
Malam itu, keluarga Pak Camat akan berkunjung ke rumah Dika. Sejak pagi Pak Kades sudah heboh membereskan rumah dan menyiapkan jamuan istimewa untuk calon besannya itu. Tak mampu melakukan semuanya seorang diri, Pak Kades minta bantuan Mbok Tun dan Bu Yah untuk menyiapkan jamuan istimewa tersebut.
Dika sama sekali tidak tertarik dengan kedatangan Diana yang digadang-gadang akan menjadi calon istrinya. Dika justru sibuk membantu mengiklankan produk Rhea di berbagai sosial media yang dimilikinya. Ia juga membuat sebuah akun dropshipper di beberapa marketplace untuk membantu pemasaran produk-produk Rhea.
Tidak hanya itu, Dika juga rajin menyimak pengumuman lomba menyanyi anak-anak yang biasanya diadakan di bulan-bulan itu. Ia ingin Albi yang selama ini dilatihnya diam-diam di sekolah, mendapat kesempatan untuk unjuk bakat dan kemampuannya kepada masyarakat luas. Belum menemukan audisi yang diinginkannya, Dika memilih untuk kembali membaca artikel-artikel lawas tentang Rhea.
Ia sangat merindukan gadis super tangguh yang tumbuh dalam jiwa seorang mantan artis belia yang polos dan putus asa itu. Sejak kepergok membawa Albi ke sekolah hari itu, Rhea dan Dika mulai jarang bertemu.
Apalagi sejak Rhea memiliki leptop sendiri dan bisa internetan dari rumah, Dika jarang sekali melihatnya seliweran melewati rumahnya. Ia hanya sesekali melihat Rhea mengantar dan menjemput Albi di taman kanak-kanak yang letaknya tidak jauh dari SD tempat Dika mengajar.
Meskipun sangat merindukan ibu satu anak itu, Dika tak bisa berbuat banyak karena Rhea sudah mengancamnya dan ayahnya juga tak henti-hentinya ceramah soal pasangan ideal untuk Dika nikahi.
Seperti tengah terjebak dalam sebuah konspirasi tingkat tinggi, Dika tak punya celah sedikitpun untuk melawan. Di satu sisi, Rhea dengat tegas meminta Dika untuk menjauhinya. Disisi lain, ayahnya terus saja mendesaknya untuk segera melamar Diana, putri Pak Camat yang baru lulus kuliah sarjana ekonomi. Jika menolak, ayahnya terus bersikeras untuk mengusir Rhea dan anaknya pergi dari kampungnya. Dika tahu betul itu bukan keputusan yang baik untuk kedua orang yang disayanginya itu. Jadi ia tak bisa memaksakan keinginannya untuk terus bersama mereka sementara waktu.
Dika tidak mengerti kenapa semua orang mengancamnya dan memaksakan kehendak mereka kepada Dika seakan mereka tahu betul apa yang terbaik bagi Dika. Tak seorangpun yang bertanya ataupun peduli tentang apa yang Dika inginkan dan bagaimana perasaan Dika yang sesungguhnya.
Dika juga tidak habis pikir kenapa ayahnya tidak bisa membiarkannya saja menentukan hidupnya sendiri dan menerima saja apa yang Dika pilih dan terus mendukungnya sampai akhir. Saat seperti itulah Dika merasa sangat merindukan ibunya, satu-satunya orang yang mengerti dan memahami perasaannya. Orang yang selalu menjadi juru damai setiap kali ia dan ayahnya bersitegang dan berbeda pendapat seperti saat itu.
Dika memainkan gitarnya perlahan, tiba-tiba saja ia teringat dengan Albi yang diyakininya memiliki bakat sebagai seorang penyanyi hebat. Dika kemudian menuliskan sebuah lagu untuk Albi. Ia yakin lagu itu akan sangat pas dibawakan oleh penyanyi dengan jenis dan karakter suara seperti Albi.
Belum selesai Dika menuliskan bagian akhir lagunya, ayahnya datang untuk memaksanya untuk bersiap-siap menyambut kedatangan Pak Camat dan anaknya nanti malam, padahal saat itu adzan ashar baru saja berhenti berkumandang. Ayahnya sangat heboh seakan dialah yang akan menemui calon istri dan mertuanya nanti malam.
Dalam pertemuan kedua keluarga malam itu, Pak Kades menyanggupi bahwa mereka akan segera melamar Diana untuk menjadi tunangan Dika beberapa hari ke depan. Dika tidak tahu bagaimana cara menghentikan ayahnya. Ia sudah terlalu jauh mencampuri kehidupan pribadi dan masa depan Dika, tapi toh ia tidak pernah bisa menang melawan kehendak ayahnya. Ia tidak punya pilihan selain menerima pertunangan tersebut.
Malam itu Dika tidak bisa tidur. Bagaimanapun juga ia harus mendengar pendapat Rhea sebelum memutuskan menuruti kemauan ayahnya untuk melamar Diana. Ia bertekad untuk segera menemui Rhea besok.
Tak kunjung bisa memejamkan mata, Dika kembali mencari tahu tentang masa lalu Rhea di dunia maya. Ia sangat penasaran dengan pria yang telah menghamili Rhea dan menelantarkannya bersama putranya selama ini. Ia sudah mengetikkan banyak kata kunci tapi tak kunjung menemukan petunjuk.
Sepertinya identitas pria itu ditutup rapat-rapat. Apa mungkin Rhea adalah salah satu korban pemerkosaan? Jika benar maka Dika harus segera menemukai pria itu dan membunuhnya. Merasa tidak puas karena belum menemukan jawaban atas rasa penasarannya, Dika memilih untuk ngobrol dengan Bara melalui salah satu aplikasi obrolan.
Setalah ngobrol kesana kemari karena sudah sangat lama tidak bertemu, Dika akhirnya memberanikan diri untuk bertanya tentang ayah kandung Albi kepada Bara.
“Kenapa kamu tiba-tiba pengen tahu siapa orang yang sudah menghamili Rhea?”
“Ngga ada apa-apa, Bar. Cuma pengen tahu aja apa orang itu masih hidup? Karena Albi sering tanya ke aku soal ayahnya.” Dika terpaksa berbohong karena tidak ingin Bara tahu bahwa ia merasa insecure.
“Dik, kalau kamu memang tulus sama Rhea, apapun itu sebagai teman, sahabat atau pacar, kamu cukup terima Rhea yang sekarang. Jangan coba-coba lagi untuk mencari tahu tentang masa lalunya, karena itu sama dengan kita menyeret Rhea kembali ke masa yang paling pengen dia lupakan. Tapi kalau kamu tetap tidak bisa terima Rhea yang sekarang, kamu bisa mulai mengambil langkah mundur. Rhea berhak untuk memiliki masa depan dengan orang yang percaya dan mendukungnya tanpa ragu.”
“Iya, aku tahu Bar. Makasih kamu dah ingetin aku.”