The Power Of Single MoM

The Power Of Single MoM
Cinta pada Pertolongan Pertama



"Kau lupa bahwa aku seorang dokter spesialis kejiwaan yang cukup terkenal dan aku juga mantan menteri kesehatan yang masih disegani."


"Lalu apakah pantas seorang mantan menteri yang juga adalah dokter melakukan tindak pemalsuan seperti itu?"


"Aku terpaksa melakukannya. Sejak awal kau berniat membuat Bian menjadi ayah kandung Albi. Lalu kau pikir apa jadinya kalau hari itu hasil tes mereka menunjukkan bahwa Albi bukan anak kandung Bian? Apa kau bisa menjelaskan semuanya saat itu? Atau apa kau yakin mau mengakuiku sebagai ayah kandung Albi?"


"Ini gila! Aku tidak menyangka kau akan berbuat sampai sejauh ini!"


"Rhe, aku hanya berusaha melindungimu dan Albi. Aku hanya mengikuti semua jalan yang kau pilih dan memastikan bahwa tidak ada batu terjal disana."


"Jadi, soal Subroto, itu juga ulahmu?"


Candra melempar pandangannya jauh menerawang keluar jendela, "Dia yang memaksaku melakukan semua itu."


"Dengar, Cand, hubungan kita sudah lama berakhir dan kita sudah memiliki kehidupan masing-masing. Kumohon hentikan semuanya sampai disini!"


"Bagaimana aku bisa berhenti jika lahan yang dibeli Dika dengan murah untuk yayasan itu adalah milikku, perusahaan rekananmu di Jepang adalah perusahaan yang menerima rekomendasi dariku, ijin usahamu bisa selesai dengan mudah dan cepat karena catatan kecil dariku, perundungan Albi di sekolah juga segera diselesaikan dengan baik karena keluhanku. Apa kau masih belum juga mengerti Rhea? Aku sama sekali tidak pernah bisa mengabaikanmu dan Albi. Bahkan suamimu juga sudah menyadari situasinya dan berusaha menemuiku beberapa hari yang lalu."


"Apa?!"


"Dan satu lagi, aku tidak pernah menggantikan tempatmu disini dengan siapapun." Candra menepuk dadanya perlahan.


****


Hari itu, untuk pertama kalinya Rhea berkesempatan untuk membintangi sebuah iklan produk kecantikan remaja sembilan kali ikut casting dan selalu gagal. Kali ini keberuntungan sedang perpihak padanya, jadi Rhea sudah mempersiapkannya segala sesuatunya dengan baik.


Casting masih jam sepuluh pagi dan perjalanan ke tempat casting hanya memakan waktu sekitar satu setengah jam atau sampai dua jam jika macet. Tapi Rhea sudah berangkat sejak tiga jam sebelumnya karena tidak ingin terlambat.


Di tengah perjalanan, ia baru tahu bahwa akses jalan di sekutar kantor gubernur sedang macet parah karena adanya demonstrasi besar-besaran menuntut kenaikan gaji dan kesejahteraan buruh.


Sudah hampir dua jam bus yang dikendarai Rhea tertahan disana. Meskipun sudah berkali-kali berputar mengikuti jalur alternatif yang diarahkan petugas, tetap saja kemacetan belum bisa teturai akibat banyaknya massa dan kendaraan yang terjebak disana.


Waktu hanya sisa empat puluh menit lagi. Jadi Rhea bergegas turun dari bus dan berusaha mencari tumpangan. Tapi sudah hampir sepuluh kali ia menghentikan kendaraan yang lewat, belum satupun yang mau memberi Rhea tumpangan.


Akhirnya Rhea memilih untuk menerobos kerumunan massa dan masuk ke halaman kantor gubernur. Ia yakin bahwa kemacetan hanya terjadi disana, jadi jika bisa menyebrangi kantor gubernur, maka ia akan lebih mudah menemukan kendaraan yang akan membawanya ke temoat casting.


Meskipun sulit dan berkali-kali terdorong dan terhimpit, Rhea tetap gigih bertahan dan terus menerobos mendekat ke kantor gubernur. Saat berhasil memerobos, ternyata Rhea berhadapan dengan barisan pagar betis para petugas keamanan.


Keadaan tiba-tiba menjadi rusuh karena ada pendemo yang bentrok dengan petugas. Karena terdorong-dorong, akhirnya Rhea jatuh ke halaman kantor gubernur dan hampir tertabrak sebuah sedan mewah yang kebetulan melintas.


Ciiiiit!.....


"Anda tidak apa-apa?" Tanya pengendara sedan itu setelah turun dan menghampiri Rhea yang hampir tertabrak.


Merasa mendapat kesempatan untuk kabur dari kepadatan, Rhea berpura-pura terkilir. Pemilik mobil akhirnya mempersilakannya masuk dan bermaksud membawanya ke rumah sakit untuk diperiksa.


Siapa sangka bahwa pemilik mobil mewah itu ternyata masih sangat muda dan tampan. Tubuhnya putih bersih, hidungnya mancung dan alisnya tebal.


"Saya rasa anda harus meluangkan banyak waktu untuk rangkaian pemeriksaan hari ini."


"Apa?!" Rhea tiba-tiba saja sadar dari lamunannya. " Ah, saya rasa kaki saya sudah membaik dan kebetulan saya sangat sibuk hari ini. Jadi lebih baik anda turunkan saja saya di perempatan Thamrin."


Sebenarnya Candra sudah tahu bahwa Rhea baik-baik saja dan sengaja berpura-pura. Karena ia melihat dengan sangat jelas bahwa body mobilnya sama sekali tidak menyentuh tubuh gadis itu.


"Sibuk? Apa anda sudah bekerja?"


"Ah, belum. Tapi sebentar lagi saya akan menjadi pekerja seperti Anda. Hari ini adalah syuting iklan pertama saya setelah sembilan kali gagal casting." Rhea tertawa dengan polosnya.


Sedan itu melaju kencang melalui jalur khusus dan tiba-tiba saja sudah tiba di perempatan Fatmawati. Candra menurunkan Rhea disana. Lalu mobil kembali melaju jauh meninggalkan Rhea.


Dari kaca spion Candra terus memperhatikan Rhea yang tengah gelisah menunggu kendaraan yang bisa mengantarnya ke tempat syuting.


"Dasar bodoh! Mana mungkin ada kendaraan yang lewat? Semua kendaraan tertahan di kantor gubernur dan sisanya pasti akan menghindari jalur itu." Batin Candra.


"Putar balik, Pak!"


"Apa?! Tapi Mas, rapat sama Pak Presiden tinggal dua puluh menit lagi loh."


Candra tidak menjawab yang itu artinya sopir harus menuruti perintahnya meskipun konyol dan beresiko.


***


"Sebenarnya, saya tidak tahu kenapa Bapak kembali dan mau memberi saya tumpangan. Tapi apapun itu, saya ingin berterima kasih." Kata Rhea tulus.


Ia berhutang budi kepada pemilik sedan mewah itu.


"Saya melakukannya hanya karena kamu mengatakan bahwa ini adalah syuting pertama kamu setelah sembilan kali gagal casting. Jadi rasa ini sangat penting buat kamu."


Sopir terus saja melirik Candra dari kaca spion. Ia tidak tahu kenapa Candra berbuat seakan ia tidak memiliki agenda lain yang jauh lebih penting daripada gadis itu.


"Iya benar. Ini sangat penting buat saya."


"Saya perhatikan kamu masih sangat muda. Apa pekerjaan ini begitu penting untuk kamu? Apa hebatnya bekerja mati-matian hanya untuk menjadi artis terkenal?" Candra mulai mengalihkan pandangannya, dari dokumen yang dibacanya menuju ke arah Rhea, "Apa karena uang?"


"Tentu! Saya bekerja untuk uang." Rhea membuang pandangan keluar jendela, "Dan balas dendam."


"Apa?!"


"Saya hanya akan bisa membalaskan dendam saya jika saya menjadi orang yang terkenal dan mempunyai kekuasaan."


Candra tidak mengerti kenapa gadis semuda itu sudah sangat serius membicarakan soal dendam. Ia jadi sedikit takut dan khawatir. Ia ingin menanyakan sesuatu tapi sopir tiba-tiba saja mengerem mendadak yang mengakibatkan tas Rhea terjatuh di lantai mobil.


"Maaf, Mas. Dia tiba-tiba saja menyebrang. Jadi saya kaget."


"Ah, tempat syuting saya sudah dekat. Jadi saya turun disini saja."


"Tapi -"


Rhea tiba-tiba saja sudah memungut tasnya dan bergegas turun dari mobil Candra. Mereka bahkan belum sempat berkenalan dan gadis itu sudah pergi begitu saja.


Malam harinya ketika membersihkan mobil, sopir Candra menemukan dompet Rhea. Dari situlah Candra akhirnya tahu siapa gadis lugu itu dan kenapa ia menyimpan dendam yang begitu besar.


***