The Power Of Single MoM

The Power Of Single MoM
Licik



Pak Kades sudah mendengar tentang apa yang terjadi pada albi siang itu. Ia juga mendengar Dika mengeluarkan motor yang sangat jarang dikendarainya selain hanya untuk urusan yang penting dan menurutnya mendesak. Sebenarnya ia juga tidak mengerti dengan jalan pikiran putra semata wayangnya itu yang lebih senang menaiki sepeda angin tua milik kakeknya daripada motor yang dibelikannya untuk hadiah karena Dika diterima sebagai guru pegawai negeri sipil setelah lulus sebagai sarjana pendidikan.


Ia menikmati secangkir kopi instan yang sering dibuatnya sendiri sejak istrinya meninggal beberapa tahun lalu. Sejak saat itu ia mulai jarang bicara dengan Dika, karena putranya itu lebih banyak diam dan mengurung diri seakan enggan bercengkrama dengannya. Akhir-akhir ini Dika memang terlihat lebih bersemangat dan ramah kepadanya, tapi ia tidak bisa terima jika Rhea dan anaknya yang menjadi alasannya. Ia harus bisa mencegah putranya untuk salah melangkah lebih jauh lagi. Hari itu ia bertekad untuk bicara serius dengan Dika.


"Assalamualaikum," Dika memarkir motornya lalu seperti biasa mencuci kaki dan tangan sebelum masuk ke kamarnya.


"Waalaikumsalam. Dik, bisa kita bicara sebentar?"


"Dika ke kamar mandi dulu, Pak."


Sudah menjadi semacam kebiasaan bagi Dika untuk selalu dalam keadaan bersih setiap kali memasuki rumah, terutama kamarnya. Dika termasuk dalam kategori cowok rajin yang sangat mengutamakan kebersihan dan kerapian, terutama di area pribadinya seperti kamar. Hampir tidak ada sedikitpun debu yang menempel pada tumpukan buku dan gitar kesayangannya yang ada di kamar.


"Mau bicara apa, Pak?"


"Kamu darimana kok ngeluarin motor?"


"Jemput Albi dari puskesmas, Pak. Kakinya sobek jadi harus dijahit."


"Dik, Bapak tahu kamu punya hati yang sangat lembut dan pengasih seperti ibumu dan Bapak tahu kamu merasa kasihan kepada Albi yang tidak punya Ayah. Tapi kamu tidak perlu tertalu berlebihan seperti itu. Bukan salah kamu kalau Rhea tidak punya suami jadi kamu tidak perly merasa terlalu iba dan bersalah sama dia. Biarkan dia menyelesaikan masalah yang dibuatnya sendiri. Dan kamu harus mulai fokus dengan masa depanmu, Dik."


"Jadi itu yang selama ini Bapak pikirkan tentang Dika sama Rhea, Pak? Dika cuma pengen Bapak tahu bahwa Dika mendekati Rhea dan Albi bukan karena kasihan, Pak. Tapi karena Dika sayang sama mereka. Dan soal masa depan Dika, biar Dika sendiri yang putuskan, jadi Dika harap kali ini Bapak bisa hargai keputusan Dika."


"Tapi, Dik -"


"Maaf, Pak. Dika permisi ke kamar dulu. Banyak yang harus Dika kerjakan."


Pak Kades kesal mendengar penjelasan putranya itu. Ia tidak percaya bahwa Dika menyukai janda beranak satu yang tak punya apa-apa dan tidak jelas statusnya itu. Jika ia tidak bisa mencegah putranya, maka ia harus lebih tegas kepada Rhea. Ia yakin bisa dengan mudah memaksa gadis itu untuk menjauhi Dika. Tapi sebelum itu, ia harus menyusun rencana dulu untuk Dika. Ia bertekad untuk mendatangi rumah Pak Camat sore itu.


***


"Dian, kenapa kamu ke rumah saya?"


"Maaf, mbak Rhea. Saya diutus Pak Kades untuk menyerahkan ini." Dian menyodorkan amplop coklat berisi surat persetujuan pemberian bantuan dana yang termin pembayarannya sudah dirubah dari satu tahun, hanya menjadi tiga bulan saja.


Rhea bergegas pergi ke balai desa untuk menemui Pak Kades langsung.


"Bisa Bapak jelaskan apa maksudnya surat ini?"


"Seperti yang kamu baca, saya mau kamu mengembalikan semua dana bantuan yang kamu pinjam bulan depan."


"Bapak mau mempermainkan saya?! Mana boleh Bapak merubah perjanjian yang sudah kita sepakati dengan cara sepihak seperti ini. Ini tidak sah dan melanggar hukum. Saya bisa tuntut Bapak dengan tuduhan penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang."


Pak Kades tertawa, "Rhea, jika kamu mampu membayar pengacara, kenapa tidak segera lunasi saja hutangmu supaya semua jadi lebih mudah?"


Sebenarnya Pak Kades ada benarnya. Meskipun ia bisa menuntut Pak Kades dan pasti bisa menang, tapi ia tidak punya cukup uang untuk membayar pengacara. Ia tahu persis berapa banyak dana yang dibutuhkan untuk berurusan dengan hukum seperti kasus pelanggaran kontrak kerja yang dihadapinya dulu saat masih menjadi artis. Rhea akhirnya mulai melunak. Ia yakin Pak Kades punya alasan untuk menekannya seperti itu.


"Jadi, boleh saya tahu apa alasan Bapak sebenarnya?"


"Anak pintar. Kamu sudah banyak mengalami kesulitan, jadi jangan memilih jalan yang sulit untuk kau lalui lagi. Cukup jauhi Dika atau aku akan pastikan kau gulung tikar dan terpaksa pergi dari Desa ini. Kau tahu itu bukan perkara sulit bagiku."


Rhea menghela nafas panjang. Ia tidak menyangka bahwa pria tambun itu belum puas untuk menjauhkannya dengan Dika.


"Pak, atas dasar apa Bapak berfikir bahwa saya masih mendekati putra Bapak? Kalau kami masih sering terlihat bersama itu karena anak Bapak yang terus saja mengganggu hidup saya. Jadi kenapa Bapak tidak larang saja anak Bapak untuk melihat dan mengurusi hidup saya?!"


"Karena Dika sangat baik dan peduli pada semua orang, tarutama yang hidupnya sangat susah dan memprihatinkan seperti kamu, saya tidak bisa memaksa dia untuk menjadi jahat. Jadi alangkah lebih baiknya jika kamu yang saya yakin masih memiliki harga diri, untuk berusaha menjauh dari Dika dan membuat Dika juga meninggalkanmu dengan suka rela."


"Dasar laki-laki licik!" umpat Rhea dalam hati.


"Oke, jadi apa yang anda ingin saya lakukan agar Dika menjauhi saya?"


"Jika tidak bisa pergi dari sini, maka sebaiknya buat agar Dika mau menerima kehadiran wanita lain yang lebih pantas untuk menggantikan kamu! Atau jika tidak, saya anggap kamu sepakat untuk melunasi semua pinjaman kamu bulan depan."


"Apa?!"