The Power Of Single MoM

The Power Of Single MoM
Bos



"......... Terakhir dan yang harus banget lo tahu, Dika ngga bekerja demi uang. Dia sama sekali ngga ngambil uang yang gue tawarin buat jadi suami pura-pura lo."


"Apa?!"


"Dia ngelakuin tulus pengen ngebantu lo sama Albi. Dia ngga pengen lo terus-terusan sembunyi dan lari dari kenyataan karena merasa rendah diri sebagai seorang ibu tunggal yang belum pernah menikah. Dia juga pengen Albi mendapat kesempatan untuk berkarya dan berprestasi di dunia tarik suara tanpa bayang-bayang kelam ibunya di masa lalu. Dika ngga pernah ngambil sepeserpun dari gue. Dan sampai detik inipun gue ngga tahu nomor rekening dia berapa. Karena dia emang ngga tertarik sama duit lo dan Albi."


Rhea meneteskan air matanya. Ia tidak kuasa menahan penyesalannya karena telah berfikir buruk tentang Dika. Ia tidak pernah tahu bahwa pria itu telah banyak melalukan hal besar untuknya dan Albi.


Sejak ia tiba di rumah Bara, melahirkan, pulang ke Sukabumi, dilabrak warga, sampai kembali ke dunia hiburan, Dikalah yang selalu berada didekatnya dan mendukungnya dengan tulus.


"Ngga ada lagi pelanggaran kontrak atau kerjaan yang belum beres antara kita dan Dika. Hanya perasaan lo aja yang sepertinya perlu segera lo beresin. Gue khawatir kalau Dika pulang buat nikah sama Diana."


"Apa?! Mana boleh seperti itu?! Buat apa dia bantu gue sejauh ini kalau ujung-ujungnya dia bakal ninggalin gue dan nikah sama orang lain?!" Emosi Rhea meledak-ledak bercampur tangis dan kekesalan.


Tata mengangkat kedua bahunya, "Mana Dika tahu kalau nyatanya lo juga punya perasaan yang sama buat dia. Kalau gue jadi Dika, gue juga bakal milib yang pasti-pasti aja deh... Diana jelas-jelas sudah jadi tunangannya dan dia juga ngga bakal nolak kalau Dika ajak nikah. Jadi buat apa dia terus-terusan nungguin elo yang ngga jelas."


"Kak, apa gue masih punya hak untuk mengharapkan cinta Dika?"


"Tentu, Rhe. Lo juga manusia biasa. Perempuan biasa yang punya hati dan perasaan. Sah-sah saja kalau lo juga cinta sama Dika. Cinta itu milik semua orang. Dan Dika belum jadi milik Diana seutuhnya. Tinggal lo mau perjuangin cinta lo atau menyerah karena ketidakpercayaan diri lo yang ngga beralasan."


"Jadi, apa lo mau jaga Albi sampai gue bisa bawa Dika balik, kak?"


"Tentu, sayang. Gue bakal pastiin Albi makan dan minum susu, mandi dan tidur tepat waktu, belajar, bermain dan bekerja sesuai jadwal yang lo buat."


Rhea memeluk tubuh Tata erat, "thanks kak. Lo emang debes banget buat gue."


"Anytime, babe. Btw, apa yang lo omongin di closing statement tadi kan ngga ada di skrip? Lo sengaja nambahin? Biar lebih booom gitu?!"


Rhea menggeleng, "Gue tiba-tiba ngomong gitu aja. Konyolnya gue berharap Dika denger terus balik ke studio buat nyamperin gue ma Albi."


Tata tertawa terbahak-bahak. "Lo kira ini drama korea?!"


"Gue pasti dah gila!" Rhea memasukkan potongan besar brownies ke dalam mulutnya.


"Gila karena cinta."


Kring...


Sebuah panggilan masuk ke ponsel Tata.


"Rhe, sepertinya, lo harus tunda dulu keberangkatan lo ke desa. Bos Star Ray mau ketemu sama kita."


"Bos?"


****


"Bapak kenapa tho? Kok bisa sampai dirawat di rumah sakit gini?"


"Bapak sudah baikan kok, Dik. Kemarin Bapak cuma kaget aja, ngga nyangka kalau Pak Camat beneran tertangkap OTT. Tapi Bapak bersyukur karena memilih untuk tidak terlibat. Coba waktu itu Bapak nurut sama beliau, bisa-bisa sekarang Bapak sudah tidur di penjara, Dik, bukan di rumah sakit seperti ini."


"Maafin Dika ya, Pak. Dika baru tahu kalau Bapak dirawat disini. Hp Dika dicuri waktu di bus semalem, Pak. Jadi Dika ngga denger kabar kalau Bapak pingsan dan dilarikan ke sini."


"Ndak papa, Dik. Yang penting sekarang kamu sudah disini sama Bapak."


"Nggih, Pak. Kalau gitu sekarang Bapak istirahat dulu saja. Biar cepet pulih dan bisa pulang."


Pak Kades mengangguk, lalu kembali tidur.


Sekarang Dika mengkhawatirkan keadaan Diana. Meskipun ia tidak memilikk hubungan yang bisa dikatakan baik dengan gadis itu, tapi mereka pernah bertunangan dan hampir menikah. Dika tidak bisa diam saja dan berpura-pura tidak peduli dengan apa yang sedang dialami Diana. Ini juga pasti sangat berat baginya.


Dika tidak bisa membayangkan bagaimana malu dan sedihnya keluarga Diana harus menerima kenyataan bahwa kepala keluarga mereka yang selama ini disegani dan dihormati oleh masyarakat, harus mendekam di balik jeruji besi karena kasus korupsi yang sangat memalukan. Dika tidak bisa menghubungi Diana karena ponselnya hilang.


Jadi Dika terpaksa bersabar sambil menunggu ayahnya pulih dan diijinkan pulang, agar ia bisa segera menemui dan menanyakan kabar dan keadaan Diana dan keluarganya.


***


Dua hari kemudian, Pak Kades diijinkan pulang karena kondisinya sudah stabil dan bisa berobat jalan. Setelah merampungkan urusan ayahnya, Dika bergegas menemui Diana di rumahnya.


"Diana sudah pergi, Dik. Malam itu juga Diana dijemput Rio dan dibawa pergi ke rumah orang tua Rio di ibukota." Bu Camat bercerita terbata-bata sembari menahan isak tangisnya.


"Syukurlah kalau begitu. Setidaknya, dia punya waktu untuk berfikir dan menenangkan diri. Lalu ibu sendiri bagaimana?"


Bu Camat tak kuasa menjawab pertanyaan Dika. Ia tidak tahu persis bagaimana keadaannya. Ia hanya merasa sedih, takut dan malu dengan apa yang terjadi.


"Ibu masih shock, Dik. Tapi Mbak yakin ibu akan segera membaik. Kamu tenang aja yah? Mbak akan jaga dan rawat ibu." Wulan, kakak Diana memeluk dan mengelus pundak ibunya yang belum juga bisa menerima kenyataan bahwa suaminya sudah ditangkap.


Karena kondisi Bu Camat masih belum stabil, Wulan kemudian membawanya berisitirahat di kamar.


"Dika, ada yang mau Mbak omongin sama kamu."


"Soal apa, Mbak?"


"Diana. Tadi pagi Diana telepon Mbak. Dia bilang dia ngga mau balik ke sini lagi karena malu." Wulan menatap Dika, "kamu tahu gimana Diana, kan? Dia selalu bertindak gegabah dan ngga pernah berfikir panjang."


Dika mengangguk-angguk karena merasa sangat setuju dengan pendapat Wulan tersebut.


"Dia bilang akan menikahi Rio dan tinggal menetap di ibukota."