The Power Of Single MoM

The Power Of Single MoM
Kasus Penentu



Rhea menghadapi situasi yang lebih menyeramkan dari apa yang ia bayangkan selama ini. Pria yang pernah mengisi seluruh hati dan jiwanya datang kembali dalam kehidupannya.


Jika dulu ia hanya takut Bian akan merebut Albi darinya, kini ia takut Candra akan merebut Albi dan dirinya dari Dika. Bagaimanapun juga, Bian bukanlah ayah kandung Albi, jadi Rhea takut anaknya direbut oleh orang yang tidak berhak sama sekali atas anaknya.


Tapi soal Candra ini berbeda. Candra adalah ayah kandung Albi, pria yang menikahinya hanya selama beberapa bulan saja. Sedangkan Bian, adalah pion yang sengaja dipasang Rhea di depan Menara Petronas untuk menjadi tameng agar hubungan pernikahannya dengan Candra tidak terungkap.


Bahkan karena sangat mencintai Candra dan tidak ingin karir dan masa depan Candra hancur karena keberadaannya, Rhea rela dianggap sebagai perempuan nista yang hamil di luar nikah. Asalkan Candra berhasil menduduki posisi yang dijanjikan yakni sebagai menteri kesehatan saat itu.


***


Hari sudah cukup larut ketika Rhea tiba di rumahnya. Ia melihat Dika tengah tertidur pulas di samping Albi. Tidak biasanya ia melihat Dika tidur di kamar Albi seperti itu. Ia yakin Dika pasti memikirkan banyak hal setelah bertemu dan bicara dengan Candra.


"Baru pulang, Rhe?"


Rhea yang tengah menuang air terlonjak kaget mendengar suara Dika yang tiba-tiba saja sudah ada di belakangnya.


"Iya. Tadi masih ada sedikit urusan." Rhea menutup pintu kulkas.


"Jangan terlelu capek! Kamu juga butuh istirahat."


Rhea menghampiri lalu mengecup bibir Dika kemudian mengajaknya masuk ke kamar mereka.


Ketika kembali dari kamar mandi, dilihatnya Dika sudah kembali tertidur pulas. Padahal baru sebentar ditinggal mandi dan ganti baju. Rheapun menghenyakkan tubuhnya di samping Dika.


Perasaannya sedang tidak karuan. Ia tidak tahu bagaimana harus menghadapi Dika. Bagaimana ia harus menjelaskan semuanya kepada Dika dan Albi. Ia takut akan kehilangan semua yang diperjuangkannya selama ini karena sebuah kesalahan bodoh yang dilakukannya di masa lalu.


Ponsel Rhea bergetar, nama Tata muncul di layar. Tapi Rhea sedang malas untuk bicara soal apapun, jadi ia memilih untuk mengabaikan panggilan itu.


Tak lama kemudian, sebuah panggilan dari nomor tak dikenal juga masuk ke ponsel Rhea. Ia jadi semakin kesal karena diganggu saat ingin mengistirahatkan pikirannya yang sedang kacau. Lalu ia pun mematikan ponselnya dan pergi ke alam mimpi.


***


Keesokan paginya, Rhea sengaja menyiapkan sarapan kesukaan Dika. Ia ingin memanfaatkan momen sarapan mereka untuk membicarakan banyak hal tentang Candra.


Tapi tiba-tiba saja mereka mendengar kabar bahwa salah seorang mantan karyawan yang dirumahkan Rhea beberapa saat lalu muncul dan membuat pernyataan mengejutkan tentang Rhea yang tidak membayarkan uang pesangonnya dengan benar dan beberapa pelanggaran aturan ketenagakerjaan yang pernah dilakukan Rhea terhadapnya.


"Ya Tuhan.. Apalagi ini?"


Rhea seakan jengah dengan permasalahan yang menghampirinya bertubi-tubi.


"Kenapa Nisa tiba-tiba membahas soal pesangon? Apa kamu sempat menemuinya setelah di PHK?" Tanya Dika tak kalah penasaran dengan aksi mantan karyawan Rhea itu.


Rhea menggeleng. Selama ini hubungan mereka baik dan saat memutuskan untuk merumahkan Nisapun, tidak ada masalah diantara mereka. Semua sudah sesuai prosedur dan Nisa tidak pernah menyatakan keberatan atas apapun.


Entah kenapa gadis itu tiba-tiba saja membuat rumor untuk memfitnah dan menyudutkan Rhea. Ia yakin ada tujuan di balik semua kejadian ini. Tapi siapa lagi kali ini? Subroto? Bian? Tania? Atau bahkan mungkin saja ulah Candra? Tapi untuk apa?


***


Hari itu Rhea sangat sibuk di kantornya. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Jadi ia menunda niatnya untuk menemui Nisa.


Keesokan malamnya, sepulang dari kantor, Rhea menyempatkan waktu untuk berkunjung ke rumah Nisa. Ia ingin tahu kenapa Nisa melakukan hal seperti itu terhadapnya.


Rhea memarkir mobilnya di halaman rumah Nisa. Rumah itu terlihat sangat sepi. Berkali-kali Rhea mengucap salam tapi tak seorangpun menjawabnya.


Ketika mencoba mengetuk pintu, ternyata pintu ruang tamu rumah Nisa tidak dikunci. Rhea akhirnya memberanikan diri untuk masuk. Tapi rumah sedang kosong karena tak ada siapapun di dalamnya.


Ketika keluar rumah, Rhea sempat bertemu dengan salah seorang tetangga Nisa dan mengatakan bahwa Nisa dan keluarganya sedang pergi. Karena itu, Rhea akhirnya memutuskan untuk pulang dan kembali lain waktu.


"Pak, bisa tolong jelaskan ada apa ini? Apa salah saya?"


"Kami harus melakukan beberapa penyelidikan terkait kasus pembunuhan saudari Nisa tadi malam."


"Tapi kenapa saya, Pak?"


"Bu Rhea dicurigai karena memiliki motif yang cukup kuat untuk mencelakai korban. Selain itu, ada saksi yang melihat ibu di TKP semalam."


"Tunggu! Ini salah paham, Pak. Saya tidak melakukan apapun karena saya bahkan tidak sempat bertemu Nisa."


"Ibu bisa jelaskan semuanya nanti. Ibu juga berhak untuk didampingi pengacara."


"Ini gila, Dika! Aku sama sekali ngga berbuat apa-apa. Aku ngga mungkin ngebunuh Nisa."


"Aku tahu, Rhe. Aku percaya sama kamu! Aku akan menghubungi Pak Dani. Kamu tenang dulu ya?"


Belum sempat Dika menghubungi pengacaranya, tiba-tiba saja Hendra Priyawan, seorang pengacara papan atas yang sangat terkenal muncul dan mencari Rhea.


"Selama siang, Ibu Rhea. Perkenalkan! Saya Hendra Priyawan. Mulai sekarang saya akan mendampingi kasus Ibu sebagai kuasa hukum."


"Tunggu! Bagaimana anda bisa tahu? Dan siapa yang meminta Anda?"


Rhea tidak yakin seorang pengacara model Hendra Priyawan akan datang suka rela untuknya yang bukan siapa-siapa.


"Ibu tenang saja. Pak Candra secara khusus meminta saya untuk mendampingi dan menyelesaikan kasus ibu -"


Rhea bangkit dan memotong perkataan Hendra, "Tidak! Saya tidak butuh -"


Dika menahan Rhea. Ia meraih bahu Rhea dan menenangkannya.


"Pak, bisa kita bicara di luar sebentar?"


Hendra setuju lalu keluar lebih dulu.


"Sayang, jangan gegabah!"


"Tapi aku ngga butuh bantuan Candra. Kita bisa mengatasi ini sendirian! Kamu percaya sama aku kan, Dik?!"


Dika mengangguk dengan sabar.


"Tentu! Seperti yang selalu aku bilang, aku percaya sama kamu. Tapi, kepercayaan aku aja ngga cukup untuk mengeluarkan kamu dari sini."


"Kita bisa minta bantuan Pak Dani." Rhea mulai putus asa.


"Sayang, aku yakin Pak Dani juga mumpuni. Hanya saja ini persoalan serius. Kejahatan yang dituduhkan ke kamu adalah pembunuhan. Tentu akan lebih mudah jika kita bekerjasama dengan pengacara hebat seperti Pak Hendra."


"Tapi -"


"Kamu tenang saja. Biar aku yang bicara dengan Pak Hendra. Kamu tunggu disini!"


Jauh di lubuk hati, Dika sebagai seorang suami pun merasa enggan menerima bantuan dari Candra, mantan suami istrinya. Tapi untuk saat ini, kebebasan dan nama baik Rhea adalah hal terpenting baginya.


Untuk bisa membebaskan Rhea dan membuatnya berkumpul dengan Albi lagi, ia rela menjatuhkan harga dirinya di hadapan Candra. Bahkan jika bantuan yang diterimanya itu harus ditebusnya lain hari, ia siap menyerahkan semua yang dimilikinya. Ia hanya tidak ingin melihat Rhea menderita dan terpisah dari satu-satunya wujud kejujuran dan kebenaran yang tersisa dalam hidupnya, Albi.