
Siang itu Candra sengaja mendatangi kediaman Roy Budiman. Ada banyak hal yang harus ia bicarakan dengan salah satu pengusaha paling berpengaruh di negri ini.
"Sudah lama kita tidak bertemu, Pak Candra."
"Hmm, mungkin karena saya tidak lagi menjadi menteri."
"Hahaha.. Anda masih saja suka bercanda seperti dulu. Mungkin karena itulah Pak Presiden jadi sangat sayang kepada Anda."
"Jika sayang, Beliau seharusnya mempertahankan saya selama beliau menjabat, hahaha..."
"Itu pasti karena beliau tidak ingin Anda terlibat dalam kasus Subroto."
Candra menyruput kopinya perlahan, "Beliau bahkan tidak pernah tau bahwa kejadian itu pernah ada."
"Lalu kenapa Anda membiarkannya terbuka? Bukankah lebih baik jika Anda meninggalkan catatan bersih selama masa jabatan Anda?"
"Karena kadang sekuat apapun kita menutupi bangkai, aromanya pasti akan tercium juga." Candra tersenyum penuh makna.
"Atau lebih tepatnya anda sengaja meniupkan angin kencang agar aromanya kian menyebar dan tercium."
Lagi-lagi Candra tertawa.
"Jika Anda sudah sebegitu paham, Anda tidak seharusnya menyimpan bangkai yang sama."
"Apa maksud Anda?"
"Nisa. Gadis yang dinyatakan bunuh diri itu -"
"Tunggu! Apa anda pikir itu perbuatan saya?"
"Saya tidak mengatakan demikian."
"Maaf, tapi Anda harus tahu bahwa saya tidak membunuh gadis itu."
"Mungkin. Tapi Andalah yang memaksa gadis itu untuk mengakhiri hidupnya."
"Apa maksud Anda?"
"Anda yang memaksa dia muncul ke hadapan publik. Apa anda pernah berfikir tentang beban mental dan moral yang dideritanya? Apa Anda pernah berfikir bahwa apa Anda cukup layak untuk mengorbankan kehidupan pribadi gadis itu dengan kepentingan pribadi Anda?"
"Saya hanya ingin memberikan apa yang diinginkan putri saya. Saya ingin putri saya pulih dan kembali normal. Apa itu salah?"
"Sejak kapan orang waras mengikuti kemauan orang yang mengalami gangguan kejiwaan itu dianggap lumrah dan benar?"
"Dokter!"
"Tania hanya butuh Bian. Bianlah yang bisa mengurangi depresi dan rasa kecewa Tania. Bukan obat-obatan apalagi keinginan impulsif untuk mengalahkan lawan seperti itu."
"Saya tidak sudi mengijinkan Bian kembali dengan anak saya."
"Maka kita akan lebih sering bertemu di rumah sakit dalam waktu yang cukup lama."
****
Dika berjalan mondar-mandir di depan ruang bersalin. Hari itu Rhea sedang melakukan operasi caesar untuk melahirkan anak keduanya.
"Dad! Kenapa sih Daddy ngga duduk aja. Albi pusing liatnya."
"Albi, itu Daddy lagi ngga sabar buat nunggu adik lahir. Kalau Daddy duduk ntar yang ada perutnya ikutan mules." Ujar Tata berusaha memberi Albi pengertian.
"Emang dulu pas Albi lahir, Daddy kaya gitu juga?"
Dika tiba-tiba saja menghentikan langkahnya lalu duduk di dekat Albi.
"Daddy lebih panik daripada ini. Karena waktu itu Albi buru-buru pengen ketemu mommy padahal belum waktunya. Terus mommy juga kebetulan pas lagi sakit. Jadi Daddy malah ngga bisa tenang semalaman."
"Padahal kan Daddy bukan ayah kandungnya Albi?"
Dika kaget mendengar perkataan Albi.
"Ayah kandung?"
Albi mengangguk. "Kata teman-teman, ayah kandung itu ayah asli."
"Terus darimana Albi tahu kalau Daddy bukan ayah kandung Albi?"
"Tivi. Teman-teman juga."
"Sejak kapan Albi tahu?"
"Sejak Tante Tania datang ke rumah dan bertengkar sama Mommy."
"Albi kecewa sama Daddy sama Mommy?"
***
Keesokan harinya, Candra yang kebetulan sedang praktek di rumah sakit tempat Rhea melahirkan, menyempatkan diri untuk mengunjungi Rhea dan bayi perempuannya yang diberi nama Alana.
"Selamat ya Dik. Sekarang keluarga lo dah lengkap."
"Makasih Cand."
"Alana cantik banget Rhe, mirip kamu."
"Alhamdulillah Cand, aku dah sempat was-was, takut dia mirip kamu, haha..."
"Bisa aja lo Rhe!"
Ketika hendak meninggalkan ruangan, Candra bertemu dengan Albi yang baru datang dari sekolah bersama Neni.
"Halo, Albi sayang!" Mereka berdua melayangkan tos di udara
"Gimana sekolahnya?"
"Baik. Tadi ulangan matematika Albi dapet sembilan puluh."
"Wah! Albi hebat yah? Tambah rajin belajarnya ya nak? Biar Mommy sama Daddy makin bangga sama Albi."
"Siap, Pi!"
"Pi?!" Tanya Candra dan Rhea bersamaan.
"Kata Daddy, lebih baik panggil Papi daripada Pak De kan?"
"Dik????" Candra menatap Dika.
Dan Dika pun mengangguk. "Albi terus penasaran dengan ayah kandungnya. Jadi aku tidak punya pilihan lain."
Candra menatap Albi yang tengah tersenyum manis di hadapannya. Ia lalu memeluk dan menggendong Albi keluar dari ruangan.
"Tenang sayang... Mereka butuh waktu untuk saling mengenal satu sama lain."
"Tapi -" Rhea masih saja khawatir.
"Sama seperti Alana yang butuh waktu untuk mengenal kita." Tapi Dika selalu punya cara untuk mengatasi kekhawatiran Rhea.
Sementara itu, Albi dan Candra mulai menemukan banyak kecocokan dan memutuskan untuk mulai berteman baik. Yah, alih-alih membangun hubungan ayah dan anak, Candra lebih memilih untuk memulai semuanya dari sebuah pertemanan.
Seperti yang pernah ia katakan. Ia tidak terburu-buru untuk diterima sebagai ayah. Ia akan menunggu sampai Albi merasa yakin bahwa dirinya layak untuk dijadikan ayah.
Ketika mengantar Albi kembali ke ruangan Rhea, Candra bertemu dengan Tata yang sedang mengobrol akrab dengan Rhea. Ia kemudian pamit karena masih harus melayani pasiennya yang lain.
"Rhe, itu bukannya Candra ya? mantan menteri kan?"
Rhea mengangguk.
"Kok dia ada disini? Kenal sama Albi?"
"Kenapa?"
"Tu orang ganteng banget, Rhe! Ramah dan berkharisma. Dokter pula. Sempurna!"
"Lo naksir, Kak?"
"Gue dah lama banget ngefans ama dia. Dari jamannya masih jadi menteri. Ngga nyangka bisa ketemu langsung disini. Eh tapi tunggu! Dia ngga lagi ngerawat elo kan?"
"Ya nggalah. Lo kira gue gila?"
"Terus ngapain?"
"Nengokin Alana."
"Rhe, kenalin gue ma dia dong!"
"Boleh.. mau gue comblangin juga ngga papa. Asal lo mau jadi ibu tiri Albi."
"Tunggu! Maksud lo apa sih? Ngga ngerti gue."
"Candra itu ayah kandungnya Albi. Mantan suami gue."
"What?! Kok lo ngga pernah cerita sih? Terus Dika tahu? Kapan kalian nikah? Kenapa cerai? Terus dia ngajak balikan lagi? Terus Bian gimana? Rhe, lo serius? Rhe....? Dika....? Albi......? Jadi ni gue orang terakhir yang tahu ceritanya?"
_ Tamat _