The Power Of Single MoM

The Power Of Single MoM
Kesaksian



Rhea harus menjalani empat belas jam proses pemeriksaan sampai akhirnya justru ditetapkan sebagai tersangka.


"Maaf, Pak. Meskipun Ibu Rhea tidak sedikitpun goyah dengan penyangkalannya, tapi tidak ada alibi yang menguatkan beliau. Beliau memang ada di TKP saat peristiwa itu terjadi bahkan ada saksi yang melihat beliau keluar dari rumah itu."


"Tapi bukan berarti Rhea pelakunya kan? Tidak ada saksi mata bahwa Rhea melakukan pembunuhan itu!" Candra tidak tahan membayangkan Rhea harus mendekam di balik jeruji besi hingga hari persidangan.


"Kami akan mengumpulkan bukti dan saksi yang bisa membuat Ibu Rhea bebas dari segala tuduhan."


"Sebaiknya itu benar bisa anda lakukan. Saya tidak ingin kecewa untuk kedua kalinya."


"Baik, Pak. Kalau begitu, kami permisi dulu. Kamu akan mempersiapkan segalanya dengan baik."


***


Sementara itu, di Dika juga sedang mencari alibi yang kuat untuk mendukung keterangan istrinya. Siang itu ia mendatangi TKP, melihat tempat dimana Nisa ditemukan tidak sadarkan diri setelah menenggak racun di dalam kamarnya.


Menurut Rhea, ia hanya memeriksa rumah di bagian ruang tamu dan dapur saja. Ia sama sekali tidak memeriksa bagian kamar, jadi tidak tahu bahwa ada Nisa yang tengah meregang nyawa disana.


Dika hanya perlu memastikan apakah Nisa sudah meninggal saat Rhea masuk atau justru bunuh diri setelah bersitegang dengan Rhea seperti yang dituduhkan.


Ketika tiba, rumah Nisa masih dipasangi police line, sementara keluarga tampak masih sangat berduka atas kepergian Nisa yang merupakan anak tertua dan tulang punggung keluarga. Dika berusaha menemui mereka untuk mengucapkan bela sungkawa, tapi ia justru diusir dan dimaki.


Dika paham bagaimana perasaan keluarga Nisa saat itu. Jadi ia memilih untuk melakukan penyelidikan dari tetangga di sekitar rumah Nisa. Ia berharap ada sedikit petunjuk yang bisa membantunya.


***


"Dad, Albi kangen mommy!" Bocah delapan tahun itu mulai merengek merindukan Rhea yang sudah dua hari itu tidak pulang ke rumahnya.


Dika tidak tahu bagaimana harus menjelaskan situasinya kepada Albi. Ia hanya bisa menjelaskan bahwa ibunya sedang ada urusan dan tidak pulang untuk sementara waktu.


Hari berikutnya, Albi demam dan terus mengigau memanggil-manggil ibunya. Meskipun Neti dan Tata membantu merawat Albi dengan baik, tapi kondisi Albi tak juga membaik. Akhirnya Dika menyerah dan iapun terpaksa mengajak Albi untuk mengunjungi Rhea di penjara.


"Mommy kenapa ada disini?"


Rhea tidak bisa mengatakan apapun. Ia hanya memeluk putra semata wayangnya itu dengan erat sambil terus meneteskan air mata.


"Sayang, kan daddy sudah bilang. Mommy masih ada urusan disini. Tapi sebentar lagi mommy juga bakal pulang kok. Kumpul lagi sama Albi dan Daddy."


"Daddy! Tolong keluarin Mommy dari sini! Albi mau ajak mommy pulang!" Albi menangis histeris


Rhea segera menyeka air matanya. Ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan Albi.


"Albi, Daddy bener. Mommy harus cepat selesaikan urusan Mommy disini. Supaya bisa cepet pulang sama Albi. Tapi belum bisa sekarang sayang. Mommy minta maaf ya?"


Albi menggeleng, "Albi mau disini sama Mommy!"


Rhea tidak mampu berkata-kata lagi. Hal itu terasa lebih menyakitkan ketimbang fakta bahwa ia harus menderita tinggal di balik jeruji besi.


Dika kemudian berhasil menenangkan Albi dan meyakinkannya untuk pulang. Neti kemudian membawa Albi keluar dari ruang kunjungan. Sementara Rhea meminta Dika tinggal untuk membicarakan sesuatu.


"Apa semua baik-baik saja?" Tanya Dika sabar


Rhea mengangguk, kesabaran dan kesahajaan itulah yang selalu berhasil menjadi penguat semangat baginya selama ini.


"Dika, ada yang pengen aku omongin sama kamu."


"Soal apa?"


Dika tersenyum, lalu meraih kedua telapak tangan Rhea.


"Candra adalah bagian dari masa lalu kamu dan aku tidak ada masalah dengan itu. Yang terpenting buat aku sekarang adalah bagaimana mengeluarkan kamu dari sini. Albi butuh kamu."


Rhea kembali menangis. Ia sudah sangat takut Dika akan marah dan kecewa karena kebohongannya selama ini. Tapi apa yang baru saja didengarnya? Pria itu justru lebih mengkhawatirkannya daripada membencinya.


"Sayang, Kita harus yakin bahwa kebenaran pasti menang. Kita hanya perlu bersabar dan bertahan sampai saat itu tiba."


Dika kembali tersenyum sembari menyeka air mata istrinya. Ia menatap dalam-dalam kedua mata Rhea yang masih berkaca-kaca.


"Aku ngga akan pernah ninggalin kamu dalam situasi apapun. Kecuali, kamu yang ingin aku pergi."


***


Hasil laboratorium baru dirilis untuk mengkonfirmasi jenis racun yang digunakan Nisa dan perkiraan reaksi sampai waktu kematiannya.


Pengacara kemudian menyatakan bahwa tidak ada bukti yang menguatkan bahwa Rhealah yang membawa racun itu. Meskipun Rhea memang datang ke sana di sekitar waktu kejadian, tapi tidak ada saksi yang mendengar bahwa keduanya cek-cok atau adu mulut.


Selain itu, tidak ditemukan adanya bukti yang mengarah pada tindak kekerasan atau ancaman yang dilakukan Rhea terhadap korban. Jadi pengacara menuntut penangguhan penahanan terhadap Rhea.


Sementara itu, Dika akhirnya juga berhasil menemukan saksi yang bisa menguatkan pernyataan Rhea. Dia adalah Adit adik Nisa yang akhirnya berhasil didekati Dika dan bersedia memberi kesaksian.


Adit yang meskipun masih berusia tiga belas tahun, mampu dengan tegas dan meyakinkan menjelaskan bahwa Nisa sudah membeli racun itu beberapa hari sebelumnya.


Pada hari itu, Adit beserta kedua orang tuanya menghadiri undangan dari salah satu kerabat mereka. Nisa yang tadinya mau ikut tiba-tiba saja mengurungkan niatnya dan memilih untuk tetap tinggal di rumah dengan alasan kurang enak badan.


Dika juga membawa pedagang yang menjual racun itu kepada Nisa. Berkat keterangan yang kuat dari kedua saksi, akhirnya Rhea dibebaskan dari segala tuduhan.


Ketika hendak keluar dari penjara, Dika dan Rhea bertemu dengan Candra yang sudah menunggu di luar. Ia kemudian menjabat tangan Dika.


"Anda memang hebat. Terimakasih karena sudah membantu Rhea."


Dika kembali mengumbar senyum termanisnya, "Tidak perlu berterima kasih, ini hanya sebuah kewajiban suami terhadap istrinya. Kami permisi, anak kami sudah menunggu di rumah."


***


Albi berteriak kegirangan melihat ibunya kembali pulang, begitu juga dengan Neti dan Tata. Suasana rumah Rhea seketika mengharu biru, seakan mereka sudah sangat lama tidak bertemu dan sekaligus merasa sangat lega karena sekali lagi Rhea berhasil melalui ujian hidupnya.


Hari berikutnya mereka mengunjungi keluarga Nisa untuk menyampaikan bela sungkawa dan berterima kasih atas bantuan Adit.


"Saya sebenarnya masih tidak mengerti kenapa Nisa tiba-tiba membuat pernyataan seperti itu. Bapak sama ibu pasti tahu kan kalau saya sudah memberikan semua hak Nisa?"


"Kami juga tidak tahu kenapa Nisa seperti itu. Dia anak baik dan selalu menceritakan yang baik-baik tentang Bu Rhea. Tapi setelah bertemu tamu hari itu, dia banyak berubah."


"Tamu?"


"Seorang pria berpakaian rapi. Sepertinya orang kaya, Bu. Mobilnya bagus. Dan sempat membawakan oleh-oleh sekotak makanan juga buat Nisa kok."


"Tapi kok Ka Nisa ngga bagi-bagi oleh-olehnya ya Bu? Biasanya kan kalau punya apa-apa, Kakak pasti suka bagi-bagi." Tanya Adit dengan polosnya.


Rhea tergelitik mendengar perkataan Adit, "Mungkin Kak Nisa suka sama oleh-olehnya, jadi ngga mau berbagi sama Adit."


"Atau mungkin oleh-olehnya bukan makanan, makanya ngga bisa dibagi-bagi." Tukas Dika tiba-tiba.


Karena penasaran, sang ibu masuk ke kamar Nisa dan mencari kotak yang diterima Nisa waktu itu. Beliau menemukannya di dalam lemari Nisa. Dan betapa kagetnya mereka ketika isi di dalam kotak kue itu memang bukan makanan, melainkan uang ratusan ribu.