
Beberapa hari setelah berbicara dengan Bara, mobil pick up milik Rhea akhirnya datang. Sejak saat itu, Rhea tidak lagi mengalami kendala terkait pengiriman barang dagangan ke kota. Rhea mulai berani memasarkan dagangannya ke kota-kota lain di seluruh Indonesia. Bahkan ia meminta Bara untuk membantu memasukkan produknya ke pasar mode Jepang.
Sejak memiliki leptop dan internet, Rhea jadi lebih jarang keluar rumah. Ia menghabiskan lebih banyak waktu di rumah untuk membuat dan menjual baju-baju yang diproduksinya. Ia kemudian membuat label produk sendiri yang diberi nama Albia Collection.
Berkat kerja keras dan keuletan Rhea, penjualan dan keuntungannya meningkat pesat. Tenaga kerja yang membantunya juga semakin bertambah banyak. Ia tak hanya memiliki tukang jahit sendiri tapi sekarang ia juga memiliki sopir sekaligus kurir sendiri.
Karena ia adalah satu-satunya orang yang memiliki mobil pick up sendiri di desa itu selain juragan Bagus, tak jarang warga meminta bantuannya untuk mengangkut barang dagangan dan hasil panen mereka juga ke kota. Rhea tidak keberatan membantu mereka selagi tidak mengganggu jadwal pengiriman barang miliknya. Karena itu, Rhea jadi lebih banyak dikenal dan dihargai warga desa. Ia tidak lagi dianggap remeh hanya karena seorang janda beranak satu tapi sekarang ia disanjung sebagai seorang pengusaha muda yang sukses dan banyak memberi manfaat pada warga desa.
Karena tak harus sering-sering keluar rumah, Rhea jadi punya lebih banyak waktu untuk menemani Albi bermain dan belajar di sela-sela kesibukannya. Dengan bantuan internet, Rhea jadi bisa melakukan banyak hal yang selama ini membatasi gerak dan langkahnya. Albi jadi semakin pandai menyanyikan lagu anak-anak berbahasa inggris dan jadi lebih banyak tahu tentang dunia luar melalui layar leptop milik ibunya. Tidak hanya usahanya yang berkembang pesar, tapi putra semata wayangnya juga tumbuh dengan baik
Rhea tidak ingin menyia-nyiakan sekecil apapun peluang yang datang kepadanya. Ia hanya perlu bekerja keras dan tetap fokus. Malam itu, setelah menidurkan Albi, ia kembali berdagang di pasar online-nya. Tiada hari tanpa posting dan promo. Ia harus mulai gencar meningkatkan penjualan produk-produknya agar bisa segera melunasi hutang-hutang usahanya.
***
Tak terasa satu setengah tahun sudah berlalu, usaha konveksi rumahan milik Rhea kian berkembang pesat. Ia sudah memiliki banyak pelanggan di luar kota bahkan di luar pulau. Rhea juga sudah mampu mengembalikan dana usaha yang dipinjamnya dari desa dan juga melunasi hutang leptopnya kepada Tata. Bahkan Rhea juga sudah mampu membeli motor sendiri untuk mengantar dan menjemput Albi yang sudah mulai masuk sekolah taman kanak-kanak.
Tidak seperti biasanya, siang itu Mbok Tun tidak berkunjung ke rumah Rhea sama sekali. Ia jadi penasaran sekaligus khawatir kalau wanita yang sudah lanjut usia itu kenapa-napa.
"Apa ibu-ibu ada yang lihat Mbok Tun? Kok tumben sampai sore gini ngga mampir ke sini sama sekali?"
"Oh itu mbak, Mbok Tun lagi bantu-bantu di rumah Pak Kades sama Bu Yam juga kok. Katanya nanti malam Pak Kades mau kedatangan calon besan."
"Oh.." hanya itu yang bisa keluar dari mulut Rhea. Ia tidak menyangka kalau Pak Kades gerak cepat juga untuk menjodohkan anaknya dengan wanita pilihannya.
***
Malam itu masih ada dua orang pekerja yang lembur di rumahnya karena ada pesanan yang harus dikirim besok pagi tapi masih belum siap.
"Mbak, Mbak Rhea ngga capek dari siang belum istirahat sama sekali?"
Rhea tidak sadar kalau sudah hampir lima jam ia duduk di tempatnya untuk mengecek dan merapikan dua ratus potong seragam yang akan dikirim besok. Ia seperti tidak merasakan capek, lapar atau apapun, pikirannya mengembara kemana-mana.
Sari, salah seorang karyawn Rhea yang baru lulus SMA meminta ijin untuk membuat mi kuah di dapur Rhea karena ia kelaparan malam itu. Sedangkan Mila, salah seorang karyawan Rhea yang lain, ijin ke depan sebentar karena penasaran dengan wajah calon istri Dika.
Tak lama kemudian Mila kembali ke rumah Rhea. "Mbak, Mbak. Tahu ngga? Calon istrinya Mas Dika ternyata anaknya Pak Camat. Cantik banget kaya model, badannya tinggi, matanya lebar, kulitnya mulus, rambutnya -"
Tiba-tiba saja Rhea merebut dan memakan mi rebus yang baru dibawa Sari dari dapur. Ia memakan mi rebus itu begitu saja seakan tidak merasa panas dan pedas padahal Sari baru saja merebusnya dan menambahkan banyak potongan cabe ke dalam mi buatannya.
"Mbak Rhea sehat?"
Rhea menghentikan makannya, lalu berlari ke kulkas karena mulutnya terbakar.
"Sariiiiii! Kamu kasih apa sih mi nya? Kenapa pedes banget!"
Mila dan Sari saling berpandangan heran dengan tingkah Rhea yang diluar batas kewajaran. Rhea biasanya sangat pemilih dan tidak asal memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Ia juga biasanya rame dan ceria tidak murung dan pendiam seperti malam itu. Mereka yakin ada sesuatu yang sedang terjadi pada Rhea. Ibu muda itu pasti sedang tidak baik-baik saja.