The Power Of Single MoM

The Power Of Single MoM
Alay



Pak Kades membukakan pintu rumahnya. Ia penasaran dengan tamu yang datang ke rumahnya malam-malam begitu.


"Assalamualaikum, Pak. Dika ada?" Rhea mencium punggung tangan Pak Kades.


"Waalaikumsalam. Dika sedang ke kota. Ada urusan. Mungkin besok baru balik."


Rhea terlihat kecewa karena tidak bisa menemui Dika malam itu.


"Kalau begitu, saya pamit ya, Pak."


"Kenapa buru-buru pulang? Kamu pasti baru datang dari Jakarta. Kenapa ngga duduk dulu?"


Rhea terpaksa menerima tawaran Pak Kades. Tidak ada salahnya sedikit ngobrol. Toh mereka juga sudah cukup lama tidak bertemu.


"Gimana kabar kamu sama Albi?"


"Baik, Pak. Pak Kades apa kabar?"


"Alhamdulillah, Tuhan masih kasih saya kesempatan buat ketemu sama kamu."


Rhea tidak yakin dengan maksud perkataan Pak Kades.


"Saat anfal dan dirawat di rumah sakit beberapa hari yang lalu, saya sempat berfikir bagaimana saya akan mengakui kesalahan saya dan meminta maaf kepada kamu. Saya sadar bahwa saya sudah banyak membuat kamu dan anak kamu susah."


"Maaf, Pak. Jadi Bapak sakit dan baru keluar dari rumah sakit? Kenapa ngga ada yang cerita sama saya?"


"Handphone Dika hilang waktu di bus dalam perjalanan pulang ke sini. Jadi dia ngga bisa ngabari kamu. Dan Bapak juga malu kalau kamu sampai repot karena hanya keadaan Bapak yang seperti ini."


"Kok Bapak ngomong gitu sih? Bagaimanapun juga Bapak pernah membantu saya, memberi saya pekerjaan saat saya sangat butuh uang. Bapak juga -"


"Justru itulah yang Bapak sesali. Kenapa perempuan sebaik dan sepandai kamu hanya Bapak jadikan pembantu rumah tangga. Waktu itu yang Bapak pikirkan hanya malu karena kamu janda beranak satu. Tapi semakin kesini, Bapak semakin merasa bersalah karena sebenarnya Bapak tahu bahwa janda beranak satu itulah yang bisa membuat anak Bapak satu-satunya bahagia."


"Maksud Bapak?"


"Rhe, Bapak minta maaf. Sekarang Bapak sudah sepuh dan sakit-sakitan seperti ini. Bapak kerepotan kalau harus setiap hari berdebat dan adu mulut sama Dika. Sudah waktunya dia mencari orang lain yang bisa diajak berdebat sekaligus berjuang bersama. Dan Bapak rasa memang kamulah orangnya."


"Pak, Rhea seneng banget Bapak berbicara seperti itu. Tapi Pak, fakta bahwa Rhea janda beranak satu itu benar. Bahwa Rhea ini mantan artis yang melarikan diri karena hamil itu juga benar, Pak." Rhea tak kuasa membendung air matanya.


"Nduk, Bapak tahu. Dika sudah cerita semuanya. Kalau Dika saja bisa menerima keadaan kamu, apa hak Bapak untuk menghakimi kamu? Bapak rasa kehidupan sudah memberi kamu pelajaran dan juga hukuman yang lebih pantas. Jadi Bapak tidak ingin lagi mempersulit hidup kamu."


"Terimakasih, Pak." Tangis Rhea makin menjadi.


***


Pagi itu sesampainya dari Kota, Dika langsung ke sekolah untuk mengajar. Ia sama sekali tidak tahu bahwa Rhea datang dari Jakarta. Ayahnya juga bersikap biasa dan tak mengatakan apapun tentang gadis itu.


Ketika memasuki ruang guru, ada banyak makanan terhidang di meja.


"Loh, Pak Dika belum tahu tho kalau ini oleh-oleh dari Jakarta? Monggo dicicipi."


"Jakarta, memangnya siapa yang habis dari Jakarta, Bu?"


"Itu! Orangnya lagi nunggu Pak Dika di luar.


"Rhe! Kok kamu ngga bilang-bilang kalau balik dari Jakarta?" Dika senang melihat bahwa Rhealah orang duduk di bawah pohon di halaman sekolahnya.


"Buat apa aku kabari kamu? Kamu juga ngga ngabarin kalau sudah sampe sini."


"Iya, maaf, Rhe. Hp ku ilang. Aku ngga tahu gimana cara hubungi kamu. Aku ngga hafal nomor kamu."


"Nih!" Rhea menyerahkan sebuah ponsel baru dengan daftar telepon yang sudah berisikan nomornya dan bertuliskan 'sayangku'.


Dika menatap Rhea ragu. Ia tidak yakin bahwa dugaannya tentang Rhea benar.


Ia menekan kontak bertuliskan 'sayangku' dan seketika ponsel Rhea berdering dan muncul nama 'my love' di layarnya. Mereka akhirnya tertawa, menertawakan kealay-an menggelikan yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya.


"Jadi bener kamu ngga jadi nikah sama Diana?"


Dika mengangguk, "mungkin memang belum jodoh."


"Emang jodoh kamu siapa?" Pancing Rhea sok-sokan kaya ABG.


"Rhe, kamu tahu betul bahwa aku sangat ingin bahwa kamu dan Albi yang jadi jodoh dalam hidupku. Tapi -"


"Tapi apa, Dik?"


"Aku sudah memikirkan banyak hal saat kembali ke sini. Melihat bagaimana kehidupan kamu dan Albi sebenarnya, aku jadi takut kalau pekerjaanku yang hanya jadi abdi negara ini ngga bakal cukup untuk membuat kamu dan Albi bahagia."


"Dika kamu ngomong apa sih? Kamu tahu aku dan Albi pernah jadi gelandangan dan pengemis, tapi kamu bantu aku sampai seperti sekarang. Aku ngga peduli dengan apa yang kamu punya sekarang Dika. Aku pengen kita memulai dan membangun semuanya bersama. Aku sudah pernah berada pada titik terendah hidup aku. Jadi sekarang aku tidak takut apapun. Aku cuma sedikit takut kalau kamu tiba-tiba menghilang ngga ada kabar lalu diam-diam menikahi perempuan lain yang masih gadis dan belum punya anak."


Dika memeluk Rhea, mengusap rambutnya lembut, "Aku sudah lama mengajukan permohonan mutasi ke pusat, tapi ditolak karena belum ada tempat kosong disana. Jadi aku memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai pegawai negeri dan memulai usaha di Jakarta agar bisa selalu dekat sama kamu dan Albi."


Rhea menarik tubuhnya dari pelukan Dika, "Jadi, kamu sekarang pengangguran?"


Dika mengangguk, "Jangan berharap aku tiba-tiba saja membongkar jati diriku yang adalah seorang CEO seperti di novel-novel."


Rhea tertawa mendengar lelucon klise Dika.


"Apa seorang janda beranak satu tidak boleh menikah dengan pengangguran?"


Rhea kembali tertawa, "Jangan konyol! Janda beranak satu hanya tidak boleh menikahi pria beranak istri karena ia sudah hafal betul bagaimana sakitnya dikerjai lelaki."