
"Apa?!"
Jadi pria licik itu berniat memanfaatkannya agar Dika mau menikahi gadis pilihannya. Rhea ingin tahu sejauh mana pria itu akan menekannya jika menolak untuk dimanfaatkan.
"Bagaimana jika saya menolak?"
"Gampang, saya hanya perlu mencabut ijin usaha kamu dan mengusir kamu dari desa ini. Apa itu belum cukup, Nona?"
Rhea menelan ludahnya berat. Ia tidak menyangka akan sejauh itu. Jika ia kehilangan pekerjaan dan tempat tinggal untuk saat ini, itu artinya ia sedang menggadaikan masa depan putranya. Karena jika keluar dari Desa Sumber sekarang, ia belum memiliki tabungan yang cukup untuk membeli rumah. Itu artinya ia dan Albi akan terancam menjadi calon gelandangan lagi. Dan jika kehilangan pekerjaan, itu artinya ia dan Albi terancam masuk kandidat calon pengemis dan pembantu rumah tangga lagi. Rhea bergidik ngeri.
Ia tidak ingin memulai semuanya dari nol lagi demi pria biasa seperti Dika. Ia yakin suatu saat bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari Dika jika ia terus memperbaiki diri dan hidupnya.
"Baiklah, saya akan ikuti semua permintaan Anda tapi dengan satu syarat, saya ingin Anda membantu saya agar mengakses internet dari rumah karena dengan begitu saya tidak perlu lagi sering-sering keluar rumah dan bertemu dengan putra mahkota anda itu lagi."
Permintaan Rhea cukup sederhana dan masuk akal. Hanya saja mengakses internet dari kampungnya memang tidak mudah. Mereka harus berlangganan internet satelit dengan menggunakan anggaran desa. Sepertinya bukan masalah besar jika ia memasang internet satelit juga di rumahnya, sehingga Rhea yang tinggal tidak jauh dari rumah mereka bisa turut menikmati akses internet.
"Oke. Saya akan upayakan akses internet untuk kamu. Jadi sebaiknya tepati janji kamu atau kamu akan menyesal bermain-main dengan saya."
"Deal." Rhea senang karena ia bisa mendapatkan sesuatu meski harus kehilangan sesuatu.
****
Beberapa hari setelah bertemu Pak Kades, Rhea benar-benar mendapat akses internet dari rumah Pak Kades cuma-cuma. Tentu saja ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Pagi itu Rhea memutuskan untuk segera pergi ke kota untuk mengurus semua keperluan transaksi onlinennya.
Sebelum pergi ia menitipkan Albi kepada Mbok Tun.
"Mbok nitip Albi yah? Tolong jangan ijinin Albi kemana-mana sampai saya pulang, terutama ikut Dika."
"Iyo, nduk. Sudah cepat berangkat biar bisa pulang sebelum magrib."
***
Rhea mendatangi bank untuk menutup akun lamanya yang sudah lama tak terpakai sekaligus membuka rekening baru untuk memperlancar bisnisnya.
"Ini akun yang lama beneran mau ditutup, Bu?" Tanya petugas customer service bank ramah.
"Iya. Emang kenapa Mbak? Sudah hangus karena kelamaan ngga kepake ya Mbak?"
Si petugas customer service menggeleng, lalu menunjukkan saldo rekening Rhea yang lama, "Saldonya masih banyak, Bu. Mau saya pindahkan ke akun baru atau gimana?"
"Apa?" Rhea terkejut melihat saldo rekeningnya yang ternyata sangat banyak. Cukup untuk membeli sebuah rumah di desa itu. Sudah hampir empat tahun ini ia tidak pernah mengecek saldonya karena tidak pernah ada transaksi. Tapi ternyata ada uang yang rutin masuk ke rekeningnya setiap bulan.
"Mbak, bisa tolong cek siapa pengirimnya?"
"Baik, sebentar. Mohon ditunggu sebentar."
Rhea sangat penasaran dengan asal uang yang masuk ke rekeningnya itu.
"Atas nama Fabian Nanda Subroto dari bank xxx di California."
"Jadi gimana, Bu?"
"Oh, biarkan saja tetap di rekening lama, Mbak. Tolong rekening yang baru sekalian diaktifkan m-bankingnya ya?"
"Baik, mohon ditunggu, akan segera kami proses."
***
Selesai dengan urusan perbankannya, Rhea segera mengirim nomor rekening barunya kepada Tata. Tak lama kemudian saldonya sudah bertambah dan ia segera pergi membeli leptop baru kemudian menemui penjual kain langganannya untuk membuat kesepakatan jual beli berlangganan via online. Setelah menemukan kesepakatan dengan salah satu supplier terbesarnya itu, Rhea bergegas pulang sebelum angkot ke Desa Sumber habis sore itu.
Sesampainya di rumah Rhea tidak melihat Albi di rumah Mbok Tun.
"Mbok, Albi kemana?"
"Maaf, nduk. Mbok lupa kasih tahu kamu kalau tadi siang jadwal Mbok kontrol lansia ke puskesmas tapi Albi ndak mau ikut katanya takut disuntik lagi sama dokter. Jadi Albi diajak Mas Dika ke sekolah."
Kecewa karena Albi dibiarkan pergi bersama Dika, Rhea langsung bergegas ke sekolah untuk menjemput Albi. Hari itu Dika sedang mengajar ekstrakulikuler seni musik dan tari. Albi ikut belajar main gitar bersama Dika dan ia terlihat sangat antusias. Saat Rhea tiba, ia mendengar Albi sedang menyanyikan reffrain lagu berjudul "Dance with My Father" yang dipopulerkan Luther Vandross dengan sangat indah.
Meskipun Albi yang belum genap berusia empat tahun belum bisa melafalkan huruf R dengan sempurna, tapi ia sudah bisa mengucapkan semua huruf dengan tepat, tidak lagi cadel. Kesamaran Albi dalam melafalkan huruf R justru membuat bahasa inggrisnya semakin terdengar fasih meskipun Rhea yakin ia belum mengerti apa maksud kalimat yang dinyanyikannya.
Sebagai seseorang yang pernah bekerja di dunia hiburan dan mengenal banyak penyanyi bersuara emas, ia tentu langsung menyadari suara emas yang dimiliki putra kecilnya. Meskipun kalimatnya belum bisa dibilang sepenuhnya sempurna tapi Albi mampu menyanyikan reffrain lagu favorit Rhea itu dengan sangat baik dan merdu.
Rhea memutuskan untuk menunda mengetuk pintu ruangan Dika mengajar. Ia ingin mendengar Albi sampai selesai menyanyi. Setelah selesai Dika dan murid-muridnya memberikan tepuk tangan yang sangat meriah untuk Albi. Mereka tidak menyangka bahwa bocah kecil itu memiliki bakat dan potensi yang luar biasa untuk anak seusianya.
"Albi, boleh ngga Om Dika tanya, kok Albi bisa sih nyanyi pake bahasa inggris?"
"Mommy yang ajalin."
"Terus kenapa Albi memilih lagu itu?"
Rhea sangat penasaran mendengar jawaban Albi jadi ia kembali mengulur waktu dan tetap menguping dari balik pintu kelas.
"Lagu kesukaan Mommy. Mommy seling nyanyi lagu itu, jadi Albi hafal lagunya."
"Wah, Albi hebat yah?" Puji Dika tulus.
Rhea masuk ke dalam kelas lalu bergegas membawa Albi pulang.
"Rhe, jangan kaya gini dong. Biar Albi pulang sama aku. Sebentar lagi kelas selesai." Dika mengejar Rhea sampai keluar kelas.
"Dika, berapa kali lagi harus saya ingatkan. Jangan dekati saya atau Albi lagi, atau -"
"Atau apa?"
"Saya akan bawa Albi pergi jauh dari sini."