
Seorang pria sengaja mengunjungi Subroto di rumah tahanan.
"Saya tidak menyangka anda akan melakukan semua ini, Pak Menteri."
"Mantan." pria itu berusaha mengoreksi. "Saya sudah cukup lama bersabar menantikan datangnya hari ini."
"Tapi, bagaimana Anda tahu semua ini? Jika Anda sudah lama tahu, kenapa baru sekarang Anda mempermasalahkan soal itu?"
"Saya rasa sudah waktunya Anda mempertanggung jawabkan apa yang sudah Anda perbuat selama ini."
"Tapi kenapa? Jika Anda memang ingin saya mempertanggung jawabkan semuanya, kenapa baru sekarang? Kenapa?"
"Karena Anda sudah melangkah terlalu jauh dan saya rasa ini sudah saatnya Anda berhenti."
"Bisa Anda jelaskan tentang apa semua ini?"
Pria muda beralis tebal dan berkemeja batik itu sedikit membungkuk dan mendekatkan bibirnya ke telinga Subroto, "Anda terlalu jauh mengusik apa yang saya lindungi."
***
Dika dan Rhea sudah mulai bisa menjalani kehidupan normal mereka seperti sediakala. Pembangunan yayasan bisa dilanjutkan dan sudah memasuki tahap akhir.
Usaha konveksi Rhea juga sudah mulai menggeliat kembali. Surat ijin usaha sudah dimiliki dan urusan ekspor juga sudah terselesaikan dengan baik. Kini Rhea mulai fokus pada perkembangan dan pendidikan sang putra yang sempat mengalami bullying akibat pemberitaan di berbagai media.
Berkat kesabaran dan ketelatenan Rhea dan Dika, Albi bisa kembali ceria. Karena Albi masih terus belajar dan mengasah kemampuan menyanyinya, Rhea jadi mulai mempertimbangkan untuk mencari label rekaman baru yang mau bekerjasama dengan putranya.
Sementara itu, Rhea juga berusaha merampungkan beberapa urusan pribadi yang sempat tertunda. Ia kembali mengunjungi lembaga yang menyediakan jasa pengujian sample DNA yang pernah digunakan Bian dan Tania saat menjalani sidang perebutan hak asuh.
Rhea masih penasaran bagaimana tes itu bisa dilakukan tanpa persetujuan darinya dan bagaimana hasilnya bisa seperti itu.
Ketika datang kesana pertamakali, ia hanya dimintai dokumen pribadi yang mengabsahkan ia sebagai ibu kandung Albi. Mereka meminta waktu untuk menyiapkan semua data dan informasi yang Rhea minta. Dan hari itu, Rhea kembali untuk mendapatkan apa yang ia butuhkan.
Di rumah, Dika yang kebetulan sedang longgar hari itu, memilih untuk beres-beres rumah sembari menemani Albi bermain. Hari itu Neti, pengasuh Albi sedang ijin cuti, jadi Dika terpaksa tinggal di rumah untuk menemani Albi.
Sudah lama juga ia tidak memiliki quality time berdua saja bersama putra sambungnya yang semakin besar dan tampan itu.
Setelah membereskan kamar Albi, siang itu Dika fokus membersihkan kamar tidurnya dan Rhea. Sejak pindah ke rumah itu, mereka belum sempat merombak dan menata ulang kamar karena kesibukan dan permasalahan yang datang bertubi-tubi.
Ketika membongkar salah satu koper milik Rhea, Dika tidak sengaja menemukan sebuah kantong berwarna hitam yang diletakkan di sela-sela beberapa dokumen yang terjatuh ketika dikeluarkan dari koper oleh Dika.
Karena penasaran, Dika membuka kantong hitam itu. Ia melihat sebuah buku kecil berwarna hijau tua bergambar burung garuda warna emas.
***
"Saya Rhea, mbak. Dua hari lalu saya kesini untuk menanyakan hasil tes DNA anak saya yang bernama Albiansyah Putra."
"Baik, mohon ditunggu, Bu."
Tak lama kemudian, petugas kembali dengan dua buah dokumen atas nama Albiansyah Putra.
"Tunggu! Kenapa ada dua?"
"Maaf, Bu. Tapi anak atas nama Albiansyah Putra memang dua kali melakukan tes DNA di hari yang sama dengan dua orang ayah yang berbeda."
Rhea segera membuka kedua dokumen yang diterimanya.
***
Rhea memarkir mobilnya di depan sebuah rumah makan dan seorang pria gagah, hidung mancung, dan alis tebal yang mirip dengan alis Albi sudah menunggunya di sudut ruangan.
"Hai, Rhe! Apa kabar? Long time no see!"
Rhea tidak menyangka pria itu akan sesantai itu menyapanya setelah semua yang dilakukannya kepada Rhea.
"Maaf aku baru bisa menemuimu, sayang. Beberapa hari ini aku sibuk karena harus mempersiapkan konfrensi WHO di Denpasar." Pria itu berusaha menenangkan Rhea yang datang dengan wajah kusut.
Rhea melempar dokumen hasil tes DNA Albi ke hadapan pria itu. "Bisa jelaskan ini?"
"Bukankah semua urusan sudah selesai dan berakhir dengan baik? Apa perlunya kita membahas ini sekarang?"
"Katakan! Sejak kapan kau terlibat dalam semua urusanku? Dan apa sebenarnya yang kau inginkan? Bukankah kau sudah memutuskan semuanya secara sepihak?"
"Kau tahu persis bahwa aku menyesali keputusanku saat itu. Kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu sampai rela kehilangan segalanya demi bisa bersamamu. Tapi apa yang kau lakukan? Kau selalu saja berbuat semaumu."
"Cand, aku melakukan semua itu juga karena sangat mencintaimu. Aku tidak ingin keberadaanku menghalangi karir cemerlangmu sebagai menteri."
"Atas dasar apa kau berfikir bahwa kau akan menjadi penghalang?"
"Mana ada profesor muda, dokter spesialis kejiwaan yang cerdas dan cemerlang mau menikahi gadis yang baru lulus SMA? Mana ada orang yang mau mempercayaimu sebagai menteri jika tahu bahwa kau menikahi gadis di bawah umur?"
"Persetan dengan omongan mereka. Kenyataannya kita sudah menikah dan Albi adalah anak kandungku dari pernikahan sah kita. Apa kau pikir aku akan diam saja melihatmu memilih Bian sebagai tameng? Anak dari orang yang telah menjebak dan memfitnah ayahmu."
"Candra! Cukup! Kita sudah berpisah karena kau menalakku dengan talak tiga. Jadi tidak ada gunanya kita membahas ini lagi. Kita sudah memiliki kehidupan kita masing-masing."
"Justru inilah saatnya, aku mengembalikan semua pada tempatnya. Aku sudah lama mencarimu tapi kau selalu menghindar, kau bahkan tidak memberiku penjelasan soal Bian. Kau pergi begitu saja ke Desa Sumber membawa anak kita, tanpa pembicaraan apapun."
"Tunggu, bagaimana kau tahu soal Desa Sumber?"
"Kau masih ingat Rafli?"
"Produser acara amal itu?" Rhea terbelalak sambil menutup rapat kedua telapak tangan.
"Aku sudah mencarimu kemana-mana. Beruntung Albi mempertemukan kita melalui penampilan luar biasanya viral di berbagai sosial media. Aku kemudian mengirim Rafli untuk mencaritahu kabar dan keadaan kalian disana."
"Jadi, Kak Tata tahu so-"
Candra cepat-cepat menggeleng, "Tata tidak tahu apa-apa soal ini. Dan justru karena tidak ada seorangpun yang tahu hubungan kita, aku jadi semakin kesulitan."
"Ketika mendengar kalian kembali ke ibukota, aku sangat senang mendengarnya. Tapi tiba-tiba saja kau tampil bersama pria lain dengan begitu mesranya. Meskipun sulit untuk bisa menerimanya, tapi aku cukup senang melihat Albi bahagia dengan keluarga barunya."
Candra meminum expresso yang dipesannya, "Lalu tiba-tiba saja keadaan memburuk ketika kau bermasalah dengan Bian dan istrinya. Dulu, Tania adalah salah satu pasienku, ia mengalami gangguan kecemasan akut yang mengarah pada hal-hal membahayakan. Dia menceritakan semua rencana dan kegelisahannya tentangmu kepadaku. Bagaimana mungkin aku membiarkanmu dan Albi terlibat dengan orang mengerikan seperti itu?"
"Lalu, tes DNA! Bagaimana dengan hasil tes DNA itu? Bagaimana mungkin Albi dan Bian bisa cocok sembilan puluh sembilan persen?"
"Karena aku menukarnya dengan sample milikku."
"Bagaimana bisa?"
"Kau lupa bahwa aku seorang dokter spesialis kejiwaan yang cukup terkenal dan aku juga mantan menteri kesehatan yang masih disegani."