The Power Of Single MoM

The Power Of Single MoM
Kerjasama



If I could steal one final glance, one final step


One final dance with him


I'd play a song that would never ever end


'Cause I'd love, love, love to dance with my father again


Rhea memutar rekaman suara Albi menyanyikan lagi favoritnya berulang-ulang. Ia merasa sangat bangga sekalipun terharu karena ternyata putranya yang masing terbilang sangat kecil itu sangat perhatian. Ia bahkan menghafal dan menyanyikan lagu kesukaannya dengan sangat baik. Tak sia-sia ia mengajari putranya belajar bahasa inggris sedikit demi sedikit. Ia tidak ingin kelak putranya kesulitan bersosialisasi dengan anak milenial yang sudah terbiasa dengan bahasa asing yang satu itu, hanya karena ia dibesarkan di pelosok desa terpencil.


"Mommy dengelin apa?"


"Dengerin suara Albi yang baguuuuus banget."


"Emang iya, Mom?"


Rhea memutar ulang rekaman suara Albi di ponselnya. Bocah itu tersenyum sambil manggut-manggut mendengarkan rekaman suaranya sendiri. Rhea jadi semakin gemas melihat tingkah lucu putranya itu.


"Mommy suka?" Tanya Albi dengan polosnya.


"Suka! Sukaaaaa banget! Mommy suka karena Albi nyanyiin lagu kesukaan Mommy dan juga karena suara Albi baguuus banget." Rhea menciumi pipi tembem Albi berkali-kali. "Albi suka nyanyi?"


"Suka banget, Mommy. Albi juga suka belajal gital sama Om Dika."


"Oh ya, sayang. Ngomong-ngomong soal Om Dika. Boleh Mommy minta tolong sama Albi?"


"Apa?"


"Albi ngga boleh pergi sama Om Dika atau siapapun tanpa seijin Mommy ya? Mommy khawatir kalau Albi ngga ada. Mommy jadi bingung cari-cari Albi kemana-mana."


Bocah kecil itu mengangguk dengan yakin.


***


Setelah Albi tidur, Rhea segera membuka leptop barunya dan melakukan panggilan video dengan Tata.


"Malem, Kak. Belum tidur?"


"Belumlah Rhe, baru jam sgini juga. Kok sepi? Albi dah tidur?"


"Udahlah, kak. Jam segini disini dah malem banget. Dah sepi pada tidur semua. Oh ya, Kak. Thanks banget ya lo udah pinjemin gue duit buat beli leptop ini. Gue janji ngga bakal lama-lama balikinnya."


"Anytime babe."


"Oh ya, Kak. Gue mau tunjukin lo sesuatu." Rhea memutar kembali rekaman suara Albi menyanyi di ponselnya.


"Itu suara Albi, Ta?"


Rhea mengngguk bangga, "Hebat kan anak gue?"


"Ta, gini-gini track record gue sebagai manajer artis masih oke loh.. Boleh banget kalau Albi mau join sama gue."


"No! It's big No!" tiba-tiba saja Rhea merasa khawatir putra kesayangannya itu akan berhadapan dengan dunia keartisan yang sangat menyeramkan baginya itu. Dan sepertinya Tata langsung paham dengan perubahan raut muka Rhea.


"Boleh, boleh!"


Tak lama kemudian Bara ikut bergabung dalam obrolan vidio mereka.


"Hai, Bara! Kenalin gue Rhea, penghuni baru rumah lo!"


"Hai, Rhe. Gimana lo betah disana? Masih banyak kecoak ngga?" Goda Bara


"Nggalah, Dika dah nutup semua saluran air biar kecoaknya ngga pada masuk."


"Jadi, lo dah kenal akrab ma Dika dong?" Goda Bara lagi.


"Ya sudahlah, orang tetanggaan, juga.."


"Tetanggaan doang? Ngga pengen lebih dari tetangga, Rhe?"


"Idih, apaan sih Bar?! Ogah!"


"Eh, Dika siapa sih?" Tata tidak mengerti siapa yang sedang Rhea bicarakan dengan sepupunya, Bara.


"Dika tuh tetangga gue, Ta. Anaknya Pak Kades, ganteng, guru, alim, sopan dan yang pasti masih jomblo." papar Bara penuh persuasif.


"Wah, bagus itu. Cocoklah buat jadi pelipur lara."


"Bisa stop ngomongin Dika ngga? Kalo ngga, gue matiin nih."


"Eh, iya! Sabar napa? Sewot aja sih lo Rhea." Tata berusaha menenangkan Rhea yang mulai sewot.


"Eh, Bar. Biar gue tunjukin kaya gimana rumah lo sekarang." Rhea mengarahkan kamera leptopnya ke seluruh sedut rumah Bara yang mulai disulap Rhea menjadi home industri. Banyak mesin di ruang tamu dan teras Bara, tumpukan kain dan bahan jahit lainnya di ruang tengah dan tumpukan baju jadi di kamar Rhea.


"Rhe, lo boleh kosongin kamar belakang. Bisa lo jadiin gudang buat barang-barang lo."


"Emang ngga papa, Bar? Terus barang-barang lo mo dikemanain?"


"Buang aja yang dah ngga bisa dipake. Itu barang-barang lama peninggalan almarhum bokap gue. Banyak yang ngga bisa kepake." Bara menyeruput kopinya, "Btw, usaha lo boleh juga ya, Rhe. Salut gue sama lo. Bisa sampai sejauh itu."


"Apanya yang salut, Bar. Itu juga pasti karena dia terpaksa. Coba kalau masih punya banyak duit kaya dulu. Mana mau dia kerja keras kaya gitu." Tata membeberkan fakta yang sebenarnya hampir seratus persen benar.


Tapi Rhea tetap ingin kerja kerasnya dihargai. "Enak aja lo, Kak. Lo ngga tahu aja sih gimana perjuangan gue bisa sampe kaya gini."


"Eh, Rhe. Gue jadi tertarik sama bisnis baru lo. Bolrh ngga kalau gue mau invest sama lo. Ni kebetulan gue ada duit tabungan. Sayang juga kalau ngga diputer."


"Terus lo mau keuntungan berapa, Bar? Usaha gue baru mulai jadi belum bisa ngejanjiin profit besar."


"Gini aja. Sekarang lo butuh apa? Biar gue biayain. Ntar lo kasih lima persen keuntungan lo buat Mbok Tun, anggep aja itu bagian gue. Mbok Tun dah seperti nenek gue sendiri, Rhe. Dia yang jagain gue sejak bokap nyokap gue meninggal."


"Oke, deal. Jadi lo bisa beliin gue mobil pick up buat operasional."


Rhea yakin itu tawaran yang cukup bagus untuknya. Jika usahanya terus berkembang ia akan membicarakan kembali soal kerjasamanya dengan Bara itu. Ia segera menyiapkan dokumen sederhana untuk mengikat kesepakatan mereka berdua. Dan beberapa hari kemudian, mobil pick up yang diinginkan Rhea sudah dikirim ke rumahnya.