
Beberapa hari kemudian tiba-tiba saja seorang warga net mengunggah sebuah foto tentang Rhea yang mendatangi pengadilan agama bersama Dika. Santer beredar kabar bahwa mereka tengah mengurus perceraian, tapi kemudian isu itu ditepis oleh Tata.
Kekepoan warga net dan para pemburu berita kian menggila. Sampai-sampai mereka mendatangi pengadilan agama secara langsung untuk mencari tahu tentang apa yang dilakukan Rhea disana.
Entah bagaimana informasi tentang perebutan hak asuh Albi akhirnya mencuat ke publik. Banyak yang mempertanyakan tentang siapa yang berniat mengambil hak asuh Albi? Publik kemudian mengait-ngaitkan sosok pria yang mengaku sebagai ayah biologis putra artis Rhea Anabarja tiba-tiba muncul dan mengajukan tuntutan hak asuh atas anak Rhea dengan pria yang menghamili Rhea delapan tahun yang lalu.
Tak bisa dihindari lagi, berita tentang kehamilan Rhea yang sempat menghebohkan jagad hiburan delapan tahun lalu kembali dibahas dan diperbincangkan.
Sebuah akun mengunggah tentang Rhea yang karirnya hancur dan sekarang kembali dengan memanfaatkan putranya yang dipekerjakan pada usia yang masih sangat dini untuk menghidupinya dan suaminya, Dika.
Meskipun isu itu bisa mengalihkan berita tentang skandal kehamilan Rhea, ia tidak bisa diam saja menerima tuduhan atas memaksa Albi bekerja untuk menghidupinya dan Dika. Ia angkat bicara tentang upayanya mati-matian membesarkan dan mendidik Albi. Serta bagaimana bakat dan kemampuan Albilah yang telah membawa putranya masuk ke dunia hiburan.
Ia bersikeras menolak semua tuduhan tentang dirinya yang memanfaatkan anaknya yang masih di bawah umur.
Sadar bahwa dirinya tengah dijebak arus masa, Rhea kemudian membalikkan arus pemberitaan dengan mempertanyakan kenapa hanya dia yang dituduh mempekerjakan anak di bawah umur padahal masih banyak artis cilik di luar sana yang bekerja di dunia hiburan seperti Albi.
Sontak para penggemar Albi dan artis cilik lainnya serta orang tua para artis cilik protes atas tuduhan mempekerjakan anak di bawah umur. Isu tersebut kemudian banyak diangkat dan dibicarakan dalam ranah berita nasional. Kebijakan dunia pendidikan dan pemerintahpun dipertanyakan. Aturan tentang mempekerjakan anak dibawah umurpun ramai dibahas dan dikritisi.
Pertempuran para pemangku kebijakan dan dunia hiburan kian memanas. Subroto sebagai salah satu gubernur di kota yang paling banyak dihuni industri hiburanpun ikut terseret. Peran Tania sebagai aktivis pemerhati perempuan dan anakpun ikut dipertanyakan. Begitu juga dengan Star Ray yang merupakan salah satu pelaku industri hiburan yang tercatat sebagai pengorbit artis cilik paling banyakpun ikut dikritisi.
Kasus kehamilan Rhea jadi tertimbun oleh isu-isu lain yang jadi lebih panas dan santer dibicarakan. Untuk sementara Rhea dan Dika hanya melihat saja semua kekacauan yang mereka picu sambil menunggu reaksi para lawan mereka.
***
Bu Rika, ibu Bian gelisah mendengar berita yang kian menyudutkan suami, anak dan menantunya. Ia tahu ini semua pasti perbuatan Rhea. Sejak awal ia tahu bahwa wanita itu sangat berbahaya dan bisa menghancurkan keluarganya kapan saja. Ia tidak tahan lagi dengan semua pemberitaan yang beredar. Ia memutuskan untuk menghubungi Rhea.
"Assalamualaikum, benar ini Rhea Anabarja?"
"Waalaikumsalam, iya benar. Maaf dengan siapa saya berbicara?"
"Saya Bu Rika, Rhe. Mamanya Bian. Bisa kita bicara?"
"Oh Tante. Ada yang bisa saya bantu, Tan?"
"Rhe, tante tahu ini semua pasti ada hubungannya dengan kamu."
"Maksud tante apa yah? Rhea ngga ngerti deh, Tan."
"Rhe, kamu pasti sengaja menimbulkan berita yang menyudutkan suami dan anak saya kan? Kamu ingin balas dendam kan?"
"Kalau Tante jadi saya, apakah Tante akan diam saja diperlakukan seperti itu. Lebih buruknya lagi, anak kesayangan Tante berusaha merebut anak saya! Bukankah saya sudah pernah memperingatkan Om dan Tante, bahwa saya bisa melakukan apa saja untuk melindungi anak saya. Sama seperti Tante yang mau-maunya merendahkan harga dirinya hanya untuk menghubungi saya demi melindungi putra tante."
Suara Rika terdengar terbata-bata dan tercekat. Tak lama kemudian terdengar suara ponsel yang jatuh membentur lantai atau semacamnya.
"Halo, Tan! Tante!"
***
Rika segera dilarikan ke rumah sakit begitu pembantu rumah tangga mereka menemukannya tergeletak di lantai. Dokter mengatakan bahwa Rika mengalami serangan jantung akibat stres dan depresi tingkat tinggi. Bian semakin kalang kabut.
Belum selesai urusannya dengan media dan publik, sekarang ibunya terkulai lemah di ranjang ICU rumah sakit. Ia sudah menunggu semalaman tapi ibunya tak kunjung sadar. Bian malah mendapat kabar dari Ragil bahwa nilai saham perusahaannya merosot tajam ke titik terendah.
Bian benar-benar frustasi. Ibunya koma, istrinya tidak pulang-pulang karena sibuk memperbaiki namanya yang dikait-kaitkan dengan kasus perlindungan anak bekerja di bawah umur, sementara ayahnya tak henti-hentinya menelepon untuk mencaci maki dan menyalahkannya karena mencari perkara dengan Rhea.
Lengkap sudah penderitaan Bian. Seolah masih belum cukup sampai disitu, usaha yang dititipkan mertuanya kepadanyapun ikut-ikutan hancur. Ia tidak tahu bagaimana akan menghadapi ayah mertuanya kelak. Ia kehilangan semuanya dalam sekejap.
***
Tania tidak terima Rhea justru menarik namanya dan ayah mertuanya ke dalam permainan Rhea. Ia sudah kehilangan banyak hal maka Rhea juga harus merasakan hal yang sama.
Hari itu, Rhea tengah menghadiri sebuah wawancara eksklusif dengan sebuah stasiun televisi ternama yang menjadi pesaing berat stasiun televisi milik Roy Budiman.
Saat itu, Rhea sedang diwawancara terkait isu yang banyak menerpanya akhir-akhir ini, mulai dari hubungan setingan, perebutan hak asuh anak dan tuduhan mempekerjakan anak di bawah umur.
Hari itu, Rhea siap untuk menghadapi publik. Ia siap menerima semua penghakiman dan hukuman atas kesalahan yang diperbuatnya dan meluruskan fitnah yang diterimanya.
“Jadi, kalau boleh tahu bagaimana ceritanya bisa tiba-tiba muncul tuntutan hak asuh anak atas Albi?”
“Ah, soal itu...”
Tiba-tiba pengarah acara menghentikan wawancara dan meminta pembawa acara untuk beralih ke iklan komersial.
Rupanya Tania sudah lebih dulu mengadakan wawancara di salah satu stasium televisi milik ayahnya untuk membahas isu yang sama. Ia sengaja menyusun sebuah acara untuk membenarkan persepsinya tentang mempekerjakan anak di bawah umur.
Pemandu acara dengan apik memposisikan Tania sebagai pemerhati anak yang layak diacungi jempol. Ia kemudian menyatakan bahwa Tania rela berurusan dengan hukum demi mengembalikan dan melindungi hak-hak Albi sebagai salah satu anak yang "dipaksa" bekerja di bawah umur.
Seperti mendapat sulutan api di atas kertas yang sudah terkena minyak tanah, Rhea di tempat lain menjawab dengan anggun serangan sepihak Tania.
Setelah selesai iklan komersial, Rhea kembali melanjutkan sesi wawancaranya. Sebuah foto lama tanpa sensor muncul di layar besar di belakang Rhea.