The Power Of Single MoM

The Power Of Single MoM
the Winner Takes All



Diana tengah membenahi riasan wajah dan rambutnya ketika Tania tiba-tiba mendorong pintu dengan kasar dan menarik Diana dari depan kaca.


“Dengar calon adik ipar gue yang ngga tahu diri! Gue udah cukup sabar dengan ngebiarin Rio, adik gue satu-satunya nikah sama wanita kampungan kaya elo. Jadi sekarang, sebaiknya lo mau kerjasama sama gue kalau ngga pengen gue hancurin pesta pernikahan lo malam ini.”


“Kakak ngomong apa sih? Saya ngga ngerti maksud kakak.”


Tania tertawa, “Gue lupa kalo lo tu cewek kampung yang bego, jadi wajar kalau lo ngga ngerti-ngerti omongan gue. Denger Diana! Gue udah tahu kalo bokap lo lagi dipenjara gara-gara korupsi. Lo bisa bayangin kan apa jadinya pesta meriah lo ini kalau gue sampai buka mulut dan kasih tahu semua orang tentang latar belakang keluarga lo?”


“Kak, kakak tega banget sih? Rio kan adik kakak sendiri. Masak kakak tega ngelakuin ini sama aku?” Diana mulai menitikkan air mata.


Ia takut Tania akan benar-benar melakukan apa yang diucapkannya.


“Tenang sayang, gue ngga sejahat itu kok. Gue bisa kasih lo kesempatan asal lo mau kerjasama sama gue.”


“Kerjasama apa maksud kakak?”


“Gue udah selidiki semua tentang lo, termasuk fakta bahwa lo pernah tunangan sama Dika, suaminya Rhea. Gue cuma minta bukti, apapun tentang pertunangan lo dan Dika. Dan semua hal yang bisa ngehancurin ****** murahan itu. Hanya ada satu wanita murahan yang gue ijinin bertahan, elo atau Rhea? Lo yang tentuin.”


“Tapi Kak, saya tidak punya bukti apapun dan saya juga tidak tahu banyak soal Rhea. Saya tidak punya hubungan apapun dengan Rhea. Kenapa Kakak terus mengancam saya seperti ini?”


Diana tidak menyangka bahwa kakak iparnya itu sangat menakutkan. Ia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Ia berniat menelepon Rio untuk membantunya menghindar dari kegilaan Tania.


Menyadari bahwa Diana cukup bertele-tele dan tidak bisa diharapkan, Tania langsung merebut ponsel yang sedang digenggam Diana. Ia memeriksa riwayat pesan dan panggilan serta galeri yang ada di dalam ponsel Diana.


Diana berusaha untuk mengambil kembali ponselnya, tapi sia-sia. Tania terus saja menghalangi dan malah mendorong tubuh Diana menjauh. Merasa kesal dengan perlakuan kakak iparnya, Diana kembali bangkit dan menarik gaun Tania. Perkelahian dan adu mulut diantara keduanya tidak bisa dihindari lagi sampai akhirnya Rhea datang dan melerai mereka.


***


Hari itu Rhea melalui kuasa hukumnya resmi mengirimkan dokumen pemutusan kerjasama dengan pihak Star Ray Production. Dan pihak Rhea juga akan membayar kompensasi yang diajukan oleh pihak Star Ray Production.


Tania yang baru mendengar dari Ragil soal pemutusan kontrak sepihak Albi dan kompensasi yang sangat kecil, membuat Diana murka. Ia tidak tahu kenapa Bian melakukan hal sebodoh itu.


Tidak peduli bahwa Rhea adalah wanita yang pernah dihamilinya dan Albi adalah anak kandungnya, tapi apa yang dilakukan Bian sudah sangat katerlaluan dan merugikan perusahaan yang dibangun ayahnya.


Dengan menahan amarah, ia bergegas pulang untuk menemui suaminya yang sedang asyik berenang.


"Apa kau sudah gila?! Kenapa membiarkan Albi pergi begitu saja?! Apa kau tahu bagaimana kondisi perusahaan? Dan berapa banyak kerugian yang akan kita alami dengan kepergian Albi?!"


"Mereka sudah membayar kompensasi, jadi aku tidak punya hak lagi untuk menahan Albi."


"Bagaimana mungkin kau bisa sesantai ini padahal kau baru saja menghancurkan usaha yang dibangun dan dibesarkan orang tuaku?"


"Aku hanya bersikap realistis. Ini adalah bisnis, jadi untung dan rugi adalah hal yang biasa."


"Aku benar-benar sudah muak denganmu! Orang yang tidak bisa menghitung nilai kompensasi tidak pantas bicara bisnis denganku. Oh, atau kau sengaja mengurangi nilai kompensasinya karena wanita ****** itu adalah ibu dari anakmu?!"


"Cukup! Hentikan omong kosong ini!"


"Oh, jadi itu benar?! Aku melakukan kesalahan besar dengan memikahi pecundang bodoh sepertimu! Tidak hanya kehilangan muka dan harga diri, kau juga kehilangan harta dan asetmu sekaligus. Kalau kau tidak mampu menyelesaikan permasalahan seperti ini, biar aku yang mengurusnya."


"Tania, berhenti! Jangan lakukan apapun! Jangan ikut campur urusanku!"


Tania tetap berlalu dan sama sekali tidak menggubris anjing peliharaannya yang terus saja menggonggong.


***


Sementara Rhea lebih banyak di menemani Albi ke sekolah atau sesekali mengajak Albi ikut berbelanja kebutuhan konveksi bersamanya. Albi tampak tetap ceria meskipun tidak lagi sering tampil menyanyi on air dan off air seperti dulu.


Rhea selalu berusaha menghibur Albi dengan segala macam cara. Ia tidak ingin masa kecil Albi meninggalkan memori buruk hanya karena masalah kekanak-kanankan orang tuanya.


Sore itu, Rhea dan Albi baru saja pulang berbelanja. Ketika memarkir mobilnya di depan rumah, Rhea melihat mobil lain sudah menunggunya di depan pagar.


Rupanya Tania yang ingin bertemu dan berbicara dengannya. Albi terlihat senang bertemu kembali dengan teman lamanya itu. Ia langsung menghampiri dan memeluk Tania dengan lugu dan polosnya.


"Tante Tania apa kabar?"


"Tante?!"


Rhea menatap Tania tajam dan sepertinya Tania langsung paham bahwa Rhealah yang melarang Albi memanggilnya mama.


"Tante baik-baik saja, sayang. Albi sendiri apa kabar?"


"Baik, Tante."


"Albi, Mommy mau bicara dulu sama Tante Tania. Albi masuk dulu sama Mbak Neti yah?"


Pengasuh Albi langsung membawa Albi masuk ke dalam rumah. Sementara Rhea mengajak Tania ngobrol di teras.


"Katakan! Ada urusan apa?"


"Tidak bisakah kau bersikap sedikit lebih sopan kepada tamumu?"


"Maaf, Nona tamu. Tapi tuan rumah sedang tidak punya waktu untuk meladeni tamu. Jadi sebaiknya anda kembali lagi lain kali."


"Okay, kita langsung ke intinya. Gue ngga terima lo hancurin Star Ray gitu aja. Lo udah perlakukan Bian secara ngga adil!"


"Adil?!" Rhea tertawa terbahak-bahak.


"Denger Rhe, gue ngga mau lo menang dengan mudah. Karena lo udah ngehancurin perusahaan gue, gue juga mau lo mengalami kehilangan yang sama."


"Lo mau apa?!"


"Gue bakal buat Bian menuntut hak asuh atas Albi. Lo tahu gue punya banyak pion di pengadilan kan?"


"Lo pikir gue bakal takut?! Kalau gue hancur, gue juga bakal pastiin lo dan Bian bakal hancur bareng gue."


"Sepertinya lo masih belum paham siapa gue."


"Elo yang harus tahu siapa gue. Lo lupa kalau suami lo ngga punya hak apapun atas anak gue. Jadi atas dasar apa lo mau nuntut? Dan inget baik-baik! Kalau lo dan Bian nuntut hak asuh atas Albi, semua orang bakal tahu kalau suami lo adalah bajingan yang udah memperkosa dan mencampakkan gue. Lo bisa bayangin apa yang bakal terjadi sama lo dan suami tercinta lo itu?! Ah kalau masih kurang dramatis, gue bisa tambahin ganjaran buat mertua lo yang udah ngusir dan ngebuang gue kayak sampah. Gimana?!" Rhea melempar senyuman penuh kemenangan.


"Ah, soal bukti. Lo ngga usah khawatir. Gue nyimpen semua bukti kebejatan suami lo bertahun-tahun. Gue selalu nunggu-nunggu kapan gue bisa keluarin kartu As gue. Jadi gue seneng banget kalau lo akhirnya mau bantu gue nuntasin semuanya." Imbuh Rhea yakin dan mengintimidasi.


Sekarang giliran Tania yang tidak bisa berkutik. Tapi ia tak pernah mau kalah. Jika orang lain mengalahkannya maka orang itu harus hancur.


"Oke. Kalau gitu kita mulai pertarungannya. The winner takes all."


****