The Power Of Single MoM

The Power Of Single MoM
Anak Mommy



Hari itu, sebelum berangkat ke Desa Sumber, Rhea mengantar Albi, Tata dan Neti ke studio rekaman. Seorang wanita tengah memperhatikan Rhea yang berpamitan dan memeluk bocah lelaki kecil itu erat, dari dalam studio.


Albi terlihat sangat menggemaskan, membuatnya nelangsa mengingat dirinya yang mandul dan tak kunjung memiliki anak. Bagaimanapun anak itu adalah darah daging suaminya. Ia merasa memiliki keterikatan emosional dengan anak itu.


Ketika Albi memasuki studio, wanita itu menyapa Albi ramah, mengajaknya ngobrol lalu dengan riang menemani Albi memasuki ruangan.


Neti dan Tata berpandangan heran. Kenapa rubah berhati dingin itu tiba-tiba saja menjadi ramah dan hangat seperti hari itu.


"Ta, ada yang harus kita urus. Bisa ikut gue sekarang? Urgent!" Ragil tiba-tiba saja datang dan mengajak Tata pergi.


"Tapi, Albi?" Tata ragu meninggalkan Albi sendirian.


"Kan ada Neti. Ngga lama kok."


Tata berfikir sejenak. "Net, tolong jagain Albi sebentar ya? Kalau ada apa-apa langsung hubungin gue."


"Siap, kak!"


***


Setelah Tata pergi bersama Ragil, Bian datang ke studio dan melihat istrinya sedang bersenda gurau dengan Albi. Ia merasa senang melihat Tania bisa membuka hati kepada darah dagingnya itu.


"Hari ini jadwal rekaman Albi sampai jam berapa? Tolong reschedule! Aku mau ajak dia jalan-jalan sebentar." Tania menyapa suaminya yang baru saja masuk


Bian yakin Rhea tidak akan mengijinkan jika saja tahu rencana Tania kepada Albi.


"Rhea sedang pergi ke luar kota. Ya kan Albi?"


Albi mengangguk.


Tanpa menunggu persetujuan Bian, Tania langsung membawa Albi pergi ke mall milik ayahnya. Mengajaknya bermain di playground sepuasnya, membelikannya banyak pakaian, mainan dan sepatu.


"Albi seneng ngga?"


"Seneng, Tante."


"Albi pengen beli apa lagi? Ini mall punya papanya Tante, jadi Albi boleh beli apapun yang Albi mau.


"Beneran?" Bocah lugu itu memikirkan banyak hal di kepalanya.


Albi kemudian menunjuk sebuah bantal kecil berbentuk buah jeruk.


"Albi suka ini?"


Bocah itu menggeleng, "Ini untuk Mommy duduk supaya ngga capek kalo lagi duduk lama pas jahit baju. Mommy juga suka banget sama buah jeruk."


Tania benar-benar iri dengan Rhea.


Setelah puas bermain di mall, Tania mengajak Albi mampir ke rumahnya. Dan ternyata mereka bertemu dengan Rio yang baru saja keluar dari rumah Tania dengan membawa koper miliknya.


Seperti anjing dan kucing, kedua kakak beradik itu kembali adu mulut dan saling memaki. Setelah Rio pergi, Tania menangis maretapi kata-kata adiknya yang kasar dan menyakitkan.


Albi tidak tega menyaksikan Tania menangis di hadapannya. Ia kemudian meraih tangan Tania dan berusaha menenangkannya.


"Jangan nangis ya Te?"


"Maafin Tante ya sayang? Tante ngga akan nangis lagi. Main yuk!"


Keesokan harinya Tania kembali membawa Albi main ke rumahnya tanpa sepengetahuan Tata. Sementara Neti hanya mengawasi dan menjaga saja dari dekat Albi, memastikan agar bocah yang diasuhnya itu aman dan nyaman.


Tania mendatangkan tukang untuk merubah kolam renangnya menyerupai wahana permainan air yang seru untuk Albi. Ia menemani Albi bermain sepanjang hari.


"Om Bian!" Sapa Albi riang


"Hai Albi sayang, lagi mainan apa? Seneng banget kayanya."


"Tante Tania baik banget, Om. Ini aku dibuatin wahana air. Seru banget."


"Ya udah, Albi lanjutin mainnya yah? Om Bian balik kerja dulu."


Bian berlalu begitu saja tanpa menyapa Tania yang ada di dekatnya.


"Albi, Albi mau ngga panggil Tante dengan sebutan Mama?" Tanya Tania tiba-tiba.


Bian menghentikan langkahnya, penasaran dengan jawaban Albi.


Albi menatap mata Tania yang berkaca-kaca.


"Tante sudah lama banget pengen punya anak. Tapi Tuhan belum kasih Tante ijin untuk jadi ibu seperti ibu kamu."


Air mata Tania mulai berlinang.


Albi akhirnya mengangguk, "Mama!"


Tania memeluk tubuh Albi, "Makasih sayang."


Bian berbalik dan menghampiri Albi yang tengah dipeluk Tania. "Boleh Om Bian juga minta untuk dipanggil Papa?"


****


Rhea menangis meratapi perbuatannya kepada Albi yang tengan tertidur lelap di hadapannya. Ia juga tidak percaya bisa segila itu mendengar Albi menyebut orang lain dengan sebutan Mama.


Setelah mendengar Albi menyebut Tania mama, Rhea meradang. Ia menemui dan mengusir Bian dan Tania dari rumah ayahnya. Ia bahkan memarahi Albi yang mau memanggil wanita asing seperti Tania dengan sebutan mama.


Saking marahnya, Rhea hampir saja menampar Albi yang berusaha membela Tania.


"Kasihan Tante Tania ngga bisa punya anak, Mom. Tante Tania sayang sama Albi dan ingin Albi memanggilnya Mama." Ujar Albi polos.


"Dengar, cuma Mommy satu-satunya ibu Albi. Albi ngga boleh sebut siapapun, apalagi Tania dengan sebutan Mama!"


"Tapi Mom -"


"Atau Mommy kasih Albi pilihan. Albi pilih Mommy atau Tante Tania?!"


Dengan tubuh bergetar dan mata berkaca-kaca, Albi mengucapkan "Mommy"


Setelah semua hal berat yang dilaluinya, Albi akhirnya bisa beristirahat. Rhea tak henti-hentinya memandangi wajah putranya sambil terus meneteskan air mata.


Tidak seharusnya Albi mendapatkan perlakuan kasar seperti itu darinya. Tapi membayangkan Bian dan Tania yang berniat merebut Albi darinya membuat Rhea menggila. Ia tidak bisa lagi menahan diri.


Dika kemudian datang dan memeluk Rhea yang tak kunjung berhenti menangis.


"Ngga ada yang perlu kau takutkan. Albi anak kita dan sampai kapanpun dia akan tetap bersama kita."


"Tapi Bian...."


"Ssssstt.. Bian tidak akan bisa berbuat apa-apa. Jika dia nekat, aku sendiri yang akan membereskannya."


Rhea merasa sedikit lebih lega karena ada Dika yang akan selalu melindunginya dan Albi. Meskipun begitu, Rhea harus mencari cara untuk menjauhkan Albi dari Bian dan Tania.