The Power Of Single MoM

The Power Of Single MoM
Calon vs Mantan



Pagi itu, Dika berusaha menemui Rhea saat ia mengantar Albi ke sekolah.


“Rhe, bisa bicara sebentar?”


“Maaf, tapi saya masih banyak pekerjaan di rumah, lagian saya ngga mau ibu-ibu yang nongkrong disana,” Rhea menunjuk ke arah ibu-ibu yang menunggui anaknya di TK dan sedang menoleh ke arahnya dan Dika, “berasumsi macam-macam dan memfitnah saya sedang menggoda anak Pak Kades.”


“Aku tahu Rhe, sebentar saja. Ini penting.”


Rhea terpaksa mendengarkan apa yang ingin Dika katakan, karena setelah sekian lama mereka bisa menjaga jarak, hari itu Dika bersikeras untuk bicara serius dengannya.


“Kamu tahu kan kalau Bapak berniat menjodohkanku dengan Diana, anak Pak Camat?”


“Terus?”


“Rhe, apa kamu yakin tidak masalah jika saya bertunangan dan menikahi gadis lain?”


Rhea berfikir sejenak, “tentu saja tidak. Atas dasar apa saya merasa terganggu?”


“Jadi benar bahwa kamu tidak memiliki perasaan apapun untuk saya? Jadi benar bahwa selama ini saya hanya memiliki perasaan sepihak terhadap kamu?”


“Apa?!” Rhea tidak mengerti dengan ucapan Dika, “apa maksud kamu dengan perasaan sepihak?”


“Jangan bilang kalau kamu sama sekali tidak tahu bahwa kamu dan Albi memiliki tempat yang sangat istimewa di hati saya.”


Rhea tidak mau terintimidasi dengan pertanyaan retoris Dika itu.


“Tadinya saya berfikir bahwa setelah saya bicara sama kamu, saya akan mendapat kekuatan dan dukungan untuk menentang kehendak ayah saya. Tapi saya salah.” Dika terlihat putus asa.


Rhea berbohong bahwa ia sama sekali tidak terganggu dengan rencana pertunangan Dika. Tapi ia sudah berjanji pada Pak Kades dan dia tidak ingin mengingkari janji yang sudah dibuatnya. Lagi pula itu demi kebaikan semuanya, jadi tidak masalah jika ia menderita seorang diri karena kehilangan Dika. Tapi hari itu ia merasa lebih buruk karena melihat Dika juga menderita.


“Dika, kita sudah sama-sama dewasa. Kamu tahu persis kenapa kita seperti ini. Aku dan Albi sudah bertahan sampai sejauh ini, tolong jangan paksa aku kembali ke tempat dimana aku tidak berdaya untuk melindungi diriku sendiri dan Albi.”


“Baiklah, Rhe. Aku mengerti. Aku paham kenapa kamu seperti ini dan aku sama sekali ngga nyelahin kamu. Aku minta maaf karena egois dan hanya memikirkan perasaanku sendiri. Aku akan mengikuti keinginan Bapak, tapi dengan satu syarat, Rhe.”


“Katakan!”


“Ijinkan aku melatih Albi bernyanyi dan bermain musik. Albi punya bakat yang luar biasa. Aku yakin itu.”


Selain karena Dika sangat menyayangi Albi, ia ingin berbuat banyak untuk Rhea dan Albi, andai di kemudian hari takdir memutuskan bahwa mereka harus mengambil jalan yang berbeda. Dika ingin Albi bisa sukses dengan bakat yang sudah dimilikinya sejak dini agar kelak hidup mereka jadi lebih mudah meskipun tanpa Dika.


***


Sejak hari itu, Dika jadi memiliki lebih banyak waktu untuk bersama Albi. Setiap sore Albi akan datang ke rumah Dika untuk berlatih bernyanyi dan bermain gitar. Pak Kades tidak bisa protes walaupun kadang Dika terpaksa mengantar Albi pulang dalam keadaan tertidur karena kelelahan bermain di rumahnya. Mereka sudah sepakat untuk membiarkan Albi tetap bersama Dika sebagai imbalan agar Dika mau bertunangan dengan Diana.


Beberapa minggu kemudian, Dika dan Pak Kades datang ke rumah Pak Camat untuk melamar Diana. Acara pertunangan mereka diadakan dengan sangat meriah karena memang kedua pihak keluarga berasal dari latar belakang yang sama-sama berada dan terpandang disana.


Meskipun tidak menyukai Diana yang menurut Dika sangat sombong, manja dan kekanak-kanakan, ia tidak ingin melukai perasaan gadis itu. Karena dalam kasusnya itu, Diana hanyalah korban dari keserakahan ayahnya dan kepengecutannya yang tidak berani menolak keinginan ayahnya demi melindungi Rhea dan Albi.


Sejak bertunangan, Diana jadi sering bermain ke rumah Dika. Tak jarang juga ia menemani Dika mengajar di sekolah. Ia jadi tahu bahwa Albi merupakan salah satu siswa yang sangat dekat dengannya. Ia juga mulai tahu dari gosip-gosip yang beredar di sekolah Dika, bahwa Dika pernah punya hubungan dengan ibunya Albi yang berstatus janda dan kebetulan tinggal di dekat rumah Albi.


Merasa sangat penasaran dengan sosok wanita masa lalu calon suaminya, Diana menyempatkan diri mampir ke rumah Rhea yang dipenuhi orang-orang yang sibuk bekerja menjahit, menyetrika, memasang kacing dan resleting, membordir dan mengemas pakaian-pakaian yang sudah jadi.


Ia juga melihat sebuah televisi layar datar berukuran cukup besar menempel cantik di dinding ruang tamu rumah Rhea. Ia yakin bahwa janda beranak satu itu memiliki cukup banyak uang untuk ukuran orang Desa Sumber karena memiliki televisi seperti itu.


Tak lama kemudian sebuah mobil pick up parkir di depan gang dan pengemudinya mencari Rhea untuk menyerahkan kunci. Jadi Diana tahu bahwa janda itu juga memiliki sebuah mobil pick up, barang yang cukup langka untuk dimiliki oleh warga desa.


“Mbaknya cari siapa?” Seorang gadis muda yang sangat cantik, kulitnya putih mulus dan perawakannya tinggi dan langsing, menyapa Diana dengan ramah.


“Oh, ngga, tadi Cuma lewat terus penasaran aja apa disini terima jahitan?”


Gadis itu tersenyum ramah, ia kemudian mengikat rambut panjangnya yang tadi sempat terurai.


“Oh, untuk saat ini kami ngga terima jahit satuan mbak. Kami perusahaan konveksi dan menjual produk pakaian jadi. Silakan kalau mau lihat-lihat.”


Sudah kepalang tanggung, Diana nurut saja diajak Rhea masuk untuk melihat-lihat koleksi pakaian jadinya. Ada sebuah etalase besar di dalam salah satu kamar yang berisi penuh tumpukan pakaian yang sudah dikemas rapi dalam plastik-plastik. Di lantai juga berserakan ratusan pakaian yang sedang dikemas untuk dikirim.


“Oh ya, kenalkan, saya Rhea. Owner Albias Collection.” Rhea menjulurkan tangannya.


“Saya...” Diana ragu memperkenalkan diri. Tapi berbohong juga jelas tidak akan membantunya di kemudian hari. “Saya Diana, tunangannya Dika.”


Diana membusungkan dadanya penuh percaya diri. Meskipun Rhea ternyata masih sangat muda, cantik dan hebat, ia tidak ingin merasa rendah diri. Bagaimanapun dialah yang akhirnya mengalahkan gadis itu dan mendapatkan Dika sebagai calon suaminya.


“Oh, jadi ini Mbak Diana. Senang bisa bertemu.”


Rhea kemudian mengambil sebuah baju, produk terbaik yang baru dirilisnya beberapa hari lalu lalu, lalu memberikannya kepada Diana.


“Ini, Mbak. Anggap aja untuk hadiah pertunangan kalian.”