."
"Benar, aku dan Kurt akan langsung pergi membantu Viona, kau akan ikut kami?"
"Maaf, tapi aku harus pergi menemui Yura dahulu baru aku pergi ke sana."
Artemis dan Kurt mengangguk lalu mereka pergi ke tempat yang telah diberitahu Viona sebelumnya.
Aslan segera pergi kembali ke penjara untuk mencari Yura.
Sesampainya di sana, Aslan tidak menemukan siapa pun. Ia berpikir bahwa Yura sudah membawa semuanya ke tempat yang aman.
Baru saja Aslan ingin mengirim pesan pada Yura untuk memberitahu posisinya namun Yura sudah datang sambil terengah-engah.
"Apakah kau sudah membawa para tahanan itu ke tempat yang aman?"
"Yura sudah membawa mereka tapi dari yang mereka katakan masih ada satu tahanan lagi yang berada di penjara bawah tanah."
Mereka pun segera pergi mencari penjara bawah tanah, beberapa saat kemudian akhirnya mereka dapat menemukan penjara bawah tanah tersebut.
Di penjara tersebut mereka hanya melihat seorang gadis elf yang berusia sekitar 18 tahun. Aslan ingat bahwa gadis tersebut adalah gadis yang dilihatnya saat ingin menyerang kastil ini.
Aslan segera membuka gembok penjara tersebut lalu mendekati gadis tersebut. Gadis tersebut langsung memeluk Aslan dan menangis di pelukannya.
"Hiks...hiks...aku takut sekali!"
Aslan segera membalas pelukan tersebut lalu mengelus kepala gadis tersebut. Yura melihat hal tersebut mengerutkan dahi lalu segera menarik Aslan dari pelukan gadis tersebut.
"Mengapa kau langsung tahu jika kami adalah orang yang akan menyelamatkanmu?"
"Karena kau!?" Gadis tersebut sedikit kesal karena Yura mengganggunya saat sedang berpelukan.
"Mengapa Yura?" Yura menunjuk dirinya sendiri.
Gadis tersebut menghela napas, "Sudah jelas bukan jika ini adalah markas para bandit dan di sini tidak ada seorang gadis kecuali para tahanan sehingga aku bisa menebak jika kalian adalah orang baik."
"Sudahlah. Oh ya, siapa namamu?"
"Namaku Violet, kau bisa memanggilku Vio."
Aslan mengangguk, "Namaku Aslan. Baiklah, sekarang kita harus pergi."
Aslan segera menggendong Violet lalu mereka segera pergi dari penjara bawah tanah tersebut.