The Power Of Single MoM

The Power Of Single MoM
Istimewa



Beberapa hari sebelum bertemu Albi di studio, Tania pernah bertemu Albi dan ibunya di kantor Bian.


Hari itu, Tania berniat menemui suaminya untuk membicarakan sesuatu. Tapi ketika melintasi ruangan Ragil, ia mendengar Ragil sedang membicarakan soal rumah dengan dua orang wanita.


"Ini adalah kesepatan langka. Albi beruntung karena menjadi satu-satunya artis yang paling diistimewakan di Star Ray. Belum pernah dalam sejarah Star Ray memberikan mobil dan rumah mewah sebagai fasilitas kepada artisnya. Bahkan untuk diva sekelas Angela." Tania mendengar suara Ragil dari dalam ruangan.


"Dengan Om Ragil. Saya tidak butuh fasilitas apapun dari Star Ray. Saya hanya ingin anak saya segera keluar dari PH ini." Jawab salah seorang wanita dengan nada kesal


"Bu, coba pikirkan lagi!"


"Om Agil, kami sudah menyampaikan apa yang ingin kami sampaikan. Jadi kami permisi dulu." Kata salah seorang wanita yang lain.


Tak lama kemudian Rhea Anabarja, seorang artis yang dulu pernah terkenal keluar dari ruangan Ragil diikuti seorang wanita yang ia tahu adalah manajer artis cilik bernama Albi.


Karena penasaran, Tania memutuskan untuk masuk ke ruangan Ragil dan mencari tahu duduk persoalan sebenarnya.


"Apa maksudnya Star Ray akan memberikan mobil dan rumah mewah sebagai fasilitas untuk seorang artis pendatang baru seperti Albi?"


"Oh, maaf Bu. Itu...... "


"Katakan! Atau perlu aku cari tahu sendiri?"


Ragil jadi bingung. Di satu sisi Bos laki-lakinya melarangnya memberi tahu siapapun soal rumah dan mobil itu tapi di sisi lain Bos wanitanya terus mendesaknya untuk jujur.


"Jadi, Pak Bian ingin memberikan mobil dan rumah mewah sebagai fasilitas untuk Albi."


"Sejak kapan Star Ray punya kemurahan hati seperti itu?"


"Maaf, Bu. Sebenarnya, itu bukan uang perusahaan."


"Apa?"


Tania bergegas menghampiri Bian di ruangannya.


"Tania?"


"Bisa jelaskan soal mobil dan rumah yang kamu berikan untuk penyanyi cilik itu? Apa istimewanya dia sampai kamu rela mengeluarkan uang pribadi untuk memberi mereka mobil dan tempat tinggal mewah?"


"Sial! Kenapa Ragil semakin tidak bisa dipercaya?" Gumam Bian dalam hati.


"Sayang," Bian mendekati Tania untuk menenangkan istrinya yang sedang tersulut amarah itu. "Kita tahu bagaimana Albi banyak membantu perusahaan kita belakangan ini. Papa kamu juga sepakat soal itu. Beliau bangga dengan keputusanku merekrut Albi. Jadi wajar jika -"


"Lalu kenapa hanya dia? Dia bukan satu-satunya artis yang bernaung di bawah Star Ray. Kenapa hanya Albi yang mendapat perlakuan istimewa dari kamu? Tidak hanya soal mobil dan rumah, kamu selalu memprioritaskan jadwal rekaman, konser dan peluncuran single baru Albi. Kamu bahkan selalu menyempatkan diri untuk hadir di setiap penampilan Albi. Padahal sebelum-sebelumnya, kamu sama sekali tidak peduli dan tidak tertarik dengan kegiatan artis-artis kamu."


"Itu hanya perasaan kamu saja. Saya tidak mengistimewakan Albi sama sekali."


"Stop, Bi! Aku ngga bodoh. Katakan dengan jujur atau aku akan mencari tahu sendiri dengan caraku!"


Bian tahu persis cara apa yang dimaksud oleh istrinya dan ia tidak ingin mengambil resiko. Toh cepat atau lambat Tania akan tahu semuanya.


"Oke. Sebelumnya aku minta maaf sama kamu. Sebenarnya, Albi adalah anak kandung aku. Delapan tahun lalu, akulah pria brengsek yang menghamili artis muda bernama Rhea Anabarja, ibunya Albi."


"Ngga! Ngga mungkin."


"Kamu jahat Bi! Kenapa baru sekarang kamu mengatakan soal itu?" Tania lalu pergi meninggalkan ruangan Bian dengan membawa luka hati yang sangat perih.


Ia tidak menyangka bahwa pria yang dinikahinya adalah bajingan yang sudah menghamili gadis lain. Yang lebih menyakitkan lagi adalah fakta bahwa memang dirinyalah yang mandul karena kenyataannya Bian bisa memiliki seorang anak dari Rhea.


Tania merasa bahwa semuanya tidak adil baginya. Bagaimana mungkin seorang Rhea bisa memiliki anak dari Bian, hal yang selama ini sangat diidamkannya selama ini. Tiba-tiba saja ia membenci Rhea.


Bruk!


Tania terjatuh karena kakinya tersandung batu di dekat tempat parkir.


Seorang anak kecil menghampiri dan membantu memungut tasnya yang tergeletak di lantai.


"Tante ngga papa?"


"Ah, iya, Tante ngga papa." Tania segera mengambil tas miliknya yang disodorkan Albi kepadanya.


"Terima kasih, ya."


"Eh, tangan tante terluka."


"Ngga sayang, ini cuma kotor karena terkena tanah."


"Tunggu! Biar Albi bantu obatin ya?" Anak itu mengeluarkan sebuah plester bergambar dari saku celananya lalu merekatkan di telapak tangan Tania yang agak memerah karena terkena batu.


"Jadi, nama kamu Albi?"


"Iya tante, saya Albi."


"Albi! Jangan main jauh-jauh, nanti


Tante Tata marah! Seorang wanita mendatangi Albi tergopoh-gopoh lalu membawanya masuk kembali ke kantor Star Ray.


"Iya, Mbak." Bocah itu nurut saja dengan wanita yang dipanggilnya mbak itu.


Sepanjang perjalan, Tania terus saja memikirkan Albi. Ia sangat membenci Rhea dan Bian tapi anak itu terlalu baik dan menggemaskan untuk dibenci. Entah kenapa ia sangat menyukai bocah yang baru pertama kali ditemuinya secara langsung itu.


Bagaimanapun juga, Bian adalah suaminya, ayah kandung dari anak itu. Dan anak itu sangat berguna baginya dan perusahaannya. Karena itu ia memutuskan untuk menerima keberadaan Albi dalam kehidupan Bian, dan berusaha mendekati Albi. Ia berharap suatu saat nanti bisa merebut Albi dari Rhea.


***


Setelah tujuh hari kepergian ayahnya, Rhea kembali ke Jakarta dan menemui Tata dalam keadaan emosi.


"Rhe, iya gue salah. Gue ngga tahu kapan Tania ngedektin Albi dan sampai ngebawa Albi ke rumahnya. Iya gue minta maaf karena gue teledor. Gue lalai ngejaga Albi."


"Sekarang lo tahu kan apa akibat dari kelalaian lo itu, Kak?! Dulu gue udah percayain karir dan hidup gue ke elo, tapi nyatanya semuanya berantakan. Dan sekarang gue juga percayain Albi ke elo, lo juga berantakin hidup anak gue!"


"Rhe, lo boleh bilang gue gak bertanggung jawab karena lalai ngejaga Albi. Gue bisa terima. Tapi apa yang menimpa hidup lo, itu murni kesalahan lo dan Bian. Lo lupa kalau lo diem-diem kabur ke Malaysia? Lo ada bilang sama gue? Lo ada ijin sama gue?! Ngga Rhe! Lo selalu bertindak semau lo sendiri! Gue bahkan harus mati-matian ngeberesin semua masalah yang udah lo perbuat! Lo lupa??!!!!"


Tata tidak bisa lagi mengontrol emosinya jadi ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Rhea sebelum semuanya jadi semakin memburuk.


Rhea menjatuhkan dirinya ke lantai. Ia menyesali semua perbuatannya. Jauh di lubuk hatinya ia sadar betul bahwa semua yang terjadi kepadanya adalah karena kesalahannya sendiri. Saai itu, ia hanya merasa sangat kesal karena Tania dan Bian yang berusaha mendekati Albi dan ingin melampiaskan kekesalannya kepada Tata yang tidak bisa menjaga Albi dengan baik.