The Power Of Single MoM

The Power Of Single MoM
Jarak



Sejak hari itu, Rhea tidak lagi bekerja di rumah Pak Kades. Ia merasa sangat terluka oleh ucapan Pak Kades yang sangat merendahkan harga dirinya sebagai seorang wanita. Meskipun ia hanya seorang janda beranak satu, tak pernah sekalipun ia berniat untuk memiliki Dika dan membuat keluarga Pak Kades malu karena kehadirannya.


Rhea menatap malaikat kecilnya yang sedang tertidur pulas. Wajah tak berdosa itu begitu lugu dan tulus memanggilnya mommy. Ia bahkan tak pernah sekalipun menghakimi Rhea karena kesalahannya di masa lalu atau menyudutkannya karena statusnya yang sekarang. Bocah itu begitu saja memeluk Rhea dengan hangat meski ia ditinggalkan seharian bersama Mbok Tun atau tetangga lain yang bersedia merawatnya sampai Rhea pulang. Lagi-lagi ia merasa sangat berdosa telah menjadi ibu yang buruk untuk Albi.


Rhea membelai lembut wajah dan kepala putranya, ia berjanji akan menjadi lebih kuat hari itu. Ia tak perlu merasa berkecil hati tanpa Dika, toh selama ini sudah melalui banyak hal seorang diri. Tidak akan terlalu sulit baginya untuk bertahan lebih lama lagi demi Albi. Tidak ada hal lain yang mengganggunya kecuali sedikit rasa khawatir bahwa sudah tiba waktunya ia harus merelakan perasaannya yang mulai bergetar dan bersemangat karena keberadaan Dika, untuk selamanya. Namun ia sudah pernah mengalami yang jauh lebih menyakitkan sebelumnya, jadi patah hati sekecil itu tentu bukan hal yang berarti lagi bagi Rhea. Yah, dia harus bisa bangkit sekali lagi!


***


Sejak berhenti bekerja di rumah Pak Kades, Rhea jadi lebih fokus dengan usaha konveksinya. Ia menghabiskan waktu untuk memotong, menjahit dan menjual pakaian-pakaian yang dibuatnya bersama ibu-ibu kampung. Tak jarang ia menghabiskan siang harinya di balai desa untuk mengunggah dan menjual foto-foto produk bajunya di akun sosial media dan marketplace miliknya. Meskipun kali ini Rhea jadi lebih kerepotan karena hanya mengandalkan smartphone lamanya, untuk mengelolah toko onlinenya, Rhea tak merasa putus asa karena pesanan yang didapatkannya kian bertambah dari hari ke hari. Rhea tak lagi merasa terbebani karena harus meminjam leptop milik Dika. Ia sudah bisa selangkah menjauh dari Dika.


Meskipun banyak warga yang mencibirnya karena dianggap kurang kerjaan dan hanya main handphone di pelataran balai desa, Rhea tidak peduli, selagi ia bisa mempertahankan usaha yang dirintisnya dan tidak merugikan siapapun.


"Mbak Rhea!" Salah seorang ibu yang bekerja di rumahnya datang tergopoh-gopoh dengan mengendarai sepeda angin. "Albi, Mbak. Albi."


"Albi kenapa, Bu Sum?"


"Albi jatuh dari tangga, kakinya sobek."


Rhea bergegas pulang dengan membonceng Bu Sum. Ia mengayuh sepeda Bu Sum sekuat tenaga agar bisa segera melihat keadaan putranya.


Ketika sampai, Albi tengah menangis kesakitan. Kakinya sudah dibalut dengan kain, tapi darah segar terlihat masih merembes di kain balutan tersebut. Tak lama setelah Rhea tiba, Dika juga baru pulang mengajar.


Melihat kondisi Albi yang terus menangis, Dika mengambil inisiatif untuk segera menggendong Albi dan membawanya ke puskesmas. Tapi Rhea menghentikannya. Ia merebut tubuh Albi dari gendongan Dika lalu bergegas membawanya sendiri ke puskesmas dengan sepeda Bu Sum.


Dika cukup bingung dengan sikap Rhea yang tidak seperti biasanya, apalagi dalam keadaan darurat yang menyangkut kesehatan dan keselamatan putranya seperti itu. Karena merasa khawatir dengan keadaan Albi, Dika memutuskan untuk mengikuti Rhea ke puskesmas.


***


Setelah memeriksa kondisi Albi, mantri yang bertugas di puskesman memutuskan untuk menjahit luka sobek di kaki Albi untuk menghentikan pendarahan dan mencegah infeksi. Rhea hanya bisa pasrah agar putranya mendapatkan penanganan terbaik.


"Rhe, gimana kondisi Albi?"


"Mas Dika ngapain kesini?"


"Loh, kok ngapain. Saya khawatirlah sama Albi."


Tak ingin pembicaraannya dengan Dika menimbulkan prasangka dan fitnah lagi, Rhea mengajak Dika keluar dari ruangan dan melanjutkan pembicaraan mereka di teras puskesmas yang ramai dengan lalu lalang orang.


"Mas, saya mohon sama Mas Dika, mulai sekarang, jangan ganggu saya dan Albi lagi. Mas Dika cukup berpura-pura tidak melihat dan mendengar keberadaan saya dan Albi. Itu saja."


"Rhe, jujur sama saya. Sebenarnya ada apa? Apa benar kamu berhenti kerja di rumah saya karena capek mengurus konveksi kamu? Atau ada hubungannya sama permintaan kamu barusan?"


Rhea baru tahu bahwa Pak Kades berbohong soal alasan Rhea berhenti bekerja di rumahnya. Itu artinya dia tidak ingin Dika tahu bahwa dia telah menghina dan mengancam Rhea. Baiklah, Rhea akan ikuti skenarionya. Itu bukan hal sulit bagi seorang mantan artis seperti Rhea.


"Jadi kamu lebih memilih untuk berbohong?"


"Loh, kok bohong sih?!" Rhea ragu apakah kemampuan actingnya turun sedrastis itu sampai untuk berpura-pura meyakinkan Dika saja ia gagal.


Dika tidak lagi mau mendengarkan penjelasan Rhea. Ia masuk ke dalam ruangan dokter sebentar lalu pergi tanpa pamit kepada Rhea. Rhea merasa senang akhirnya Dika mau menuruti kemauannya. Ternyata tak serumit yang dibayangkan, mungkin karena mereka memang tak memiliki keterikatan apapun jadi tidak sulit untuk saling mengabaikan satu sama lain.


Rhea kembali masuk ke ruangan dokter dan Albi sudah selesai menjalani perawatan. Ia senang karena Albi tidak lagi menangis kesakitan seperti tadi.


"Terima kasih ya, Dok."


"Sama-sama, Bu."


"Berapa biaya perawatannya, Dok?" Rhea harus mempertanyakan itu karena ia tidak memiliki asuransi jaminan kesehatan apapun.


"Sudah lunas, Bu. Tadi Mas Dika sudah urus semuanya.


"Apa? Dika?"


Dokter mengangguk yakin, "Albi juga sudah boleh dibawa pulang, kalau begitu saya permisi dulu, Bu."


Rhea tidak mengerti kenapa Dika masih saja melakukan hal seperti itu. Apa Dika belum tahu bahwa ia sudah memiliki cukup banyak uang sekarang. Ia merasa sedikit tersinggung karena masih dianggap Rhea yang tidak memiliki apapun sampai rela jadi pembantu di rumahnya.


"Sayang, kita pulang yuk! Biar mommy gendong ya?"


Albi menolak, "Ngga mau mommy, Albi mau tunggu Om Dika."


"Lah, kenapa nunggu Om Dika? Kan ada mommy?"


Albi menggeleng, "Albi ngga mau pulang sama mommy, pantat Albi sakit naik cepeda."


"Maaf ya sayang, tadi Mommy buru-buru bawa sepedanya. jadi ngga lihat kalau ada batu-batu kecil di jalan. Tapi mommy janji, nanti mommy bawa sepedanya bakal lebih hati-hati supaya pantat Albi ngga sakit."


"Ngga mau, mommy. Albi sudah janji mau nunggu Om Dika."


"Tapi kan Om Dikanya sudah pulang, sayang?"


Albi mengangguk, "Om Dika pulang buat ambil motol buat jemput Albi."


Tak lama kemudian, Dika datang dengan motornya. Rhea hanya bisa pasrah mengayuh sepedanya seorang diri sambil melihat punggung Dika yang membawa Albi pulang lebih dulu dengan motornya.