
Waktu berlalu dan beberapa minggu kemudian, Rhea mendapat sebuah undangan dari Walikota yang ingin Albi datang untuk menjadi salah satu bintang tamu di acara pernikahan putranya. Ingin rasanya ia menolak undangan itu. Tapi ini adalah walikota, orang yang sangat disegani dan berpengaruh disana. Dan Rhea sama sekali tidak punya alasan yang tepat untuk menolak undangan itu.
Bahkan Pak Kadespun meminta Dika untuk memastikan Albi datang memenuhi undangan itu karena ia tidak ingin memiliki masalah dengan Pak Walikota di kemudian hari hanya karena persoalan sepele seperti ini.
Dika terus membujuk dan merayu Rhea untuk tidak ragu kepada Albi. Ia meyakinkan Rhea bahwa Tuhan dan dirinya akan selalu melindungi Rhea dan Albi, apapun dan bagaimanapun situasinya. Toh akan selalu ada yang namanya takdir, sekuat apapun seseorang menolak takdirnya, jika Tuhan berkehendak, maka manusia tidak kuasa menolak.
Pagi itu, Rhea membulatkan tekad untuk tidak menghadiri undangan dari Pak Walikota. Ia tidak perlu alasan apapun untuk memutuskan yang terbaik bagi Albi.
Tapi siang harinya, Pak Walikota mengirimkan mobil dan sopir pribadinya untuk menjemput Rhea dan Albi. Rhea tidak bisa lari lagi. Ia terpaksa ikut ke rumah Pak Walikota dan membiarkan putranya tampil di acara pernikahan putranya yang sangat mewah dan megah.
Lagi-lagi, layaknya seorang penyanyi besar yang sudah biasa tampil di depan umum, Albi menyanyi dengan santai lagu-lagu yang dipesan khusus oleh Pak Walikota dan keluarganya. Rhea tidak tahu dimana putranya belajar mental bintang besar seperti itu. Ia juga tidak tahu bagaimana Albi bisa menghafal lagu-lagu sebanyak itu dan menyanyikannya dengan sangat rapi dan bagus.
Rhea menolak tampil bersama Albi, ia hanya mengawasi saja aksi putranya di atas panggung dari kejauhan. Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian dan kembali diburu para pencari berita sebagai artis yang menghilang karena kasus hamil di luar nikah. Ia tidak ingin merusak penampilan Albi malam itu karena hal konyol dan memalukan seperti itu.
Selesai menyanyikan beberapa buah lagu, Rhea diberi amplop berisi sejumlah uang sebagai apresiasi atas kerja keras dan penampilan Albi yang luar biasa memukau para penonton dan undangan. Mereka lalu diantar pulang kembali ke rumah mereka di Desa Sumber.
Keesokan paginya, video penampilan Albi kembali viral di sosial media. Kali ini jari-jari netizen tidak terbendung lagi. Dika kewalahan menerima panggilan telepon yang berusaha mencari tahu kontak Albi. Banyak content creator yang ingin mengajak Albi kolaborasi atau mengundang Albi untuk ngobrol di channelnya. Beberapa stasiun televisi juga berniat mengundang Albi untuk sekedar wawancara dalam acara talkshow dan ada juga yang ingin mengundangnya untuk menyanyi dalam acara musik di televisi.
Dika menyampaikan tawaran-tawaran itu kepada Rhea tapi Rhea dengan tegas menolaknya. Ia melarang Albi diekspos media apapun alasan dan tujuannya. Dan ia tidak tertarik dengan apapun yang mereka tawarkan untuk mendapatkan penampilan atau wawancara eksklusif dengan Albi. Tidak sampai kapanpun. Rhea sudah memutuskan dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun.
***
Beberapa hari kemudian, Rhea dikejutkan dengan kedatangan Tata, sahabat sekaligus mantan manajernya yang mau jauh-jauh datang dari ibu kota untuk menemuinya. Rhea sangat senang. Saking senangnya, ia langsung memeluk erat Tata dan menciumnya berkali-kali. Ia tidak sadar bahwa hari itu Tata tidak datang sendiri. Ia bersama salah seorang produser dari sebuah stasiun televisi nasional.
Rhea langsung melepaskan pelukannya dan membuat jarak dengan Tata, “Lo bawa siapa? Jangan bilang –“ Rhea marah mengetahui bahwa Tata datang membawa “Preman hiburan” begitu Rhea menyebut orang-orang yang bekerja di dunia hiburan hanya dengan melihat name tag yang menggantung di leher pria itu.
“Rhe...” Tata berusaha menenangkan sahabatnya itu. “Ijinin gue ngejelasin dulu.”
“Nggak Kak! Gue ngga mau Albi lo seret-seret ke dunia hiburan kaya gue dulu.”
“Ta! Dengerin dulu! Ini ngga seperti yang lo pikirin. Beliau Pak Rafli, produser acara variety show di tivi ***. Beliau sedang menggarap sebuah acara amal bersama anak-anak penyandang kanker. Salah seorang dari mereka mengidolakan Albi setelah melihat vidio viral Albi di internet. Beliau Cuma ingin mempertemukan anak itu dengan Albi, sekali saja, Ta. Sekali saja. Karena kita semua tidak pernah tahu kapan Tuhan membawa anak itu kembali.”
Rhea menghentikan aktivitasnya, “Lo ngga lagi ngarang cerita buat negbohongin gue, kan?”
Tata menggeleng dan alkhirnya iapun memperkenalkan Pak Rafli dengan Rhea dan Albi.
***
Ia memperhatikan bagaimana Rhea yang dulunya hanya bisa memerintah dan seenaknya sendiri, sekarang bisa mempekerjakan begitu banyak orang dan bersikap sangat dewasa memimpin orang-orang yang bekerja untuknya itu.
Rhea yang dulunya hanya bisa mengeluh dan kabur jika keinginannya tidak dipenuhi, sekarang bisa dengan tenang menyelesaikan pekerjaannya yang tak ada habisnya, sembari menemani sang putra bermain dan belajar. Tata sangat terharu sekaligus bangga melihat perubahan Rhea yang luar biasa. Ia mulai percaya bahwa selalu ada hikmah dalam setiap bencana.
Tata kemudian kembali ingat masa lalu, hari dimana Rhea yang pada hari ulang tahunnya yang ke sembilan belas, bukannya merayakan bersama kedua orang tua dan sahabat-sahabatnya, tapi malah pergi diam-diam dengan Bian ke Malaysia.
Sebagai manajer, yang sudah mengatur jadwal dan acara ulang tahunnya hari itu merasa marah karena tidak dikabari bahwa Rhea berniat pergi ke Malaysia. Rhea malah mematikan semua ponselnya dan juga mengabaikan semua pesan dalam sosial medianya.
Keesokan harinya, salah seorang temah Tata mengirimkan sebuah foto dimana Rhea sedang berada di depan Menara Petronas bersama seorang pria bertopi. Setelah melampiaskan kemarahannya pada Rhea yang baru pulang dari Malaysia, Tata akhirnya memaafkan perbuatan gadis badung itu.
Sayangnya, beberapa bulan kemudian, Rhea tiba-tiba pingsan ditengah-tengah sebuah acara talkshow yang disiarkan secara langsung. Rhea langsung dilarikan ke rumah sakit dan Tata akhirnya mengetahui bahwa Rhea sedang hamil.
Sejak saat itu banyak kejadian buruk menimpa Rhea. Karirnya sebagai artis tiba-tiba hancur, ia diusir dari rumah kedua orang tuanya, pria yang dihamilinya tiba-tiba saja pindah ke luar negeri dan ibunya meninggal tidak lama setelah Rhea meninggalkan rumah.
“Kak, kok lo nangis, sih?” Rhea tiba-tiba saja membuyarkan lamunan Tata.
“Gue terharu lihat lo jadi hebat kaya gini, Rhe. Lo bukan lagi bocah sembilan belas tahun yang putus asa dan ngga tahu mau kabur kemana.”
Rhea tersenyum, “ Ini semua juga berkat lo, kak. Lo yang selalu support dan nguatin gue. Lo selalu ada buat gue dan Albi.”
Tata memeluk Rhea erat. Ia benar-benar bersyukur Rhea bisa melewati masa-masa sulit dalam hidupnya seorang diri.
“Ta, menurut gue, lo ngga boleh ngekang Albi hanya karena lo khawatir Albi bakal ngalamin nasib kaya lo. Kalian berdua berbeda. Lo dan Albi punya kemampuan dan jalan sendiri-sendiri.”
“Tunggu! Lo ngga sedang berusaha mempengaruhi gue supaya ngijinin Albi masuk tivi kan kak?”
“Terserah lo mau bilang apa. Tapi Albi punya bakat alami. Masa depannya masih panjang dan dia bisa jadi jauh lebih baik dari lo dan gue.”
“Apa lo bisa jamin kalau Albi ngga bakal ketemu sama Bian?”
“Ta, lo ibunya Albi. Bian atau Pak Broto sekalipun tidak akan bisa berbuat apa-apa pada Albi. Lo tahu persis itu.” Tata menggenggam tangan Rhea, “Kasih Albi kesempatan!”