The Power Of Single MoM

The Power Of Single MoM
Kompensasi



Sementara itu, Albi masih saja tidak mengerti dengan sikap ibunya yang tiba-tiba saja sangat sensitif, mudah marah setiap kali Albi menyebut nama Tania dan Bian.


"Dad, kenapa sih Mommy ngelarang Albi panggil Tante Tania dengan sebutan Mama dan Om Bian dengan sebutan Papa? Mereka kan baik banget sama Albi?"


"Itu karena Mommy sayang banget sama Albi."


"Tapi kenapa seperti itu?"


Dika berfikir sejenak tentang bagaimana cara menjelaskannya kepada anak sekecil Albi. Dika kemudian menghampiri beberapa anak yang sedang bermain tidak jauh dari mereka.


Ia berbicara akrab dan meminta anak-anak itu untuk memanggilnya Daddy. Ia lalu membelikan es krim dan kembang gula untuk anak-anak itu dan bermain bersama mereka tanpa menghiraukan Albi yang memperhatikan mereka dari jauh.


Tak lama kemudian, Albi menghampiri Dika dengan marah karena merasa diabaikan dan tidak lebih diperhatikan daripada anak-anak yang tidak dikenalnya itu. Ia kemudian mendorong salah seorang anak yang berusaha mendekati Dika dan memanggilnya Daddy.


"Minggir! Itu Daddy aku! Bukan Daddy kamu! Teriaknya pada anak itu.


Dika kemudian memeluk dan menggendongnya, lalu membawanya pergi dari taman itu.


"Aku ngga mau mereka ngambil Daddy dari aku!"


"Iya sayang, sama seperti Mommy yang ngga mau Albi dekat dengan Tante Tania, apalagi sampai panggil Tante Tania dengan sebutan Mama."


"Albi janji ngga akan panggil Tante Tania, Mama lagi."


***


Dika sudah mendengar tentang pertengkatan antara Rhea dan Tata. Karena itu, ia sengaja mengajak Tata untuk berbicara di luar rumah untuk meluruskan kesalahpahaman di antara mereka.


Tak lama setelah Dika tiba, Tata datang ke kafe dengan mengendarai sedan merahnya.


"Kak, saya sudah dengar semuanya dari Rhea. Dan saya mewakili Rhea mau minta maaf. Rhea butuh waktu untuk memikirkan kesalahannya tapi saya yakin setelah itu, dia akan mencari Kak Tata untuk minta maaf."


"Gue tahu, Dik. Gue lebih lama kenal Rhea daripada elo. Dan gue juga sebenernya tahu betul kenapa dia marah ke gue. Hanya saja waktu itu gue bener-bener kesel karena Rhea selalu saja nyalahin gue. Ngga pernah mau koreksi diri. Dia belum berubah soal itu."


"Rhea beruntung punya sahabat kaya Kak Tata."


"Bisa aja lo, Dik."


"Oh ya, kak. Ada satu lagi yang mau saya sampein sama Kak Tata. Karena kami sudah menikah, kami berniat untuk pindah ke rumah kami sendiri lusa."


"Kok gue jadi sedih ya, Dik. Gue bakal kesepian banget tanpa kalian."


***


"Albi, boleh Mommy tahu, apa aja yang sudah Albi lakuin sama Om Bian dan Tante Tania?"


"Ngga ada, Mom. Tante Tania cuma pernah ajak Albi jalan-jalan ke mall, beli baju, mainan, handphone terus mampir ke rumah Tante Tania yang gede banget. Ada kolam renangnya, Mom."


"Kalau Mommy, bisa beliin Albi rumah yang ada kolam renangnya, Albi janji ngga bakal main sama Tante Tania sama Om Bian lagi?"


Albi tampak ragu menjawab. Cukup lama Rhea menunggu tapi Albi tidak kunjung menentukan pilihan.


"Apa boleh kalau Albi tetap ketemu dan main sama Tante Tania? Albi janji ngga akan panggil Tante Tania mama lagi."


"Tapi kenapa Albi? Albi sayang sama Tante Tania?"


"Albi cuma kasihan, Mom. Tante Tania itu kesepian. Dia ngga punya siapa-siapa."


"Tante Tania punya Om Bian, sayang."


Albi menggeleng, "Tante Tania sama Om Bian jarang bicara, Mom. Papa Mamanya Tante Tania juga di luar negeri. Om Rio, adiknya Tante Tania, selalu aja bertengkar kalau ketemu Tante Tania. Tante Tania juga pernah bilang kalau Albi adalah satu-satunya teman Tante Tania."


"Sayang, Tante Tania itu kerjanya enak, teman-temannya di kantor juga banyak. Sama kaya teman-teman Albi di sekolah."


Lagi-lagi Albi menggeleng, "Ngga, Ma. Kata Tante Tania, teman-temannya di kantor sangat menakutkan. Tante Tania takut sama semua orang kecuali Albi."


Rhea membulatkan tekad untuk bertemu dan berbicara dengan Tania. Ia harus memberi wanita itu pengertian dan penjelasan agar mau menjauh dan tidak memberikan pengaruh buruk kepada Albi.


****


Siang itu, Rhea menemui Bian di salah satu rumah makan di dekat kantor Star Ray.


"Angin apa yang ngebawa lo nemuin gue, Rhe?"


"Gue mau memutus kontrak Albi."


"Ngga bisa kaya gitu dong, Rhe. Kita sudah sepakat terkait kontrak kerja Albi. Kalau lo mutusin sepihak gini, lo bakal nanggung ganti rugi yang gede."


"Gue lebih baik bangkrut dan kerja dari nol lagi daripada harus bekerjasama dengan bajingan kaya elo."


"Jangan egois! Lo harus pikirin Albi. Dia sedang berada di puncak karir dan lo mau ngejatuhin dia gitu aja?"


Rhea tertawa, "Lucu! Gue ngelakuin ini justru karena gue mikirin Albi. Ngga sehat kerja sama orang sakit kaya elo. Albi mungkin kehilangan kesempatan kali ini. Tapi gue bakal pastiin kalau dia bisa jauh lebih sukses tanpa elo. Lo pasti tahu gue ngga pernah nyerah kalau sudah bertekat."


Bian agak khawatir mendengar perkataan Rhea. Bagaimanapun juga ia tidak ingin mengalah dengan mudah.


"Well, gue udah denger keinginan lo dan gue ngga ada masalah. Semua keputusan ada di tangan lo. Kalau elo emang sudah yakin untuk memutus kontraknya, gue harap lo siap dengan segala resikonya."


"Pasti!" Jawab Rhea lantang.


Bian meninggalkan Rhea.


Seseorang sedang menyaksikan mereka dari ujung ruangan. Meskipun tidak mendengar dengan jelas, namun ia bisa menangkap apa yang sedang mereka berdua bicarakan.


***


Hari itu Rhea, Albi dan Dika pindah ke rumah baru mereka. Meskipun tidak terlalu besar, rumah itu memiliki kolam renang dan studio music kecil untuk tempat Albi bermain dan berlatih.


Tata datang dengan membawa banyak makanan dan minuman. Ia ingin memberikan pesta kecil untuk rumah baru sahabatnya itu.


Rhea menyambut Tata dengan senang hati. Rupanya secepat dan semudah itu mereka berbaikan seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Rhea juga mengundang beberapa teman dekat Albi di sekolah untuk bermain dengan Albi di kamar barunya.


"Kak, maafin gue ya?"


"Iya gue dah maafin lo, kok. Gue juga minta maaf sama elo."


"Oh ya, Kak. Tolong urus pemutusan kontrak Albi dengan Star Ray. Gue udah ketemu sama Bian dan dia setuju soal itu."


"Ragil juga sudah hubungin gue soal itu. Apa lo sudah yakin, Rhe?"


Rhea mengangguk, "Gue bakal bayar semua denda dan kompensasi sesuai aturan hukum. Jadi tolong minta pengacara untuk mengkaji semuanya."


"Rhe, sebenernya ada yang mau gue sampaiin ke elo soal itu."


"Apa?"


"Jadi semalem Ragil hubungi gue dan cerita soal keputusan lo buat narik Albi dari Star Ray. Dia juga bilang kalau lo juga punya pilihan untuk menghindari denda dan ganti rugi yang gede itu."


"Intinya aja deh, Kak!" Rhea tidak sabar mendengar maksud dari kalimat Tata


"Bian berniat meringankan kompensasinya asal Albi mau hadir terakhir kalinya di acara pernikahannya Rio, adiknya Tania. Coba deh lo pertimbangin, Rhe."


Rhea tampak berfikir dan menimbang baik-baik. Ia harus memastikan motif dibalik kebaikan Bian tersebut. Kenapa dia tiba-tiba saja ingin meringankan kompensasinya padahal sebelumnya ia bersikeras menuntut ganti rugi untuk mengancam dan menekan Rhea.


"Kasih gue waktu buat berfikir, Kak. Gue juga harus bahas ini sama Dika."


"Sure! Take your time!"