The Power Of Single MoM

The Power Of Single MoM
Profesionalisme



Semakin hari, kekompakan dan kemesraan Dika dan Rhea kian terasah. Mereka semakin mirip pasangan suami istri sungguhan. Adu peran keduanya bersama sang putra, Albi, sangat apik dan saling melengkapi satu sama lain.


Bagi Rhea, bukan hal sulit untuk beradu peran dengan lawan main yang sudah terikat kontrak kerjasama seperti Dika. Bagaimanapun juga yang Rhea tahu, apa yang dilakukannya bersama Dika adalah sebuah bentuk profesionalisme sebagaimana yang mereka sepakati bersama.


Rhea tidak sedikitpun merasa canggung untuk beradegan romantis dengan dika didepan kamera. Karena Rhea yakin bahwa keduanya sama-sama sedang bekerja. Ada kompensasi yang mereka dapatkan atas apa yang sudah mereka selesaikan dengan baik, sesuai arahan sutradara.


Dan kesepakatan untuk merahasiakan hubungan setingan mereka membuat Rhea lebih percaya diri dalam beradu peran. Tidak ada tekanan dan rasa bersalah karena mempermainkan perasaan satu sama lain.


Namun, tidak begitu dengan Dika. Sebagai salah seorang pemain baru yang belum terbiasa berpura-pura di depan kamera, ia merasa bahwa hubungannya dengan Rhea terasa terlalu nyata. Ia memainkan perannya sepenuh hati. Bukan karena tuntutan kontrak dan sutradara, tapi karena ia benar-benar menaruh hati kepada Rhea.


Semakin lama perasaan Dika semakin dalam. Ia terikat semakin kuat dengan pasangan ibu dan anak itu. Tapi semakin dalam ia mencintai Rhea, semakin besar kecewa dan rasa sakit setiap kali Rhea mengakhiri peran dan kembali membawa Dika kepada kenyataan bahwa mereka hanya berpura-pura dan tidak lebih.


Entah karena kemampuan acting Rhea yang sangat bagus atau memang karena Rhea tidak pernah sekalipun memiliki perasaan kepada Dika, Dika merasa dirinya seperti pecundang yang diombang-ambingkan perasaan.


Saat di depan kamera Rhea terlihat sangat memuja dan mencintainya. Binar matanya menunjukkan bahwa ia sangat menghormati dan mendambakan Dika. Tapi setelah kamera mati, ia segera berubah menjadi sosok Rhea yang apa adanya dan hampir tidak pernah terlihat tertarik kepada Dika. Bahkan belakangan Rhea tampak menjaga jarak dengan Dika.


***


Diana melihat tentang Dika dan Rhea yang ramai diperbincangkan di sosmednya. Ia kemudian menyaksikan semua rekaman vidio penampilan Dika, Rhea dan Albi di berbagai acara.


Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Dika akan mengarang cerita bohong seperti itu. Meskipun Dika memutuskan hubungan pertunangan dengannya setelah memergokinya bersana Rio, bagaimanapun juga mereka pernah berhubungan.


Selain itu, Dika tidak pernah menikahi Rhea. Jadi untuk apa Dika berbohong seperti itu dan menjadikannya sebagai orang yang bertanggung jawab atas kehamilan Rhea.


Siang itu, Diana menghubungi Dika untuk mencaritahu kebenarannya.


"Semua itu benar, Di. Aku mohon sama kamu, jangan ikut campur lagi dengan urusan aku dan Rhea. Biar kami urus dan selesaikan sendiri!"


"Cukup Di!"


"Dengar Dika. Hentikan semua kebohonganmu atau aku yang akan membongkarnya!"


"Apa yang akan kamu lakukan?!"


"Gampang, Dik. Aku punya foto pertunangan kita. Jika kuposting di sosial media, semua orang akan tahu bahwa kamu pernah melamar atau bahkan menikah sama perempuan lain. Dengan begitu citra kalian sebagai pasangan paling romantis abad ini akan hancur. Dan bukan hanya itu, kalian akan dicap sebagai pembohong, pasangan setingan dan karir Albi akan tamat."


"Apa yang kamu inginkan?"


"Pulang dan jelaskan sebelum ayahmu mendengar berita konyol ini dari orang lain!"


Setelah berbicara dengan Diana siang itu, Dika merasa gelisah. Di satu sisi ia sudah sepakat untuk menemani Albi pada acara malam itu. Tapi di sisi lain, ia merasa khawatir jika Diana sampai nekat menjalankan rencananya. Bagaimanapun juga, gadis itu pernah mengumbar air Rhea ke seluruh warga desa. Jadi bukan hal yang mustahil jika ia melakukannya lagi kali ini.


Selain itu, Dika juga merasa tidak nyaman terus-terusan berbohong. Semakin lama Dika semakin merasa tertekan dengan perasaan pribadinya. Sadar bahwa ia tidak lagi bisa bekerja secara profesional, ia segera meminta ijin untuk undur diri kepada Tata, manajer mereka.


"Tapi kenapa mendadak seperti ini, Dika? Nanti malam kita masih ada live talkshow lagi. Kehadiran kamu sangat penting dalam acara nanti malam. Apa yang akan Rhea katakan kalau dia tiba-tiba saja harus tampil tanpa kamu?"


"Maaf, Kak. Tapi cuti panjang aku sudah habis. Dan masih banyak urusan yang harus aku selesaikan di kampung. Aku ngga bisa berada disini lebih lama lagi. Tapi aku janji, aku ngga akan pernah buka suara soal hubungan rekayasa kita. Aku bakal tetap support Albi dan Rhea dari jauh."


Tata tidak bisa lagi menahan Dika. Ia terpaksa mengijinkan Dika untuk kembali ke kampung halamannya.


"Tapi, Dik. Boleh gue tahu gimana lo bisa yakinin Bokap lo buat ngasih lo ijin sampai sejauh ini?"