The Power Of Single MoM

The Power Of Single MoM
Fans



Setelah masak, mencuci dan bersih-bersih di rumah Pak Kades, Rhea segera meminta ijin untuk pulang karena sebentar lagi ibu-ibu yang mau belajar menjahit dirumahnya akan segera datang.


"Rhe, emang kamu awalnya bisa ngejahit tu gimana? Gue salut banget sama kamu. Baru belajar satu setengah tahun aja sudah jago banget, halus banget jahitannya." Tanya Dika tiba-tiba.


"Anu, itu mas Dika, ya cuma belajar di akademi aja. Saya belum pernah ngejahit sebelumnya."


"Oh, gitu. Berarti hebat ya kamu? Ibu saya aja buat bisa jahit kaya kamu tuh perlu waktu sekitar enam tahun, sampai saya lulus SD."


"Oh.."


Dika tahu Rhea sangat berhati-hati dalam memilih jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya.


"Oia, Rhe, besok ikut saya ke balai desa. Ada yabg harus kamu tanda tangani terkait pengajuan bantuan usaha."


"Baik, mas. Terima kasih. Saya permisi dulu ya mas?"


Dika mengangguk. Rhea segera pulang ke rumahnya karena Mbok Tun pasti sudah lelah menemani Albi yang tidak mau diam karena sudah bisa berjalan cepat. Belum lagi melayani ocehan Albi yang kosakatanya kian bertambah banyak.


"Makasih ya Mbok, sudah mau bantuin saya jagain Albi."


"Rapopo Nak, Mbok senang main sama Albi sudah Mbok anggap seperti cucu Mbok sendiri."


Tak lama kemudian ibu-ibu datang untuk belajar cara pecah pola dengan menggunakan kertas koran. Hari itu Rhea mengajarkan cara membuat pola dan ukuran rok di kertas koran yang nantinya akan dijadikan model dan patokan ukuran di atas kain.


Rhea menjelaskan teorinya dengan perlahan agar mudah diterima ibu-ibu itu. Lalu ia mengambil contoh rok miliknya sendiri untuk digambar polanya di atas kertas koran. Meskipun agak kesulitan di awal, tapi lama-lama mereka paham.


"Besok, kita akan belajar cara menjiplak di atas kain dan cara memotong kain yang benar. Agar sesuai dengan pola dan ukuran yang benar."


Pelajaran hari itu berakhir dan Rhea harus segera menidurkan Albi agar bisa lanjut menyetrika baju milik Bu Imron yang sudah menggunung di rumahnya.


****


Keesokan harinya, Rhea datang lebih pagi dan buru-buru menyelesaikan pekerjaannya di rumah Pak Kades karena dia harus segera ikut Dika ke balai desa. Karena listrik sempat padam sebentar, Rhea akhirnya terlambat menyelesaikan pekerjaannya dan membuat Dika berangkat kesiangan ke sekolahnya. Mereka berangkat berboncengan menggunakan sepeda kayuh milik Dika.


"Rhe, kita mampir ke sekolah dulu ya? Saya sudah kesiangan. Kasihan kalau murid-murid saya menunggu terlalu lama."


"Iya, Mas. Ngga papa."


Rhea menunggu di bawah pohon di halaman sekolah ketika Dika masuk untuk memberikan tugas kepada murid-muridnya.


"Loh, mbak ini siapa? Kok duduk disini?" Tanya salah seorang guru perempuan yang tidak pernah bertemu Rhea sebelumnya.


"Oh, saya menunggu Mas, eh, Pak Dika."


"Oh, Pak Dika. Loh memangnya mbak ini siapanya Pak Dika? Kok saya belum pernah lihat sebelumnya?"


"Oh, saya tetangganya Pak Dika."


"Oh, cuma tetangga tho, kirain..."


"Ni orang kepo banget sih? " Batin Rhea.


Tak lama kemudian Dika datang menghampiri Rhea dan temannya.


"Eh, Bu Ulin. Ini Rhea bu, tetangga saya yang pandai menjahit. Yang pernah saya ceritakan ke ibu."


"Oh, itu tho Pak. Walah, Pak Dika kok ndak bilang kalau mau ajak mbak Rhea kesini. Tahu gitu tadi saya bawa kain biar bisa dibuatin baju juga."


"Kapan-kapan saya ajak lagi Rhea kesini. Hari ini kita ada urusan penting, jadi harus buru-buru."


"Urusan? Mau pacaran ya Pak?"


Dika tertawa, "Ngga lah bu, kita mau ke balai desa."


Rhea benar-benar kesal denga kekepoan tingkat tinggi wanita itu.


"Iya. Kita mau ngurus buku nikah. Ibu mau ikut? Nanya mulu dari tadi." Jawab Rhea ketus.


"Loh kok mbaknya yang marah. Kan saya nanyanya sama Pak Dika?"


Rhea segera menarik tangan Dika lalu naik ke atas sepedanya.


"Tu cewek nyinyir banget sih. Mau tahu aja urusan orang."


"Bu Ulin memang seperti itu. Anggep aja dia peduli sama orang lain." Jawab Dika ramah


"Yeeee itu sih namanya kepo bukan peduli. Yakali peduli sampei ke akar-akarnya."


Dika tersenyum, ia senang melihat Rhea yang nyolot dan memberontak seperti itu.


"Kok kamu kelihatan kesel banget sama orang nyinyir, Rhe?"


"Jelaslah, kenyinyiran dan kekepoan mereka udah ngancurin hidup gue." Rhea nyerocos saja sampai lupa bagaimana menahan diri.


"Maksud kamu????" Dika tetap berpura-pura tidak paham dengan omongan Rhea yang reflek dan menggebu-gebu.


"Oh, itu, anu... Maksud saya, kadang omongan orang itu malah bisa jadi fitnah yang bisa menghancurkan kehidupan orang lain, gitu...."


"Oh....." Dika cuma senyam-senyum saja mendengar penjelasan Rhea.


***


Mereka tiba di balai desa dab segera menemui petugas administrasi yang bernama Dian.


"Mbak Dian, ini Rhea, mungkin berkasnya bisa langsung ditandatangani?"


"Oh iya, Mas Dika. Tunggu sebentar!" Dian mencari tumpukan berkas lalu menyodorkannya kepada Rhea. "Tanda tangan disini, Mbak."


Rhea membubuhkan tanda tangannya di tempat yang ditunjuk Dian.


"Terus, satu lagi di sebelah sini." Dian menyerahkan sebuah kertas kosong.


Rhea tidak mengerti kenapa ia harus tanda tangan di kertas kosong.


"Ini untuk saya, Mbak. Saya fans-nya Mbak Rhea." ujar Dian dengan polosnya.


"Fans?" Rhea masih berpura-pura tidak mengerti di hadapan Dika.


"Kamu kan sekarang sudah terkenal di Desa Sumber, Rhe. Siapa yang ngga tahu penjahit muda paling berbakat di desa ini?"


Dian hendak protes karena penjelasan Dika jelas salah. Ia bukan menggemari Rhea karena bakat menjahitnya tapi karena gadis itu pernah menjadi artis muda paling bersinar beberapa tahun lalu dan Dian sangat menyukai film "Dara" yang dibintanginya. Tapi ia melihat Dika memberikan syarat dengan kedipan matanya. Meskipun tidak yakin dengan maksud dari kode yang Dika berikan, Dian tidak ingin menimbulkan masalah. jadi ia memilih untuk diam saja asalkan mendapatkan tanda tangan Rhea cuma-cuma.


"Tapi apa memang benar begitu? Kok rasanya terlalu berlebihan." Rhea tidak yakin Dika berkata jujur


Meskipun begitu, Rhea mau saja memberikan tanda tangannya untuk Dian dan Dian tampak sangat senang mendapatkan tanda tangan dari artis idolanya. Sedangkan Dika permisi meninggalkan sebentar untuk menyapa ayahnya di ruangannya.


"Ternyata Mbak Rhea aslinya baik, ya? Ramah juga. Ngga kaya yang diomongin orang-orang. Yang katanya sombonglah, judeslah, ketuslah, sadislah."


Rhea mulai ambigu dalam mengartikan kalimat pujian Dian.


"Tetap semangat Mbak, yang namanya berlian biarpun tenggelam di dalam lumpur, bakal tetep bersinar. Mbak Rhea juga pasti bisa kok balik jadi artis terkenal lagi."


Kini Rhea paham betul situasinya. Jadi gadis bernama Dian itu sudah tahu bahwa dirinya artis. Rhea melotot ke arah Dian, lalu berbisik pelan di telinganya.


"Dengar baik-baik, jangan sampai ada orang lain, terutama Dika, yang tahu bahwa saya adalah Rhea, si artis terkenal! Jika sampai bocor, saya pastikan bahwa kamu akan melihat bahwa semua yang diomongin orang tentang saya adalah benar."