The Power Of Single MoM

The Power Of Single MoM
Ujian Pranikah



Tania melemparkan tas gucc*nya ke sofa, "Lo sudah gila?! Lo udah bertahun-tahun ngilang dari rumah, terus sekarang tiba-tiba aja lo balik buat nikah sama cewek kampungan model begini?"


"Kak! Jaga mulut lo! Gue ngasih tahu lo cuma karena gue masih nganggep lo kakak gue. Gue ngga peduli lo bakal setuju atau ngga dengan pernikahan gue. Gue ngga butuh restu lo."


"Bagus kalau gitu! Gue cuma pengen tahu gimana lo bisa ngasih makan anak istri lo nantinya. Gue ngga yakin lo ngga bakalan ngemis buat balik ke rumah ini dan perusahaan Papa."


"Ngga bakal! Gue ngga sudi tinggal serumah sama cewek congkak kaya elo."


Rio menyeret Diana keluar dari rumahnya. Tepat saat Rio keluar dari pintu Bian datang dan menyambut adik ipar yang sudah lama tidak ditemuinya itu.


"Yo, mau kemana lo?"


"Pergi, Kak. Ngga tahan gue lama-lama sama bini lo."


"Wah durhaka lo, ngatain kakak lo sendiri. Ini siapa?"


"Oh ini Diana, Kak. Calon istri gue."


"Calon istri? Jadi lo dah mo nikah aja? Kapan? Dimana?" Bian mengajak Rio dan Diana duduk di taman samping rumahnya.


"Gue bisa bantu apa, Yo?"


"Cukup dateng aja ke nikahan gue, Kak. Oh ya, sama satu lagi gue mau Albi nyanyi di acara nikahan gue."


"Albi?" Diana dan Bian bertanya bersamaan.


"Albi yang penyanyi cilik terkenal itu?" Tanya Diana memastikan.


"Iya. Albi itu artisnya Kak Bian."


"Maksudnya?"


"Jadi Albi itu salah satu penyanyi yang diorbitin Kak Bian. Kak Bian ini pemilik rumah produksi tempat Albi bernaung."


"Oh.. gitu..."


"Kamu juga fans-nya Albi, Diana?"


"Oh ngga, bukan. Dulu kami pernah kenal. Itu aja."


"Kenal?" Bian penasaran dimana Diana mengenal putranya.


"Iya. Jadi dulu kami tetangga satu kecamatan gitu. Agak jauh sih, tapi sejak kecil Albi lumayan terkenal memang."


"Jadi kamu tahu dimana Albi dan Rhea bersembunyi selama ini?"


"Apa? Sembunyi?"


****


Rhea berniat memperluas usaha konveksinya di ibukota. Ia sudah mempersiapkan segalanya. Ia ingin menjadi wanita karir yang lebih sukses dengan kemampuannya sendiri. Selain itu, ia tetap dapat terus mendukung proses tumbuh dan kembang Albi sebagai anak dan juga artis.


Dika juga tak mau kalah. Sejak ayahnya sembuh dan pulang dari rumah sakit, Dika sudah membeli sebuah lahan di ibukota. Ia ingin membangun sekolah seni sendiri. Ia ingin mendedikasikan hidupnya di dunia pendidikan dengan mengasah bakat anak-anak seperti Albi.


Dika ingin suatu saat, sekolah seni yang dirintisnya menjadi sebuah sekolah unggulang yang bisa melahirkan calon seniman berbakat dan berprestasi seperti Albi dan Rhea. Ia ingin membawa dunia seni go internasional melalui jalur pendidikan yang menjadi passionnya selama ini.


Pak Kades juga sudah memberikan bekal yang cukup untuk mereka menikah. Bahkan beliau menawarkan sebuah pesta pernikahan untuk mereka. Namun Dika menolak. Ia ingin menemui ayah Rhea di Sukabumi lebih dulu untuk meminta restu. Setelah itu mereka baru akan memutuskan dimana mereka akan melangsungkan pernikahan.


"Jadi kapan kalian akan kembali ke Jakarta?" Tanya Pak Kades kepada Rhea.


"Rencananya lusa, Pak. Setelah acara pelepasan di sekolah Dika, Pak."


Kring..


Sebuah panggilan telepon dari ayahnya masuk ke ponsel Rhea.


"Teh Rhea, ini Ela, Teh. Mamang masuk rumah sakit."


Rhea menutup ponselnya.


"Maaf, Pak. Sepertinya saya harus pulang sekarang."


"Tapi, kenapa, Rhe? Ada apa?" Dika penasaran kenapa Rhea berubah pikiran secepat itu.


"Bapak stroke, Dik. Sekarang di rumah sakit."


***


Ketika tiba di Sukabumi, Pak Iman sedang dirawat dan diobservasi di IGD. Rhea bersyukur perjalanan mereka ke Surabaya dan pesawat dari Surabaya ke Sukabumi berjalan lancar hari itu, sehingga ia bisa lebih cepat sampai di rumah sakit tempat ayahnya dirawat.


Tak lama kemudian, dokter menyatakan bahwa kondisi Pak Iman sudah stabil dan bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Meskipun sedih, Rhea bersyukur masih diberi kesempatan bertemu dan merawat ayahnya yang sedang sakit. Ia bahkan tidak tahu bahwa selama ini ayahnya sering keluar masuk rumah sakit karena diabetes dan strokenya.


Dokter juga baru memberi tahu Rhea bahwa selama ini ayahnya mengalami kelumpuhan dan sulit beraktivitas seorang diri. Dan setiap kali dokter menanyakan keluarganya, beliau selalu bilang bahwa beliau tidak punya siapa-siapa.


Air mata kembali menggenangi wajah sayu Rhea. Ia tidak tahu kenapa ayahnya begitu membencinya sampai tidak mau lagi mengakuinya sebagai anak.


"Teh, ini hp-nya Mamang. Saya terpaksa telpon Teh Rhea karena takut Mamang kenapa-napa." Ela takut Rhea akan marah karena ia lancang menggunakan ponsel ayah Rhea.


"Kenapa kamu baru hubungi Teteh sekarang, La? Dokter bilang Bapak sudah sering keluar masuk rumah sakit. Bapak juga lumpuh. Kenapa ngga ada yang kasih tahu Teteh, La?"


"Karena Mamang yang ngelarang, Teh. Mamang selalu wanti-wanti semua tetangga supaya ngga ngasih tahu Teteh kalau beliau sakit apalagi lumpuh. Katanya beliau ngga boleh nambah kesusahannya Teteh. Jadi selama ini Mamang cuma dibantu Aa Iwan, mantri, yang dibayar Mamang buat ngerawat Mamang."


Dika berusaha menenangkan Rhea yang kian histeris. Ia tahu betul perasaan Rhea saat itu. Bagaimanapun juga Rhea dan ayahnya sebenarnya saling menyayangi dan berusah melindungi satu sama lain. Hanya saja cara mereka justru saling menyakiti satu sama lain.


"Saya permisi pulang dulu ya, Teh. Sudah malam."