The Power Of Single MoM

The Power Of Single MoM
Buah Bibir



"Assalamualaikum, Pak." Dika mengetuk pintu ruang kerja ayahnya.


"Eh, kamu. Masuk Dik. Tumben pagi-pagi sudah kesini? Ada perlu apa? Kamu ngga ngajar?"


"Ngajar kok, Pak. Ini tadi ijin sebentar buat nganter Rhea ngurus berkas pengajuan dana bantuan umkm itu loh Pak."


"Rhea?!" Pak Kades menatap Dika tajam dari balik kacatanya.


Pak Kades lalu menutup berkas yang sedang dibacanya, "Dik, Bapak ngga suka kamu dekat-dekat sama Rhea. Bagaimanapun juga -"


Malas berdebat, Dika langsung memotong pembicaraan ayahnya, "Dika tahu, Pak. Dika cuma mau bantu Rhea aja kok Pak. Supaya urusan dana bantuannya cepat cair. Kan bagus juga kalau usaha Rhea bisa menyerap banyak tenaga kerja, Pak. Semakin sedikit pengangguran di kampung kita."


"Bapak cuma wanti-wanti. Jangan sampai kamu melewati batas!"


"Nggih, Pak. Dika ngerti."


****


"Jika sampai bocor, saya pastikan bahwa kamu akan melihat bahwa semua yang diomongin orang tentang saya adalah benar."


"Apanya yang bocor, Rhe?"


Dika tiba-tiba muncul saat Rhea sedang mengancam Dian yang ternyata sudah tau siapa Rhea sebenarnya. Rhea kelagapan tertangkap basah oleh Dika.


"Oh, itu...... Eeee... Dana bantuan! Iya, itu maksudnya. Dana bantuannya jangan sampai bocor. Takutnya kalau bocor saya malah ngga jadi dapat." Rhea cengar-cengir tidak jelas. "Bener kan, Di?"


Dian yang lumayan keder dengan ancaman Rhea memilih jalan aman saja dengan mengiyakan apapun yang Rhea katakan.


"Oh, ya sudah kalau gitu. Kita balik yuk, Rhe! Saya harus segera kembali ke sekolah."


"Loh, mas Dika yakin urusannya sudah selesai semua? Coba diingat-ingat lagi siapa tahu ada yang kelupaan. Misalnya lupa untuk mengurus surat nikah." goda Dian kepada putra Pak Kades yang sedang kasmaran itu.


Rhea mendekati Dian lalu kembali berbisik, "Sebaiknya jangan ikut-ikutan jadi infotainment kampung, kalau Pak Kades sampai dengar dan saya dapat masalah, maka kamu berurusan sama saya."


"Santai saja, Mbak Rhea. Kalaupun didenger Bapak malah bagus, supaya buku nikahnya langsung ditandatangani, bonus restu, cie... "


Rhea mengepalkan bogemnya ke udara tepat di hadapan Dian untuk memberinya peringatan. Sementara yang diingatkan hanya cengar-cengir saja, tidak takut sama sekali.


***


Siang itu Dian mengamati KTP dan formulir pengajuan bantuan dana umkm atas nama Rhea Anabarja yang diserahkan Dika kepadanya.


"Rhea Anabarja?!" Gumam Dian dalam hati


Ia merasa familiar dengan nama itu, tapi entah siapa dan dimana. Ia terus memikirkan nama itu sepanjang hari. Ia berkali-kali mengamati foto di KTP Rhea yang diambil ketika ia baru berusia tujuh belas tahun. Dian mulai ragu.


Sekilas foto di KTP itu memang sangat mirip dengan Rhea si bintang film "Dara" favoritnya saat awal masuk SMA dulu. Tapi untuk apa artis setenar Rhea tinggal di desanya yang sangat pelosok dan terpencil seperti itu?


Beberapa tahun lalu, Dian sempat melanjutkan sekolah menengah atasnya di kota, jadi ia sering melihat televisi dan bioskop bersama teman-temannya di kota. Saat itu film "Dara" yang dibintangi Rhea sedang populer dan banyak digandrungi remaja karena mengceritakan kehidupan remaja yang kental akan cinta dan persahabatan. Dan memang kemampuan peran Rhea dalam film itu sangat bagus dan mengesankan. Jadi tak sedikit dari remaja kala itu yang jatuh hati dan mendeklarasikan diri sebagai penggemar setia Rhea Anabarja.


Namun, Dian sungguh tak menyangka bahwa ia akan bertemu dengan artis idolanya itu di kampung halamannya yang bisa dibilang jauh dari peradaban karena belum banyak warga yang memiliki televisi atau bahkan saluran internet yang bebas hambatan seperti di tempat-tempat lain. Dan yang lebih mengejutkan lagi bahwa sepertinya sang artis yang kabarnya sekarang berstatus janda beranak satu tengah dekat dengan putra tunggal Pak Kades, pimpinan di desa tempatnya mengabdi sekarang.


***


Sepeninggalan Rhea dan Dika dari balai desa, kabar kedekatan keduanya jadi semakin banyak dibicarakan. Bu Ulin menyebarkan berita bahwa Pak Dika sedang berpacaran dengan tetangganya, si penjahit yang lagi naik daun di kampungnya dan ditambahkan juga bahwa mereka akan segera mengurus buku nikah di balai desa. Gosip jadi semakin sedap dibicarakan karena mereka juga pernah melihat Dika datang ke sekolah dan mengajar di kelas sambil menggendong Albi yang katanya anak tetangganya.


Sementara para perangkat desa juga sedang hangat-hangatnya membahas kabar kedekatan mereka. Bagaimana tidak? Dika yang selama ini dikenal kalem dan anteng, ternyata bisa juga menjadi sangat romantis karena rela untuk ijin dari sekolah demi mengantar sang gebetan ke balai desa. Ditambah lagi mereka melihat pancaran penuh cinta di wajah tampan Dika yang selama ini lempeng-lempeng saja bak jalan tol.


Tak hanya itu, ibu-ibu yang siang itu sudah mulai banyak yang berdatangan ke rumah Rheapun banyak yang menyaksikan langsung adegan romantis dimana Dika yang masih berpakaian seragam dan di jam kerja, membonceng Rhea pulang dengan sepeda kayuh kesayangannya. Sontak saja pemandangan tak biasa itu mengundang banyak mata, bibir dan telingan untuk berspekulasi bahwa keduanya sedang berpacaran.


"Loh, Mas Dika sama Mbak Rhea dari mana? Kok baru jam segini sudah main bonceng-boncengan aja?" tanya salah seorang ibu yang ikut berlatih menjahit di rumah Rhea.


"Oh, dari balai desa bu, cari pinjaman modal buat beli mesin. Biar kita belajarnya semakin cepat dan bisa cepat dapat duit juga." jawab Rhea apa adanya.


"Oh, cari pinjaman modal tho? Kirain cari restu orang tua." goda salah seorang ibu lain yang disambut tawa semua orang yang ada disana.


"Kan malah bagus kalau sekalian dapat restu dari Pak Kades, biar Mas Dika bisa cepet ada yang ngurusin." timpal Mbok Tun yang kebetulan lewat di rumah Rhea.


"Mbok Tun bisa aja.." jawab Dika malu-malu.


Hari itu mereka tak henti-hentinya menggoda dan mengganggu Rhea dengan kekepoan mereka tentang hubungan Rhea dan Dika yang memang terlihat jelas bahwa Dika sangat menyukai Rhea. Sejak awal Rhea datang ke kampung mereka, Dikalah yang paling banyak berjasa kepada Rhea. Mulai dari mengantar Rhea dan koper-kopernya le rumah Bara, membawa Rhea yang sedang pendarahan ke rumah sakit, sampai mengantar Rhea dan Albi ke Sukabumi.


Tidak hanya itu, saat Rhea ujian dan tidak bisa membawa Albi, bahkan kadang Dikalah yang membantunya dan rela membawa Albi ke sekolahnya. Tentu saja itu membuat teman-teman Dika di sekolahan semakin yakin bahwa Dika sudah berusaha dengan baik sejak dini untuk menjadi ayah baru bagi Albi.


Rupanya bisik-bisik tetangga itu sedang berhembus kencang dan sampai juga di telinga Pak Kades. Sebagai ayah Dika, ia merasa sangat kecewa dan malu karena anak lelaki tunggalnya yang sangat digadang-gadang layaknya putra mahkota pujaan banyak wanita malah memilih seorang janda beranak satu yang tidak jelas asal-usulnya dan tidak lain adalah pembantu rumah tangganya sendiri, Rhea. Ia yakin bahwa sudah tiba saatnya ia untuk berbicara lebih serius tentang masa depan putra semata wayangnya itu. Ia tidak ingin kelak dipersalahkan sang istri jika bertemu di akhirat kelak gara-gara gagal menjaga satu-satunya amanah yang dititipkan kepadanya.