
Rhea dan Dika mengikuti semua kasusnya dengan baik dan mereka yakin bahwa kesaksian dan bukti yang mereka berikan sebagai orang tua yang layak bagi Albi sudah sangat lengkap dan menguatkan.
Sidang dibuat tertutup dan entah bagaimana Tania bermain sangat rapi sampai tidak ada seorang wartawanpun yang mendengar tentang perselisihan Bian dan Rhea di pengadilan.
Untuk saat itu, Rhea merasa bahwa hal itu juga cukup menguntungkannya. Ia sedang ingin fokus pada persidangan dan tidak ingin diganggu oleh pemberitaan yang macam-macam.
Pada sidang pertama, Bian mengaku menyesalin perbuatannya dan sangat menyayangkan kondisi Rhea yang dianggap kurang mumpuni untuk mencukupi kebutuhan hidup Albi. Ia juga mengatakan bahwa sebagai ayah kandung Albi, ia ingin diberi kesempatan untuk menebus kesalahannya dengan mengasuh Albi lebih baik daripada Rhea.
Rhea menolak semua pernyataan Bian dan tetap bersikeras bahwa ia sudah dicampakkan sejak hamil. Ia juga mengatakan bahwa Bian tidak pernah bertanggung jawab dan sama sekali tidak berhak atas Albi. Rhea dengan penuh emosi menceritakan bagaimana ia bersusah payah merawat dan membesarkan Albi seorang diri.
Tapi kemudian Bian menyangkal disebut mencampakkan dan tidak bertanggung jawab. Ia kemudian menyerahkan buku tabungan Rhea yang menerima transferan dana darinya selama beberapa tahun.
Rhea tidak menyangka bahwa buku tabungan yang dikembalikannya kepada Bian waktu itu bisa menjadi boomerang untuknya. Bajingan itu ternyata tidak hanya kejam tapi juga licik, sama seperti ayah dan istrinya.
Rhea bersikeras bahwa ia tidak pernah menggunakan sepeserpun uang dari Bian. Ia juga menambahkan bahwa mereka putus kontak sejak isu tentang kehamilan Rhea mencuat ke media. Ia juga menceritakan bahwa keluarga Bian mengusir dan membuangnya ke jalanan ketika ia datang dan meminta pertanggung jawaban ke rumah mereka.
Ternyata Bian justru memutarbalikkan pernyataan Rhea itu dan mengatakan bukan salahnya jika Rhea memilih jalan yang sulit padahal ia sudah memfasilitasi kemudahan untuknya.
Bian justru menuduh bahwa Rhea mengalami kesulitan ekonomi yang membuat Albi jadi hidup dalam kesusahan dan keterbatasan sehingga dianggap tidak ideal untuk membesarkan Albi. Rhea dituduk egois dan tidak bijak dalam membuat keputusan hingga membuat hidupnya dan anaknya jadi sulit.
Rhea merasa posisinya tersudut jadi ia ingin diberi kesempatan untuk mengahadirkan saksi bahwa ia bisa dan mampu merawat dan membesarkan Albi dengan baik. Ia ingin mematahkan semua tuduhan yang dilayangkan Bian kepadanya.
Hakim menerima permintaan Rhea dan menunda sidang hingga dua minggu berikutnya dengan agenda mendengarkan keterangan saksi.
***
Dua minggu berlalu dan sidang kembali digelar. Rhea menghadirkan Tata dan Dika untuk menguatkan keterangannya.
Tapi ternyata Bian dan Tania tak mau kalah. Mereka mendatangkan Bu Imron, juragan lele yang dulu mencuci dan setrikakan pakaiannya kepada Rhea. Entah apa yang sudah dijanjikan Tania, tapi Bu Imron dengan sangat meyakinkan mengatakan bahwa Rhea sangat kesulitan dari segi ekonomi sampai rela bekerja sebagai tukang cuci untuknya.
Wanita gemuk berkulit putih itu juga menceritakan bahwa Rhea sering meninggalkan dan menitipkan anaknya ke tetangga-tetangganya jika ia pergi ke kota. Bu Imron juga dengan santainya mengatakan bahwa Rhea sangat kesulitan dalam merawat Albi karena terlalu berat merintis usaha konveksinya dan bahwa Rhea lebih mengutamakan pekerjaan daripada anaknya.
Rhea tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Meskipun Dika dan Tata sangat membantu dengan keterangan dan kesaksian mereka, tapi langkah yang diambil Bian dan Tania cukup mengkhawatirkan bagi Rhea.
Merasa tidak puas belum bisa mengalahkan Rhea secara telak, Tania mempergunakan sebuah catatan medis milik Rhea sebagai bukti bahwa Rhea tidak layak untuk mengasuh Albi.
Rhea memang pernah memiliki hasil pemeriksaan yang menyatakan bahwa ia mengalami kecemasan berlebih yang mengarah pada depresi. Itu dulu ketika ia pertama kali mengetahui bahwa ia hamil dan beberapa waktu lalu ketika Rhea pertama kalinya bertemu Bian kembali di kantor Star Ray.
Tapi rekam medis itu kini dipergunakan sebagai bukti untuk menyudutkan Rhea dan menguatkan pernyataan bahwa Rhea tidak layak mendapatkan hak asuh.
"Ini adalah pelanggaran hukum serius. Anda mempergunakan catatan kesehatan, dokumen pribadi dan rahasia milik orang lain sebagai bukti tanpa ijin dan sepengetahuan pemiliknya dan tim medis yang menangani. Saya akan membuat kasus ini kembali mempertamukan kita di meja hijau." Ancam Rhea geram
"Maaf, Pak Hakim, tapi kami mendapatkan informasi ini dari dokter yang menangani saudari Rhea. Pak Hakim bisa mengecek keabsahannya sebagai bukti yang menguatkan." Balas Bian
***
Setelah melalui proses bermediasa yang panjang dan melelahkan yang tidak juga menghasilkan kesepakatan, pengadilan akhirnya merangkum bahwa Bian dan Tania karena dianggap lebih mampu secara moral dan materiil untuk merawat dan membesarkan Albi dengan baik.
Sementara Rhea dinilai kurang layak karena sejak kecil mengasuh Albi dengan penuh kekurangan dan kesulitan secara ekonomi. Ditambah lagi fakta bahwa Rhea memiliki masalah psikologis yang bisa mengganggu perkembangan sang anak.
Tania sangat senang mendengar keputusan hakim. Ia merasa usahanya untuk menyuap hakim itu tidak sia-sia.
“Namun, meskipun demikian, sebagaimana tertuang dalam pasal 105 Kompilasi Hukum Islam (KHI) pemeliharaan anak yang berumur di bawah 12 tahun merupakan hak ibunya, yang dalam hal ini adalah Ibu Rhea Anabarja.”
“Apa?! Tidak mungkin. Pak Hakim, anda pasti salah! Ini tidak mungkin!” Tania sama sekali tidak menduga bahwa Hakim akan mengambil keputusan gegabah seperti itu.
Hakim meninggalkan ruang sidang meskipun Tania beraung-raung tidak terima dengan keputusan hakim.
***
Dengan penuh emosi Tania mendatangi kediaman pribadi hakim yang mengalahkannya di pengadilan.
“Bisa Anda jelaskan kenapa Anda membuat saya kalah padahal Anda sudah menerima banyak dari saya?”
Hakim itupun mengembalikan tas berisi uang yang diberikan orang suruhan Tania kepadanya.
“Maaf, Bu. Saya tidak bisa mempertaruhkan Jabatan dan nama baik saya demi uang ini.”
“Tapi kenapa? Bukankah saya sudah pastikan bahwa semuanya akan aman dan baik-baik saja?”
Hakim itupun menyerahkan sebuah foto yang diberikan Dika kepadanya tepat sebelum agenda mendengarkan keputusan hakim pengadilan siang tadi.
“Apa?! Darimana anda mendapatkan foto ini?”
Tania memegang sebuah foto yang menunjukkan Hakim itu tengah duduk dengan seorang pria lengkap dengan sebuah tas di atas meja di hadapan mereka.
“Bagaimanapun juga, foto ini tidak bisa membuktikan apapun.”
“Tidak jika pria itu tidak berhasil meretas pembicaraan kita di telepon.”
“Apa?” Tania tidak percaya dengan apa yang dikatakan Hakim itu.
“Sepertinya Anda tidak menyadari bahwa selama ini seseorang memasang penyadap di ponsel anda.”
Tania kemudian memeriksa ponselnya.
“Sial!”