The Power Of Single MoM

The Power Of Single MoM
Jatuh Cinta



Sudah menjadi semacam kebiasaan bagi Rhea untuk selalu berkeluh kesah kepada Dika setiap kali ada masalah yang menimpanya. Entah mereka tengah berselisih paham, cekcok atau perang dingin, semua akan kembali membaik setiap kali Rhea mulai menumpahkan semua emosi dan kekesalannya kepada Dika.


Rhea paling tidak tahan untuk tidak menumpahkan semua isi kepala dan hati yang mengganggunya. Dan Dika selalu saja sabar dan setia mendengar Rhea menumpahkan keluh kesah, amarah, kebahagiaan, kekecewaan dan semua yang dirasakannya. Ia tak pernah sekalipun menghakimi Rhea meskipun ia jelas-jelas telah berbuat salah.


Dika hanya akan berusaha membuat Rhea nyaman dan tenang, kemudian membiarkannya menyadari sendiri kesalahan yang sudah diperbuatnya. Atau jika tak kunjung sadar, maka Dika hanya akan diam-diam membereskan semua kekacauanh yang Rhea timbulkan.


"Lo kenapa sih, Rhe. Mondar-mandir mulu dari tadi."


"Kak, ngga mungkin kan Dika benar-benar nikahin Diana tanpa ngehubungin gue sama sekali?"


"Lah, kenapa ngga? Mereka sudah tunangan dan lo juga dah ngga ada disana."


"Kak!"


Tata senang bisa menggoda Rhea seperti itu. Meskipun sudah punya seorang anak berusia tujuh tahun, kelakuannya masih saja seperti remaja saat jatuh cinta. Bagaimanapun juga, Rhea belum pernah merasakan jatuh cinta dan dicintai sesungguhnya. Ia hanya sekali mengenal pria dan langsung pacaran dengan Bian dan langsung dicampakkan setelah dihamili.


Rhea bahkan belum pernah merasakan menikah meskipun sudah mempunyai anak. Masa mudanya sangat memilukan. Jadi Tata tidak heran melihat Rhea berubah selucu dan semenggemaskan itu ketika benar-benar mencintai pria yang entah bisa dimilikinya atau tidak.


"Jadi lo mau gimana sekarang?"


"Kayaknya gue mesti balik ke Desa Sumber deh, Kak. Gue mesti pastiin apa Dika bener-bener sudah nikah sama Diana dan kenapa dia ngga pernah hubungin gue. Selain itu, gue mesti cek usaha konveksi gue juga disana. Sudah lama banget gue tinggalin."


"Good. Jadi kapan lo mau berangkat?"


"Besok pagi-pagi."


***


Pagi itu Rhea sudah rapu dan menyiapkan semua barang bawaannya.


"Mommy mau kemana?"


"Sayang, Mommy minta ijin buat pulang kampung dulu yah? Mommy mesti cek jahitan Mommy, Mbok Tun, Mbak Mila sama Mbak Sari juga. Tapi Mommy janji ngga bakal lama. Mungkin dua atau tiga hari. Kalau urusan Mommy sudah selesai, Mommy janji bakal cepet pulang buat ketemu Albi. Okay?"


Albi manyun. Ia belum pernah berpisah dengan ibunya lebih dari sehari. Meskipun sudah ada Tata dan Neti, pengasuh yang bertugas menjaganya, Albi tetap takut ditinggalkan ibunya.


"Albi kenapa?"


"Albi takut Mommy tinggalin Albi kayak Om Dika."


"Ngga sayang, Mommy ngga akan pernah ninggalin Albi." Rhea memeluk putra semata wayangnya itu erat.


"Albi bakal ijinin Mommy pergi, tapi Mommy harus janji. Mommy bakal bawa Om Dika kembali kesini."


"Mommy usahain ya sayang? Albi berdoa yah semoga Om Dika mau ikut Mommy balik ke sini."


Bocah itu pun tersenyum.


***


Rhea tiba di Desa Sumber sebelum magrib. Ia sengaja memilih pergi dengan pesawat terbang karena tidak ingin membuang waktunya di dalam transportasi darat. Ia memiliki banyak hal untuk segera diselesaikan dan ia tidak punya banyak waktu untuk meninggalkan putranya sendirian di ibukota.


Lampu rumah Bara masih menyala yang artinya masih ada pegawai yang tersisa di rumahnya.


"Mbak Rhea! Kok ndak bilang-bilang kalau mau pulang?" Mila langsung menyambar oleh-oleh yang dibawa Rhea.


Sementara Sari berhambur memeluknya erat, "Lama banget sih baliknya, Mbak. Kita bener-bener kewalahan ngurusin semuanya tanpa Mbak Rhea."


"Nanti juga lama-lama kalian terbiasa sendiri seperti saya."


"Iya loh, kita baru nyadar kalau Mbak Rhea tuh hebat banget. Pekerjaan kayak gini ngga mudah, Mbak. Biarpun kelihatannya cuma motong bahan, jahit, jual, tapi kenyataannya susah banget. Belum lagi kalau ada yang reject."


"Sabar... Saya juga pernah ngalamin seperti kalian. Tapi percaya, lama-lama kita akan terbiasa. Oh iya, apa Dika ada di rumahnya?"


"Oalah, jadi Mbak Rhea jauh-jauh dateng kesini cuma buat cari Mas Dika tho?"


Rhea meletakkan telunjuknya di bibir, "Sssst, berisik!"


"Mbak Rhea sudah denger berita soal Mbak Diana tunangannya Mas Dika?" Mila ikutan nimbrung sambil memakan kue brownies yang dibawa Rhea.


"Emang Diana kenapa, Mil?"


"Mbak Diana kabur ke ibukota, Mbak. Denger-denger sih mau nikah sama mantannya."


"Loh bukannya dia tunangan sama Dika?"


"Udah lama bubar, Mbak. Pak Camat ketangkap polisi gara-gara ketahuan korupsi."


"Jadi Dika ngga jadi nikah sama Diana?"


"Sek tho, kok Mbak Rhea seneng gitu sih denger kabar orang gagal nikah?"


"Loh, Mbak! Mau kemana? Aku belum selesai cerita!"