The Power Of Single MoM

The Power Of Single MoM
Target Utama



Siang itu Subroto nekat menemui Rhea di rumahnya.


“Wah, sebuah kehormatan Pak Gubernur sudi mampir ke gubug saya.” Sambut Rhea basa-basi.


“Dengar Rhea, saya sudah pernah ingatkan kamu untuk tidak main-main dengan keluarga saya.”


“Oh, sepertinya Anda lupa kalau saya juga pernah ingatkan Anda bahwa saya tidak akan hancur sendirian. Anak dan menantu anda sudah mendorong saya hingga ke tepi jurang, lalu anda berharap saya akan diam begitu saja seperti saat anda mengusir dan membuang saya dari rumah anda delapan tahun lalu?”


“Tutup mulut kamu! Kamu sudah benar-benar keterlaluan. Kamu lupa bahwa saya adalah seorang gubernur? Bukan hal sulit bagi saya untuk menyingkirkan kamu dan keuarga kemu seperti delapan tahun lalu, bahkan lebih, mungkin. Saya akan melakukan apapun untuk melindungi keluarga saya.”


“Ternyata anda masih sama, belum berubah. Masih saja Subroto yang egois dan hanya mementingkan nama baik keluarga. Saya tidak takut dengan ancaman anda, Bapak Gubernur yang terhormat. Kita lihat saja siapa yang hancur lebih dulu.”


***


Ketika itu Rhea baru berusia tujuh tahun dan ayahnya masih bekerja di sebuah perusahaan konstruksi di ibukota. Malam itu, ibunya bertemu dengan seorang pria tambun berambut tipis. Mereka tampak sedang memperdebatkan sesuatu.


Rhea hanya ingat ibunya memohon agar pria itu mengungkap kebenaran dan mengembalikan nama baik ayah Rhea. Tapi pria itu dengan angkuhnya berdiri lalu memaki ibu Rhea, menyebut bahwa keluarga mereka tidak hanya miskin tapi juga tidak tahu diri. Sudah mencuri masih juga jadi pengemis yang meminta belas kasihannya.


Saat itu ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Ia masih terlalu kecil untuk memahami persoalan orang dewasa. Ia hanya menyimpan semua tanya dan berusaha mencari tahu sendiri jawabannya.


Ketika berusia lima belas tahun, ia baru tahu bahwa hari itu ayahnya dipecat dari perusahaan konstruksi karena difitnah menggelapkan dana perusahaan. Menurut ayah Rhea, beliau hanya diperintahkan oleh atasannya untuk memindahkan dana ke sebuah rekening. Beliau sama sekali tidak tahu bahwa dirinya dijebak dan difitnah.


Setelah dikeluarkan dari perusahaan, ayah Rhea akhirnya memutuskan untuk pulang ke kampung halaman mereka di Sukabumi dan memulai usaha mereka sebagai tukang jahit dan guru ngaji. Kehidupan mereka jadi serba sulit karena label masyarakat yang masih saja meyakini bahwa fitnah yang dituduhkan kepada keluarga mereka itu benar adanya.


Tidak mudah menyangkal tanpa bukti dan membersihkan nama baik tanpa pembuktian. Karena itu, Rhea bertekad untuk meluruskan segalanya suatu saat nanti. Agar kebenaran bisa terungkap. Sehingga ia ngotot untuk disekolahkan SMK di ibukota dan tinggal dengan keluarga bibinya disana. Sampai akhirnya ia berhasil menjadi artis setelah sebelas kali tidak lolos casting.


Sampai saat ini, Rhea tidak pernah lupa bahwa keluarganya dihina sebagai pencuri dan pengemis. Ia juga tidak pernah melupakan wajah pria tambun berambut tipis itu. Ia berusaha mencari tahu siapa dan bagaimana latar belakang pria congkak itu sampai akhirnya ia menemukan bahwa pria itu adalah Subroto.


***


Rupanya Subroto tidak main-main dengan ucapannya. Beberapa hari setelah kunjungannya ke rumah Rhea, tiba-tiba saja pembangunan sekolah seni milik Dika dihentikan dengan alasan surat ijin pembangunan yang bermasalah.


Surat ijin usaha konveksi milik Rhea yang katanya sudah jadi tiba-tiba saja ditangguhkan karena dianggap bermasalah dan mempekerjakan karyawan di luar ketentuan pemerintah daerah. Selain itu Rhea dituduh terlibat dalam ekspor ilegal ke Jepang akibat perijinan yang bermasalah.


Rhea dan Dika berusaha menyelesaikan dengan jalur yang semestinya, mendatangi dinas terkait dan meminta solusi yang tepat untuk mereka. Tapi seperti bola pimpong, yang terus saja dioper tapi tidak kunjung mendapat solusi, mereka malah diancam pidana karena dianggap mencemarkan nama baik mengganggu kinerja pemerintahan akibat mengunggah dan menanyakan permasalahan birokrasi yang mereka hadapi di sosial media.


Keadaan Rhea dan Dika jadi serba sulit akibat ulah Subroto. Semua usaha dan kegiatan pekerjaan mereka jadi terhambat. Pembangunan yayasan tertunda, perdagangan dan kerjasama ekspor Rhea dengan beberapa rekanan jadi ikut ditangguhkan bahkan sampai dibatalkan.


Meskipun berusaha dengan keras, mereka tetap dihadapkan pada pilihan yang sulit sehingga terpaksa mengurangi beberapa pegawai untuk meringankan beban perusahaan yang mulai tidak stabil.


Tak ingin waktu dan usahanya terbuang sia-sia, Rhea berusaha menemui Subroto di kantornya tapi selalu saja ditolak. Ia kemudian mencoba mencari subroto di rumahnya tapi selalu saja diusir oleh petugas keamanan. Ia mencoba menghubungi via telepon tapi juga selalu diabaikan. Ia akhirnya memutuskan untuk mengirim sebuah pesan singkat.


“Saya sudah memberi Anda kesempatan untuk bicara baik-baik, tapi anda selalu mengabaikan saya. Saya rasa sudah saatnya saya menyelesaikan masalah ini dengan cara saya.”


***


Pesan itupun tidak kunjung mendapat balasan. Namun entah bagaimana, keesokan paginya media kembali dihebohkan adanya dugaan kasus korupsi pengadaan alat kesehatan di dinas kesehatan yang melibatkan Subroto sebagai gubernur.


Subroto sama sekali tidak menyangka bahwa masalah yang selama ini ditutupnya rapat-rapat tiba-tiba saja terbongkar pada saat seperti itu.


Meskipun ia tangah berhadapan dengan Rhea yang mengancamnya lewat pesan singkat dan bisa berbuat apa saja, tapi Subroto yakin bahwa gadis itu tidak mungkin tahu soal kasus itu. Ia sudah membereskan dan menutup rapat semua sumber informasi yang mungkin akan merugikannya di kemudian hari. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa orang itu tiba-tiba saja muncul kembali dan mengacaukan semuanya.


Subroto kemudian memerintahkan seseorang untuk menyelidiki asal mula berhembusnya isu korupsi. Ia khawatir seseorang di kementrian ikut terlibat dalam terungkapnya kasus korupsi lama tersebut. Juga untuk memastikan bahwa buka Rhea yang melakukan semua itu.


Sementara itu, Subroto dibawa ke kantor Komisi Anti Korupsi untuk dimintai keterangan terkait kasus tersebut dan sehari kemudian ia resmi dinyatakan sebagai tersangka kasus korupsi pengadaan alat kesehatan bernilai miliyaran rupiah tersebut.


Rupanya tidak hanya berhenti disitu. Kasus penggelapan dana perusahaan konstruksi puluhan tahun lalu kembali diungkit. Para korban pemutusan hubungan kerja (PHK) waktu itu mulai bermunculan dan ikut buka suara.


Karena Subroto sudah ditetapkan jadi tersangka dan dilengserkan dari jabatannya sebagai Gubernur, para korban mulai berani bicara tentang kejadian puluhan tahun lalu itu. Bahkan beberapa orang ikut menyebut bahwa Pak Imam adalah salah satu korban yang paling dirugikan karena difitnah dan diancam.


Rhea lega karena kebenaran akhirnya terungkap. Meskipun Subroto tidak mengetahui bahwa Rhea adalah anak dari Pak Imam yang difitnahnya puluhan tahun lalu, Rhea merasa puas karena dendam yang selama ini dipikulnya akhirnya bisa terbalasakan.


Rhea berharap arwah ayah dan ibunya bisa tenang setelah menyaksikan apa yang terjadi.


Setelah kejadian itu, Subroto harus menjalani proses pengadilan yang panjang dan lama. Sementara Bu Rika akhirnya meninggal dunia setelah mengalami koma lebih dari dua bulan.


Bian benar-benar terpukul. Keluarganya hancur berantakan. Ayahnya bahkan harus menghadiri pemakaman ibunya dengan mengenakan jaket oranye bertuliskan tersangka. Sementara itu proses perceraiannya dengan Tania masih saja bergulir di pengadilan agama.


Kali ini Rhea memenangkan permainan dan ia mendapatkan segalanya. Hanya saja, ia tidak mengerti kenapa semua terjadi begitu tepat waktu. Kenapa kasus korupsi dan penggelapan dana Subroto baru diungkap sekarang, ketika mereka saling berselisih dan berhadapan?


Rhea tidak yakin semesta sedang berpihak kepadanya. Ia juga tidak yakin ada orang yang masih mengingat ayahnya setelah sekitar dua puluh tahunan berlalu. Apa yang sebenarnya terjadi? Namun, yang pasti, Rhea telah menyelesaikan misi utamanya, membalas Subroto melalui putra tunggalnya, Fabian Nanda Subroto.