The Power Of Single MoM

The Power Of Single MoM
Duet Maut



Hari itu, Dika dan Rhea mengajak Albi menghadiri acara peresmian rumah sakit baru yang didirikan Candra. Banyak pejabat dan orang terkenal yang turut menghadiri acara peresmian tersebut, diantaranya Ragil, Leo dan Sarah yang menjadi lawan main Rhea dalam film Dara serta Om Jo, produser yang pernah mengorbitkan Rhea dan mempopulerkan film Dara.


Rhea senang bisa bertemu teman-teman lamanya tanpa beban. Meskipun sudah melalui banyak hal toh ia berhasil mengatasi semuanya dan mengembalikan nama baik yang selalu menjadi kebanggaannya.


Candra senang melihat Rhea tidak lagi merasa takut dan khawatir bertemu dengan orang-orang dari masa lalunya. Di kejauhan, ia melihat tamu yang juga diundangnya secara khusus.


Candra menyambut hangat kedatangan Bian yang akhir-akhir ini menetap di Makassar untuk memulai bisnis barunya di bidang kuliner dengan membuka kafe baru yang kabarnya mulai rame setelah dipromosikan oleh Candra kepada kolega-koleganya.


"Selamat ya Pak Candra. Semoga rumah sakitnya rame."


"Amin. Kafe baru kamu gimana?"


"Yah, lumayan lah sudah mulai banyak yang kenal."


"Oh, ya. Ada yang ingin ketemu sama kamu."


Candra mengajak Bian ke sebuah ruangan khusus. Ruang perawatan kelas VVIP yang sangat nyaman layaknya hotel.


"Tania?!" Bian tidak menyangka akan bertemu mantan istrinya disana.


Tania yang menyadari kehadiran Bian segera berhambur memeluk erat Bian.


"Kenapa kamu lama sekali? Kata Candra kamu akan segera datang menjemputku."


Bian menatap Candra tidak mengerti. Sementara Candra dengan tenang mengedipkan mata seolah memberi kode agar Bian bersikap wajar dan mendukung kebohongannya. Ia lalu meninggalkan kedua tamu istimewanya itu.


Ketika hendak kembali ke aula, Candra bertemu dengan Rhea yang terlihat sedang mencari seseorang.


"Rhe!"


"Cand, apa kamu melihat Bian?"


"Sepertinya kamu juga sangat merindukannya."


"Jangan gila! Aku hanya ingin memastikan bahwa ia baik-baik saja."


"Untuk apa? Apa kau istrinya sehingga merasa berkewajiban untuk memastikan keadaannya? Ah, atau kau merasa sangat bersalah karena sudah merusak kehidupannya?"


Rhea membuang nafas kasar. Malas berdebat dengan Candra, ia memilih kembali ke tempatnya bersama Dika. Tapi Candra dengan gesit meraih tangannya dan menahannya. Ia kemudian menarik tangan Rhea, mengajaknya mengintip dari pintu ruangan Tania dirawat.


"Kenapa Tania ada disana?"


"Apa kau lupa? Aku sudah pernah memberitahumu bahwa Tania dulu adalah pasienku. Dan kau membuatnya kembali kesini, jadi sebagai mantan suamimu, aku juga harus bertanggung jawab atas itu."


"Kau adalah dokter yang bertanggung jawab atas pasiennya. Jadi jangan bawa-bawa aku dalam pekerjaanmu!"


"Apa kau pikir tidak akan lebih mudah bagiku jika aku membiarkan dia dirawat dokter lain di tempat lain?"


Rhea tampak berfikir sejenak. Candra ada benarnya. Rhea kemudian menghentikan langkahnya dan menoleh kepada Candra yang sedari tadi berjalan membelakanginya.


"Kenapa kau masih saja suka berjalan di belakangku?"


"Karena aku suka melihat punggungmu yang tegap saat berjalan penuh percaya diri di atas kakimu sendiri. Aku tidak perlu melihat apakah wajahmu tersenyum atau menangis. Aku hanya perlu menangkapmu saat kakimu mulai lemah dan tidak sanggup lagi berdiri."


"Lalu apa aku harus selalu menoleh ke belakang untuk melihatmu?" Protes Rhea kesal


Candra tersenyum penuh kharisma lalu menggeleng, "Kau tidak perlu melihatku karena ada cctv yang sudah menunggumu disana."


Candra berjalan melewati Rhea tanpa menoleh. Sementara Dika di ujung sana merasa lega karena akhirnya bisa menemukan istrinya yang tiba-tiba saja menghilang.


"Sekarang aku tahu darimana Albi mendapatkan suara emasnya." Gumam Dika menyaksikan duet maut di hadapannya.


"Bagaimanapun juga, kau orang adalah orang pertama yang menemukan dan mengasah emas itu hingga berkilauan."


Rhea merapatkan tubuhnya kepada Dika dan melingkarkan tangannya ke pinggang Dika. Dika kemudian melingkarkan tangannya di bahu Rhea sembari mengecup lembut dahi wanita yang kini menjadi istrinya itu.


Penampilan Candra bersama Albi menuai banyak pujian. Dan tak sedikit dari tamu yang hadir juga mengatakan bahwa keduanya sangat mirip layaknya ayah dan anak. Entah kenapa mendengar pujian seperti itu saja sudah membuah Candra merasa sangat senang melebihi rasa senangnya ketika mendapat pujian atas kinerjanya dari seorang presiden.


Karena Albi sudah merasa bosan dan kelelahan, mereka akhirnya berpamitan.


"Cand, bagaimanapun juga, terima kasih buat semuanya." Dika menjabat tangan Candra.


"Ngga perlu berterima kasih, Dik. Aku melakukan semua ini untuk memperbaiki semua kesalahanku di masa lalu."


Wajah Rhea tiba-tiba saja berubah dan Candra langsung menyadarinya.


"Tenanglah, Rhe. Kau tahu aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan membuatmu menderita dengan merebut Albi darimu." Candra berbicara dengan nada bercanda.


"Kalau begitu, apa yang kau inginkan sebenarnya?"


"Well, yah, sebenarnya awalnya, karena kau sudah menikahi orang lain, aku ingin kita bisa rujuk kembali dan membesarkan Albi bersama-sama."


Rhea kembali melotot dan lagi-lagi Candra cepat tanggap dengan setiap reaksi Rhea seolah ia hafal betul tabiat wanita di hadapannya itu.


"Tenang, Rhe! Dika juga sudah tahu soal itu." Candra kembali nyengir.


"Apa?!" Mata Rhea semakin membulat


"Sabar, sayang! Aku belum selesai bicara. Itu memang tujuan awalku. Tapi setelah melihat kalian dan melihat Albi tumbuh dengan baik dan bahagia. Aku rasa aku tidak punya alasan untuk kembali."


"Jadi, katakan apa yang kau inginkan sebenarnya!"


Candra menghela nafas panjang kemudian kembali tersenyum, "Aku hanya ingin Albi tahu bahwa aku adalah ayah kandungnya. Tidak perlu terburu-buru. Aku akan menunggu sampai waktu itu datang. Aku tidak akan melakukan apapun tanpa seijin kalian. Aku hanya ingin dia tahu kebenarannya, jika kalian ijinkan."


Dika menepuk pundak Candra seolah paham betul bagaimana perasaan pria itu, "Aku akan memberitahunya. Cepat atau lambat dia akan tau kebenarannya."


Candra memeluk tubuh Dika dengan luwesnya seolah mereka sahabat lama yang tidak memiliki permasalahan apapun.


"Oh ya, aku lupa mengembalikan ini."


Candra menyerahkan sebuah testpack bergaris merah dua yang jatuh dari tas Rhea tadi.


"Apa ini?"


"Maaf tadi aku tidak sempat memberitahumu karena kita buru-buru kesini." Rhea menyerahkan testpacknya kepada Dika


Sontak Dika langsung memeluk dan menciumi Rhea saking senangnya. Ia tidak menyangka akan sesenang itu mengetahui bahwa Rhea akhirnya mengandung darah dagingnya.


"Selamat ya, Rhea, Dika."


"Thanks Cand!" Rhea tersenyum manis.


"Sekarang kamu tahu kan, Rhe? Kadang berjalan di belakang lebih banyak manfaatnya. Salah satunya aku jadi bisa menemukan benda yang jatuh dari tasmu."


Merekapun tertawa mendengar candaan garing Candra.