The Power Of Single MoM

The Power Of Single MoM
Salah Paham



Sore setelah Dika pergi keluar rumah dan mendengar rumor tentang Rhea dari warga desa, Dika kembali ke rumah dan mendapati ayahnya tengah duduk melamun di ruang tamu.


Dika yang sudah lama tidak melihat ayahnya termenung seperti itu, yakin bahwa pria paruh baya di hadapannya itu sedang memikirkan permasalah besar yang mengganggu ketenangan pikirannya.


"Pak, lagi ngelaminin opo tho?"


"Bapak juga ndak tahu lagi mikirin apa, Dik. Bapak tahu kalau Bapak ini bukan orang baik. Bapak banyak berbuat salah, tapi Bapak ndak pernah sedikitpun mencuri uang rakyat. Bapak memaksa kamu untuk jadi PNS agar keluarga kita bisa terus mengabdi kepada negara. Bapak tahu gaji pns tidak seberapa. Gaji bapak sebagai kades juga ngga seberapa. Tapi kita masih punya sawah dan kebun yang lebih dari cukup untuk makan dan biaya hidup kita. Karena itu Bapak selalu wanti-wanti supaya kamu ngga tergiur sama korupsi."


"Pak, Bapak ini ngomong apa tho? Dika ngga ngerti."


"Dik. Bapak menjodohkan kamu sama putrinya Pak Camat karena Bapak berharap harkat dan derajat kamu tetap tinggi di mata masyarakat."


"Terus kenapa, Pak?" Dika was-was jika saja ayahnya sudah tahu tentang hubungannya dengan Diana yang baru saja putus karena pengkhianatan Diana.


"Bapak memang bangga punya besan camat. Tapi Bapak tidak sudi besanan sama koruptor."


"Maksud Bapak apa sih, Pak?"


"Dik, Bapak baru tahu kalau Pak Camat ada main dengan dana desa kita. Bapak tidak mau terlibat jadi Bapak berusaha menolak tegas perintah Pak Camat. Sepertinya beliau marah besar sama Bapak. Bapak cuma khawatir kalau-kalau kamu sampai putus sama Diana. Bapak takut kamu patah hari terus kecewa sama Bapak."


Dika merasa lega karena Ayahnya punya alasan lain untuk menjauhkannya dari Diana. Dika lalu menggenggam tangan ayahnya.


"Pak, Dika justru senang kalau Pak Camat memutuskan pertunangan Dika sama Diana. Dari awal kan Dika memang ngga cinta sama Diana, Pak. Bapak saja yang terus-terusan memaksa Dika untuk melamar Diana."


"Terus gimana kalau kamu jadi omongan warga gara-gara gagal nikah sama anaknya Pak Camat?"


"Nanti biar Dika pikirkan ya, Pak?"


Setelah Dika datang ke rumah Rhea dan berbicara dengan Tata tentang kontrak hubungan pura-pura dengan Rhea, Dika merasa yakin bahwa pergi dari desa untuk sementara waktu akan baik untuknya dan ayahnya.


Gosip akan segera menghilang dan ia akan bisa kembali lagi ke desa dengan tenang seakan tidak terjadi apa-apa. Sementara itu, ia juga bisa membantu Rhea dan Albi untuk mendapatkan pekerjaan dan kehidupan mereka kembali di ibukota.


***


Malam itu, Rhea terpaksa menghadiri acara talkshow itu hanya berdua dengan Albi.


Dalam takshow tersebut, Rhea menjelaskan bahwa Dika terpaksa pergi sebelum acara tampil karena ayahnya kurang enak badan. Dan sudah menjadi kebiasaan bagi mereka untuk saling berbagi tugas dan peran. Dan kebetulan malam itu, Rhea bertugas mendampingi putranya, sementara Dika bertugas mendampingi ayahnya.


Bahkan di akhir acara, Rhea mengatakan bahwa ia sangat bahagia hidup bersama Dika dan Albi dan bahwa ia sangat mencintai Dika yang selalu ada untuknya dan Albi.


Dika mematikan ponselnya usai mendengar penuturan Rhea. Ia mengakui kemampuan acting Rhea yang luar biasa. Ia bahkan hampir terharu dan percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Bahwa perempuan itu mencintainya.


Tapi Dika lagi-lagi harus menyadari bahwa itu hanya sebuah skenario yang harus diucapkan Rhea untuk memenuhi harapan penonton dan penggemarnya. Dika tidak tahu bahwa apa yang diucapkan Rhea kali itu tidak tertulis dalam naskah dan bahwa Rhea mengucapkannya dengan tulus.


*******


Rhea tahu bahwa ia seharusnya berhenti saat itu. Albi sudah mendapatkan kesempatan konser bersama artis-artis papan atas seperti yang diinginkannya dan nama baiknya sebagai Rhea Anabarja juga sudah kembali bahkan lebih baik dari sebelumnya.


Tapi entah kenapa, seperti sebuah candu, Rhea tidak bisa meninggalkan pujian dan kemegahan yang ditawarkan dunia hiburan kepadanya.


Seberapapun ia berusaha membenci dunia yang pernah menghancurkannya itu, ia kembali menyerah setiap kali melihat dirinya kembali tampil di depan kamera, dihadapan banyak orang dan menuai banyak pujian.


Ditambah lagi pundi-pundi rupiah yang kian mengalir deras ke dalam rekeningnya tanpa harus terlalu bersusah payah seperti ketika ia bekerja di Desa Sumber.


Tapi Rhea merasa kesal karena Dika tiba-tiba saja meninggalkannya dan Albi tanpa pamit. Ia juga memutus kontrak sepihak seakan sama sekali tidak menghargai usaha Rhea yang mati-matian menahan diri agar tetap profesional sesuai kesepakatan dalam kontrak mereka.


Padahal selama ini Rhea juga sangat menderita. Ia merasa sangat senang berada di dekat Dika, memiliki seseorang yang bisa diandalkan dan selalu membantunya tampil sebagai ibu dan istri yang sempurna di depan kamera.


Tapi setelah kamera mati, ia harus mati-matian menahan diri, menjaga perasaan dan sikapnya seolah ia dan Dika tidak memiliki hubungan apapun selain sebagai rekan kerja.


Rhea berusaha menjaga jarak karena ia tahu bahwa Dika sudah memiliki tunangan dan akan segera menikah. Ia tidak ingin merusak hubungan Dika di dunia nyata. Karena itu ia berusaha menahan diri agar tidak memiliki perasaan lebih kepada Dika.


"Rhe, lo kenapa sih? Bete banget kayaknya?" Tata akhirnya angkat bicara karena tidak tahan melihat Rhea yang mondar-mandir terus dengan muka kusutnya.


"Jelas bete lah. Enak aja Dika main pergi tanpa pamit. Memutus kontrak sepihak, terus main kabur gitu aja. Gue tahu kalau dia mau kerjasama sama gue dan Albi karena uang. Tapi kan seharusnya dia juga bisa profesional. Nyelesaiin tugasnya sampai akhir. Bukan malah ngilang tanpa kabar dan ngga bisa dihubungi kaya gini."


Rhea nyerocos tanpa titik dan koma sampai membuat kepala Tata nyut-nyutan mendengarnya.


"Rhe, ni ya gue koreksi. Pertama, Dika sudah pamit ke gue. Kedua, Dika profesional dan sudah menyelesaikan tugas pokoknya, yaitu meyakinkan publik bahwa Albi adalah anaknya dan kalian sudah menikah. Terakhir dan yang harus banget lo tahu, Dika ngga bekerja demi uang. Dia sama sekali ngga ngambil uang yang gue tawarin buat jadi suami pura-pura lo."


"Apa?!"