The Power Of Single MoM

The Power Of Single MoM
Penampilan Terakhir



Setelah menemui Rhea di rumah makan hari itu, Bian menemui Albi di lokasi syuting. Ia mendapat kepastian dari informannya bahwa Rhea tidak menemani Albi hari itu. Hanya ada Tata dan pengasuhnya.


Ketika Tata sedang lengah dan asyik berbincang dengan kru, Bian mengajak Albi berbicara di ruang make up.


"Om Bian ngapain kesini?"


"Om?" Bian tidak tahu kenapa Albi kembali memanggilnya Om dan bukan Papa.


"Iya, Om. Kata Mommy, Albi ngga boleh panggil orang lain mama selain Mommy dan papa selain Daddy."


Rhea benar-benar keterlaluan dan sangat kejam kepadanya. Ia bahkan melarang Albi untuk hal yang sepele seperti itu.


"Albi, kalau Mommy minta Albi berhenti nyanyi, Albi juga bakal nurut?"


Albi mengangguk yakin, tidak ada keraguan sama sekali.


"Albi ngga sedih kalau ngga bisa nyanyi lagi?"


Albi menggeleng, "Albi bakal lebih sedih kalau lihat Mommy sedih dan kecewa sama Albi. Mommy selalu nurutin Albi dan mau ngelakuin apa aja buat Albi jadi Albi juga bakal ngelakuin hal yang sama."


"Apa aja?!"


Albi kembali mengangguk, "Mommy mau bersih-bersih rumah Pak Kades dan nyuci baju Bu Imron buat beliin Albi mainan mobil-mobilan remot."


Bian merasa dadanya sesak. Ia tidak pernah tahu jika Rhea harus mengalami masa sesulit itu. Ia kesal dengan gadis keras kepala itu. Kenapa ia tidak menggunakan uang yang dikirimnya saja, tapi malah memilih jalan yang sulit dan membanting tulang hanya demi sebuah mobil remot kontrol.


"Albi lanjutin syutingnya yah? Om Bian pergi dulu."


***


Hari pernikahan Rio dan Diana tiba. Meskipun pesta digelar dengan sangat mewah, tak banyak tamu undangan yang hadir. Kedua orang tua Rio juga tidak terlihat hadir.


Sesuai kesepakatan, Rhea mengijinkan Albi untuk tampil terakhir kalinya di bawah naungan Star Ray Production pada acara pernikahan itu. Rhea dan Dika secara khusus ikut hadir untuk menemani dan menjaga anak mereka.


Betapa kagetnya Rhea dan Dika ketika mengetahui bahwa mempelai wanitanya adalah Diana, mantan tunangan Dika. Diana akan menjadi ipar dari Bian, pria yang menghamili Rhea. Rhea tidak membayangkan kekacauan apalagi yang akan dihadapinya di kemudian hari.


Dika tidak kalah kagetnya dengan Rhea. Ia tidak menyangka bahwa pria yang mencium tunangannya lalu membawa Diana kabur ke Jakarta adalah adik dari Tania, istri Bian. Ia tidak menyangka bahwa dunianya benar-benar sempit.


Meskipun begitu, Dika terlihat lebih tenang. Tidak seperti Rhea yang seketika menjadi panik dan wajahnya pucat.


"Sayang, kamu ngga papa?" Sekarang Dika khawatir melihat keadaan Rhea.


"Aku ngga papa. Aku ke toilet dulu."


Pesta baru akan dimulai, tapi Rhea sudah panas dingin karena mengetahui akan bertemu dengan Diana.


Ketika hendak menuju ke toilet. Rhea mendengar suara keributan dari dalam kamar rias pengantin. Karena penasaran, Rhea mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Ia melihat Tania tengah memaki-maki Diana. Seakan tak mau kalah, Diana juga membalas makian calon kakak iparnya itu dengan lantang.


Karena marah, Tania jadi hilang kendali dan berniat menjambak dan merusak gaun pengantin Diana. Karena takut akan menimbulkan kekacauan yang lebih besar, Tania mengurungkan niatnya.


Karena tak diletakkan dengan benar, kaca setinggi lebih dari satu setengah meter itu roboh dan hampir menimpa punggung Diana. Melihat kaca yang hampir jatuh, Rhea mendorong Tania yang hendak keluar dari ruangan lalu menyeret Diana menjauh dari kaca.


Sayang karena kurang berhati-hati, Rhea justru terjatuh, tertimpa Diana dan tangannya terkena pecahan kaca yang menghambur ke seisi ruangan.


Tania kaget melihat kaca setinggi itu pecah berkeping-keping. Tak ingin terlibat masalah lebih besar, Tania memutuskan untuk segera pergi meninggalkan kamar make up Diana.


Mendengar suara pecahan kaca, Dika segera berlari mencari arah datangnya suara. Ia kemudian menemukan Rhea tengah terduduk di lantai bersama Diana yang terlihat panik membalut tangan Rhea yang berlumuran darah karena terkena pecahan kaca.


Seseorang datang ke arah kamar untuk memanggil mempelai wanita.


"Maaf, Nona. Acaranya akan dimulai. Anda harus segera bersiap di dalam ballroom."


"Pergilah! Jangan sampai acaranya kacau hanya gara-gara ini." Rhea mendorong Diana agar segera pergi.


Sebelum Diana pergi, Rhea menyempatkan diri mengambil kain basah untuk mengelap ujung gaun Diana yang terkena tetesan darahnya.


"Susah bersih. Sekarang pergilah! Aku baik-baik saja. Semoga acaranya berjalan lancar."


Diana tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia tidak menyangka Rhea mau melakukan hal seperti itu untuknya padahal ia selalu saja membuat hidup Rhea kesulitan.


"Kamu beneran ngga papa? Kita ke rumah sakit ya?" Tanya Dika sembari membersihkan bercak darah di kaki dan tangan Rhea.


Rhea menggeleng, "Kita berada di sini untuk Albi. Kalau kita ke rumah sakit, Albi akan sendirian."


"Kita bisa minta tolong Kak Tata dan Neti."


"Ngga, Dika. Aku ingin menemani Albi. Sekarang tolong carikan saja kotak p3k dan tolong urus lukaku untuk sementara waktu. Jika tidak membaik, kita akan pergi ke dokter setelah Albi menyelesaikan tugas terkahirnya hari ini."


Tak lama kemudian banyak orang datang untuk membersihkan ruangan dari serpihan kaca dan memeriksa keadaan Rhea.


Dika menuruti permintaan Rhea. Ia kemudian minta dicarikan p3k untuk mengobati luka di tangan dan kaki Rhea. Mereka kemudian kembali ke ballroom untuk menyaksikan penampilan putra mereka, Albi.


Di samping kiri kursi mempelai ada ibu dan pamannya Diana dari perwakilan orang tua mempelai wanita. Sementara Tania dan Bian duduk di samping kanan sebagai perwakilan kedua orang tua Rio yang menolak datang ke acara pernikahan malam itu.


Roy Budiman dan istrinya tidak merestui pernikahan Rio dengan Diana, yang mereka tahu adalah anak pejabat daerah yang terlibat kasus korupsi. Hal itu jelas tidak memenuhi kriteria standart untuk menjadi bagian dari keluarga Budiman.


Tapi, bukan Rio Budiman namanya kalau tidak bertindak sesuka hati dan berani menentang keluarganya demi keinginannya sendiri. Ia bahkan tidak takut untuk diusir dari rumah dan menetap di sebuah kota kecil demi mengambil kuliah di jurusan yang diinginkannya.


Pernikahan yang tidak direstui oleh seluruh anggota keluarganya seperti itupun bukan hal yang mengkhawatirkan bagi Rio. Ia hanya ingin Diana mendapatkan pesta pernikahan yang diidamkan terlepas dari ketidakhadiran dan restu dari kedua orang tuanya.


Setelah Albi menyelesaikan tugasnya, Dika menggandeng tangan Rhea dan Dika untuk memberi ucapan selamat sekaligus berpamitan kepada kedua mempelai.


"Selamat ya, Di? Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah." Dika menjabat tangan Diana tulus.


Ketika tiba giliran Rhea memberi ucapan selamat kepada Diana, gadis itu malah memeluk Rhea dan meneteskan air mata di pundak Rhea, "Terima kasih, Rhe. Maafin aku ya?"


Rhea mendorong tubuh Diana dari pelukannya, lalu tersenyum, "Selamat menempuh hidup baru, lupakan yang sudah-sudah! Kamu berhak untuk berbahagia."