The Power Of Single MoM

The Power Of Single MoM
Salah Paham Berujung Fitnah



Setelah beberapa minggu, dana bantuan yang diharapkan Rhea cair juga. Ia segera membeli beberapa mesin jahit, peralatan dan bahan jahit lainnya. Ia kemudian juga membeli beberapa gelondong kain untuk dibuat menjadi pakaian jadi. Awalnya ia membuat pola untuk kemudian dijahit oleh ibu-ibu yang masing-masing sudah dikelompokkan dalam bagian-bagian tertentu. Ada yang bagian jahit, pasang kancing, pasang resleting, dan lain sebagainya.


Dalam beberapa hari mereka berhasil membuat puluhan potong baju yang kemudian dijual Rhea ke pasar induk di kota. Awalnya semua tak berjalan lancar. Tak banyak pedagang pakaian di pasar kota yang mau membeli produk Rhea. Selain karena masih baru dan belum memiliki nama atau brand, harga jualnya juga masih belum bisa bersaing dengan produk-produk pakaian dari konveksi besar atau pabrikan. Rhea terus memutar otak. Bagaimana cara ia bisa menjual produknya yang kian hari kian menumpuk.


Sekembalinya Rhea dari kota, ia berusaha mencari tahu bagaimana cara ia bisa mengakses internet di Desa Sumber. Lagi-lagi Dikalah yang memberitahunya bahwa satu-satunya spot yang dimana kita bisa menggunakan jaringan internet yang stabil adalah di balai desa.


Sore itu, setelah balai desa tutup, Rhea meminjam leptop Dika untuk mengakses internet di balai desa. Ia duduk melantai sambil mengotak-atik akun sosial media yang baru dibuatnya. Ia kemudian juga membuat toko online di beberapa marketplace untuk memasarkan pakaian-pakaian yang diproduksinya.


Saking asyiknya Rhea mengelola toko onlinenya, ia sampai tidak menyadari bahwa hari sudah mulai gelap dan sepi. Desa Sumber memang tergolong sangat terpencil karena ketika baru magribpun jalanan sudah sangat sepi. Hanya beberapa warga yang hendak ke surau saja yang sesekali lalu lalang.


Meski hanya dengan penerangan lampu pelataran balai desa yang minimalis, Rhea sangat bersemangat untuk memposting foto-foto produk yang sudah disiapkannya. Belum sempat ia kelaur dari akunnya, sudah banyak pertanyaan tentang produknya yang masuk ke kotak pesannya. Bahkan sudah ada dua pesanan baru yang masuk petang itu.


Tak lama kemudian Dika datang dengan mengendarai motor karena jalanan malam di Desa Sumber cukup sulit ditempuh dengan sepeda angin pada malam hari akibat penerangan yang minim.


"Eh, Dika kamu ngapain ke sini?"


"Rhe, ini sudah malam dan Albi sudah rewel nyariin kamu."


Rhea baru sadar bahwa ia sudah berada di tengah kegelapan dan kesepian desa.


"Oh iya. Aku sampai lupa saking fokusnya."


"Terus gimana? Apa rencana kamu sudah berhasil?"


Rhea sangat antusias menceritakan dua pesanan yang masuk ke akunnya petang itu. Ia sampai tidak sadar bahwa sudah memegang kedua telapak tangan Dika.


"Hei kalian sedang apa disitu?" Tanya salah seorang warga yang baru pulang dari surau dan melihat Dika dan Rhea sedang berpegangan tangan di tengah kegelapan di pelataran balai desa yang sudah tutup sejak siang.


Rhea dan Dika segera melepaskan tangan mereka.


"Oh, Pak Amir. Ini saya Dika, Pak. Kami kesini untuk pakai internetnya balai desa buat jualan."


"Oh, Mas Dika tho? Mas kalau mau internetan kan bisa besok siang? Ini malam-malam berduaan di balai desa -"


"Bukan seperti itu pak." Dika tahu penjelasannya akan sia-sia, "Baiklah. Kalau begitu kami permisi."


Dan sepertinya bukan Desa Sumber namanya kalau gosip seperti itu tidak menyebar dengan cepat.


***


Pagi itu, Rhea banyak menerima telepon terkait produknya yang dipasarkan via online. Ada beberapa yang berniat membelinya dalam jumlah banyak untuk dijadikan seragam. Rhea mulai memikirkan permasalahan baru yang dihadapinya, pengiriman. Sampai saat itu, transportasi masih menjadi kendala yang cukup serius bagi Desa Sumber yang letaknya memang cukup jauh dari kota dan medannya cukup sulit untuk dilalui kendaraan besar.


Ia mulai memikirkan untuk merekrut kurir yang akan membawa barang-barangnya ke kota setiap hari untuk dikirim via ekspedisi yang hanya ada di kota. Sementara memikirkannya, ia harus tetap menyelesaikan tugasnya di rumah Pak Kades.


***


Pagi itu Pak Kades masih di rumah padahal sudah lumayan siang dan Dika juga sudah lama berangkat mengajar.


"Rhea, bisa kita bicara sebentar?"


Rhea baru tahu kalau Pak Kades sengaja berangkat terlambat demi bisa bicara empat mata dengannya.


"Nggih, Pak. Ada apa?"


"Kamu tahu kan kalau saya ini kepala desa yang sangat disegani di desa ini?"


Rhea mengangguk.


"Dan kamu juga pasti tahu betul bahwa Dika belum menikah sampai saat ini bukan karena belum bertemu jodohnya. Tapi karena saya sangat berhati-hati dalam memilihkan jodoh yang tepat untuk Dika."


Rhea tidak tahu untuk apa Pak Kades menceritakan hal seperti itu kepadanya.


"Belakangan ini saya mendengar gosip yang tidak sedap terkait kedekatan kamu dengan Dika. Terlebih lagi, semalam warga mergoki kamu dan Dika berduaan di balai desa malam-malam. Terus terang, sebagai kepala desa, saya sangat malu. Bagaimana mungkin anak saya yang berpendidikan dan berbudi luhur bisa melakukan perbuatan serendah dan sehina itu."


"Tapi Pak, itu salah paham. Saya sama Mas Dika -"


"Cukup! Saya tidak ingin dengar pembelaan dari kamu. Seharusnya kamu ingat bahwa keluarga kami sudah banyak membantu kamu dan anak kamu. Setidaknya kamu bisa membalas kebaikan kami dengan tidak membawa aib bagi keluarga kami."


Kini Rhea benar-benar merasa tersinggung dengan perkataan Pak Kades. Meskipun ia hanya pembantu di rumah Pak Kades, tapi ia masih memiliki harga diri sebagai seorang wanita. Ia tidak pernah sedikitpun punya niatan untuk mempermalukan keluarga Pak Kades. Bagaimanapun juga ia tidak terima dianggap sebagai pembawa aib bagi keluarga Pak Kades.


"Pak, saya mengerti maksud Bapak. Tapi mulai sekarang Pak Kades tidak perlu mencemaskan keberadaan saya karena mulai hari ini saya akan berhenti bekerja di rumah ini. Dan satu lagi yang harus Bapak tahu. Saya dan Mas Dika tidak pernah melakukan apapun untuk mencoreng nama baik Bapak. Kalaupun cerita itu sampai dengan kemasan sedemikian rupa kepada Pak Kades, itu semua hanyalah fitnah. Dan saya akan pastikan bahwa hal seperti itu tidak akan pernah terjadi lagi."


"Bagus kalau kamu mengerti maksud saya. Karena jika saya terus melihat kamu mendekati anak saya, maka saya tidak akan sungkan-sungkan untuk menghentikan semua dana bantuan usaha yang kamu terima bagaimanapun caranya."


Rhea tidak menyangka akan menerima ancaman sepikicik itu dari mulut seorang kepala desa yang sangat disegani dan dihormati di desa itu.


"Saya permisi."