The Power Of Single MoM

The Power Of Single MoM
Kontrak



Dika membaca dokumen itu dengan seksama, “Kontrak?”


Tata mengangguk, ia lalu membuka bagian penawaran harga.


Dika terbelalak membaca nominal yang tertera disana. Ia kemudian menghitung ulang jumlah digit angka nol yang tertera disana. “Beneran?”


Tata mengangguk yakin.


"Terus?" Dika tidak mengerti kenapa Tata menunjukkan kontrak kerjasama untuk Albi itu kepadanya.


"Dika. Seisi kampung sudah tahu tentang masa lalu Rhea. Untuk sementara waktu gue rasa ada baiknya kalau Rhea dan Albi kembali ke ibukota. Gue juga sudah punya penawaran yang menarik buat mereka." Tata menunjuk dokumen yang dipegang Dika.


"Tapi masalahnya, dalam kontrak disebutkan bahwa mereka juga memiliki akses terhadap liputan eksklusif tentang keseharian Albi untuk mendongkrak popularitas. Dan itu artinya, mau ngga mau, kehidupan pribadi Albi bakal banyak jadi sorotan. Akan sangat berat bagi Albi jika ia harus tampil hanya bersama Rhea dan tanpa seorang ayah." Tata menjelaskan dengan sangat detail.


"Jadi?" Dika hanya sedang tidak sabar menunggu inti pembicaraan mereka.


"Jadi, gue mau bikin kontrak juga sama lo. Kontrak lo sebagai ayah pura-pura Albi."


"Apa?!" Rhea dan Dika bertanya bersamaan.


"Yah, kalau mau jadi ayah beneran juga sebenernya ngga papa sih."


"Kak!" Rhea merasa sangat malu karena Tata sedang berusaha mengontrak pria yang sudah mau menikah.


"Dika, kamu ngga usah dengerin Kak Tata. Aku juga baru tahu kalau dia punya ide segila itu. Aku ngga setuju. Aku ngga mau ngerusak hubungan kamu sama Diana."


"Deal. Saya setuju! Berapa bagian yang akan saya dapatkan dari kontrak ini?"


****


Siang itu Dika berencana menemui Diana untuk menyerahkan hasil kebun pemberian ayahnya. Sejak Diana tahu tentang identitas dan masa lalu Rhea, Dika berusaha untuk selalu bersikap baik kepada Diana. Ia tidak ingin tunangannya itu nekat menyebarkan gosip tentang Rhea kepada warga Desa Sumber.


Dika tiba di depan rumah Diana yang terlihat sangat sepi. Dika berkali-kali mengucap salam tapi tak ada seorangpun yang menjawab. Karena menganggap rumah Diana sedang kosong, Dika berniat meletakkan oleh-oleh yang dibawanya di atas meja di depan pintu dapur.


Saat mendekati dapur, Dika melihat pintunya sedikit tidak terbuka. Karena khawatir keluarga Diana lupa dan pergi tanpa mengunci pintu, Dika mendekati pintu dapur dan berniat menutupnya agar tidak ada tikus ataupun pencuri yang masuk.


Namun saat hendak menutup pintu, Dika justru melihat Diana sedang berciuman dengan seorang pria di meja makan di dekat dapur.


Ponsel Dika tiba-tiba berbunyi dan Diana kaget mengetahui ada orang yang melihat aksi mesumnya bersama Rio, mantan pacarnya saat masih kuliah. Diana berusaha mengejar Dika untuk memberikan penjelasan agar Dika tidak salah paham.


"Dika, tunggu!"


Dika mengacuhkan Diana yang terus berusaha mengejar langkahnya.


Dika tiba-tiba berhenti.


"Apa yang kamu lihat tadi ngga seperti apa yang kamu pikirkan. Kamu salah paham."


"Memangnya kamu tahu apa yang aku pikirkan?" Tanya Dika penasaran.


"Dik, Rio itu mantan aku. Kami sudah putus. Tadi itu cuma kesalahan."


"Kesalahan juga karena aku datang tidak tepat waktu. Diana maaf, selama ini saya sangat menghargai dan menghormati kamu. Tapi setelah apa yang terjadi, sepertinya saya tidak bisa lagi mengembalikan kepercayaan dan rasa hormat saya kepada kamu. Saya kecewa sama kamu."


"Dika, plis.. maafin aku. Kasih aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."


"Ngga ada lagi yang perlu diperbaiki. Saya rasa lebih baik saya mengetahuinya sebelum kita terlanjur menikah."


"Dika, jangan bilang kalau kamu berniat untuk mengakhiri pertunangan kita."


"Tidak lagi berniat. Tapi saya sudah melakukannya. Mulai sekarang kita tidak punya hubungan apa-apa lagi. Jangan berusaha mendesak ayah saya atau saya terpaksa menceritakan dengan jujur apa yang baru saja saya lihat dengan mata kepala saya sendiri!"


"Dika!!!! Kamu ngga bisa perlakukan saya seperti ini! Kamu pasti akan menyesal, Dika!"


Entah bagaimana, setelah dika sampai di rumah, ia mendengar banyak panggilan masuk ke ponsel ayahnya dan membicarakan tentang Rhea. Dika keluar sebentar untuk mencari udara segar dan mencari tahu apa yang sedang terjadi.


Ternyata Diana tidak main-main dengan ancamannya. Ia benar-benar membeberkan tentang identitas dan latar belakang Rhea yang selama ini dirahasiakan dari warga desa.


Dika menyesal karena kecerobohannya berakibat fatal kepada Rhea dan Albi. Ia tidak bisa membayangkan, dengan semua pengorbanan yang mereka lakukan, pada akhirnya tetap membawanya pada pilihan harus kehilangan Rhea atau membiarkannya hidup dalam kecaman dan cacian warga.


Dika tidak tahu bagaimana harus memperbaiki keadaan. Semua orang sudah menggunjingkan tentang aib Rhea yang hamil di luar nikah. Apapun yang akan dilakukannya saat itu sepertinya akan sia-sia saja karena nasi sudah jadi bubur.


Tiba-tiba saja sebuah pesan dari ponsel Rhea masuk.


"Bisa kerumah Rhea sebentar? -Tata-"


***


Setelah membuat kesepakatan malam itu, keesokan paginya Rhea, Tata dan Albi sudah berkemas dan siap berangkat ke ibukota. Rhea menitipkan kunci rumahnya kepada Mbok Tun, lalu menitipkan usaha konveksinya kepada Mila dan Sari, dua orang karyawan yang dipercayanya. Ia sudah meninggalkan semua catatan tentang bahan, model, target produksi, deadline pengiriman dan juga daftar pesanan. Sisanya akan selalu mereka koordinasikan via telepon.


Dika juga sudah siap untuk pergi bersama mereka. Ia sudah membereskan semua urusannya dan sisanya akan diselesaikannya sambil jalan.


Mereka kemudian pamit kepada para karyawannya, tetangga dan juga Pak Kades, ayah Dika. Meskipun jelas terlihat raut kecewa dan sedih di wajah Pak Kades, tapi toh beliau tetap mengijinkan Dika untuk pergi bersama Rhea.


Rhea sendiri juga merasa sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di antara Dika dan ayahnya. Dan bagaimana cara Dika meyakinkan ayahnya untuk memperbolehkannya pergi bersama Rhea, perempuan yang paling dibenci dan dihindari ayahnya. Apakah mungkin mereka berubah hanya karena nominal kontrak yang ditawarkan Tata kepada Dika?