
Rhea benar-benar gelisah. Meskipun yakin ia bisa mengalahkan Tania, tapi ia tidak pernah ingin luka masa lalunya kembali di korek-korek. Ia tidak ingin seluruh dunia tahu bahwa ia hamil di luar nikah. Terlebih lagi ia tidak ingin Albi menderita mengetahui kebenaran yang menyakitkan itu.
Rhea segera menceritakan apa yang dialaminya bersama Tania sore tadi. Ia sangat khawatir dan takut jika Tania benar-benar akan menjalankan rencananya.
"Jangan takut. Kita pasti akan memenangkan hak asuh Albi. Kamu ibu kandungnya dan kamu berhak atas anak kamu. Selain itu, ayah kandung Albi adalah penjahat seksual dan pria yang tidak bertanggung jawab. Ditinjau dari segi manapun Bian tidak akan bisa mengalahkan kita."
"Dika, kamu belum tahu siapa Tania. Dia punya uang dan kekuasaan. Ia bisa saja membayar jaksa dan hakim untuk memihaknya dan memberikan hak asuh Albi kepadanya."
"Jika itu terjadi, maka kita akan menggunakan kekuatan publik untuk membuat mereka hancur berkeping-keping."
"Tapi itu artinya aku harus memberitahu semua orang bahwa aku adalah pezina murahan."
Dika menggeleng, "dalam hal ini, kamu adalah korban dan kamu berhak mendapat keadilan melebihi siapapun."
Sekarang Rhea sedikit lebih tenang. Ia hanya perlu menyiapkan mental untuk dihujat jutaan orang. Tapi lebih dari itu, ia harus melindungi Albi dari sanksi sosial yang jauh lebih kejam dan menyakitkan.
****
Sejak ditinggalkan Albi, Star Ray mengalami penurunan drastis. Meskipun banyak artis baru yang diorbitkan, tetapi sinarnya belum mampu menandingi Albi. Selain itu, Bian tidak cukup cakap dalam berbisnis dan bersaing dengan perusahaan rekaman lainnya. Sehingga kondisi internal Star Ray semakin mengkhawatirkan.
Karena banyaknya masalah di kantor, Bian jadi semakin sensitif dan emosional. Kondisi itu membuat hubungannya dengan Tania menjadi semakin renggang. Bian mulai sering pulang larut dalam keadaan mabuk. Dan tak jarang ia berani menghujat dan mengecam Tania yang terus memaksanya bercinta tapi tak juga bisa hamil.
Tania semakin terbakar emosi. Ia meyakini bahwa Bian jadi semakin liar dan sulit diatur karena Rhea. Selain itu dia sangat membenci Bian yang mengorbankan kepentingan perusahaan demi membela dan melindungi Rhea dan anaknya.
Ia tidak bisa diam saja. Ia bertekat untuk memulai perang melawan Rhea. Ia harus membuat wanita tidak tahu malu itu hancur berkeping-keping sampai tidak akan pernah bisa bangkit lagi. Itulah satu-satunya cara menyelamatkan rumah tangganya bersama Bian dan juga harga dirinya.
Keesokan harinya Tania memanggil pengacaranya untuk mengkonsultasikan terkait rencananya menggugat hak asuh atas Albi sebagai anak kandung Bian. Setelah mempertimbangkan segala aspek, ia akhirnya mantap mengajukan surat tuntutan tersebut dan memaksa Bian untuk menyetujuinya.
"Apa kau sudah gila?! Kita tidak harus melakukan cara kotor seperti ini!"
"Bian! Apa kau sudah lupa siapa dirimu? Berani-beraninya kau mengatakan ini cara kotor?!"
"Aku tidak mau!" Bian meninggalkan istrinya di kamar.
Tania tak mau menyerah. Bagaimanapun caranya ia harus membuat Bian menandatangani surat tuntutannya.
"Bian!!!! Kau harus menandatangani ini! Jika tidak -"
"Jika tidak?"
"Jika tidak, maka aku akan menceraikanmu dan akan kupastikan ibumu segera dirawat di rumah sakit dan ayahmu dilengserkan dari jabatannya. Apa itu cukup, sayang?"
Tania tertawa terbahak-bahak, "Aku memang gila, Bian. Tapi aku tidak bodoh sepertimu. Kalau kau sudah kehilangan sebanyak itu, setidaknya kau harus memperjuangkan apa yang menjadi hakmu. Aku berusah memaafkanmu meskipun tahu bahwa kau sudah menghamili gadis lain sebelum menikah denganku. Aku juga sudah berusaha menerima dan menyayangi anak harammu dengan sepenuh hati. Tapi apa yang kudapatkan?"
Tania memasang air mata buayanya, "aku melakukan ini karena aku sangat menyayangi dan menginginkan Albi. Tidak bisakah kau membiarkanku yang tidak bisa mempunyai anak ini merawat dan membesarkan Albi seperti anakku sendiri?"
Bian luluh mendengar perkataan istrinya itu. Ia sangat tersentuh dan tidak bisa membiarkan Tania yang mandul menderita seorang diri. Apalagi, Tania sangat mencintai Albi seperti anak kandungnya sendiri. Bian akhirnya mengalah dan mau menandatangai surat tuntutan itu.
****
Beberapa hari kemudian, Rhea mendapat surat pemberitahuan dari pihak pengadilan. Kemudian disusul dengan surat panggilan untuk bermediasi.
“Ini benar-benar gila! Bagaimana mungkin orang yang tidak punya hak apapun atas Albi bisa mengajukan tuntutan hak asuh seperti ini? Atas dasar apa?!” Rhea marah-marah kepada kuasa hukumnya.
“Maaf, Bu. Mereka mengajukan bukti berupa hasil tes DNA yang menunjukkan bahwa sembilan puluh sembilan persen Albi adalah anak kandung Pak Fabian.”
“Tes DNA? Itu adalah bukti yang tidak sah karena dilakukan tanpa sepengetahuan dan ijin saya sebagai ibu kandungnya.”
“Kita dapat mengajukan gugatan terpisah jika ibu ingin mempermasalahkan mengenai hasil tes itu.”
“Pak, coba Bapak jelaskan kepada saya, bagaimana mungkin barang bukti yang diperoleh secara tidak sah dapat digunakan sebagai dasar untuk menuntut hak asuh atas anak saya?”
“Tapi Bu, sepertinya ibu perlu tahu, setelah saya memeriksa kelengkapan berkas yang mereka ajukan, saya sempat membaca surat kuasa untuk dilakukannya tes DNA dengan nama dan tanda tangan ibu sebagai pemberi kuasa. Jadi saya rasa tidak ada alasan untuk meragukan hasil tes DNA itu.”
Rhea tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Kapan ia setuju untuk melakukan tes DNA? Dan kapan ia menulis dan menandatangani kuasa untuk melakukan tes DNA?
Ia berusaha mengingat-ingat. Satu-satunya tanda tangan yang pernah ia berikan kepada Star Ray adalah saat ia sepakat untuk mengijinkan Albi tampil di acara pernikahan Rio dan Diana sebagai syarat pengurangan sanksi dan denda atas pemutusan kontrak sepihak yang dilakukaknnya kepada Star Ray.
Tapi ia benar-benar tidak menyangka jika ia ditipu dan diperdaya seperti itu. Ia menyesal tidak membaca dengan benar semua isi kesepakatan yang ditandatanganinya waktu itu.
“Jadi, apa yang bisa kita lakukan sekarang?”
“Kita harus mengikuti prosesnya dan itu akan memakan waktu yang cukup lama. Mungkin kita bisa mulai mengumpulkan bukti dan saksi untuk menguatkan bahwa ibu mampu mengasuh Albi dengan baik. Hanya untuk jaga-jaga bila nanti diperlukan. Bagaimanapun juga kita tahu bahwa Bu Tania menyewa pengacara terbaik dan termahal di negri ini. Ia tentu sudah menyiapkan banyak cara agar memenangkan tuntutannya."
“Saya tidak peduli. Saya akan memperjuangkan hak asuh atas anak saya sampai akhir. Saya adalah ibunya, satu-satunya nama yabg tertera di akte kelahiran Albi dan saya berhak penuh atas anak saya."
"Jika saja mereka hanya berpatokan bahwa anak berusia dibawah dua belas tahun berhak untuk diasuh ibu kandungnya, maka mereka tidak akan melangkah sejauh ini, Bu. Kita hanya harus bersiap dengan segala kemungkinan."
Rhea mengerti bahwa ia harus tetap waspada. Kadang uang dan kekuasaan mampu mengubah arah dan membuat kebenaran yang nyata adanya menjadi layak untuk disalahkan.