
Keesokan paginya Pak Iman mulai siuman dan ia sama sekali tidak menyangka bahwa Rhea akan datang menjenguknya.
"Kapan kamu datang, Rhe?"
"Kemarin, Pak. Pas denger Bapak dibawa ke rumah sakit, Rhea langsung kesini."
"Siapa yang berani ngasih tahu kamu?"
"Pak.. kenapa sih Bapak ngga pernah bilang sama Rhea kalau Bapak sakit? Rhea bahkan ngga tahu kalau selama ini Bapak ngga bisa jalan." Rhea terbata-bata menahan isak tangisnya.
"Hidupmu sudah susah, Rhe. Bebanmu sudah berat. Bapak ngga mau nambahin lagi. Karena itu, waktu itu Bapak usir kamu supaya kamu ngga tahu kalau Bapakmu ini sakit-sakitan. Bapak minta maaf ya, Rhe?"
Rhea tidak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya bisa menangisi semuanya.
"Ini siapa, Rhe?"
"Oh, saya Dika, Pak." Dika mencium punggung tangan Pak Iman takzim. "Saya ingin menjadi calon suaminya Rhea, Pak. Kalau saja Bapak ijinkan."
Pak Iman tidak menyangka bahwa Dika akan seberterus terang itu. Ia bahkan tidak merasa canggung untuk meminta restunya.
"Apa kamu tahu seperti apa anak saya?"
Dika mengangguk, "Seorang mantan artis terkenal yang kemudian dicampakkan Bian setelah dihamili. Seorang ibu tunggal yang hebat, yang bisa membuat hati saya luluh lantah memujanya."
Pak Iman tersenyum. Ia menyukai pribadi Dika yang apa adanya. Dan ia juga merasakan ketulusan dalam setiap perkataan Dika. Selain itu, ia juga sudah menyaksikan sendiri bagaimana Dika dengan sigap melindungi Rhea dan anaknya ketika diusir olehnya waktu itu.
"Kapan kamu siap menikahi anak saya."
"Kapanpun Bapak mengijinkan. Saya siap, Pak."
"Besok. Saya mau kalian menikah besok."
***
Pagi itu, Tata sudah datang bersama Albi dari Jakarta. Penghulu dan saksi juga sudah tiba. Mereka segera memulai prosesi ijab qabul di dalam kamar rawat inap Pak Iman.
Setelah ijab qabul selesai, Dika memberikan dan memakaikan satu set perhiasan kepada Rhea sebagai hadiah pernikahan. Ia juga menyerahkan sebuah cincin yang dititikan Mbok Tun ke dalam genggaman Rhea.
"Apa ini?"
Pak Iman menyela pembicaraan mereka, "itu cincin kawin milik mendiang ibumu. Sebelum meninggal, ia bersikeras ingin memberikan cincin itu kepadamu, Rhe.
Rhea kembali dibuat menangis dengan banyaknya kenangan pilu yang menyesakkan dadanya. Ia kemudian ingat bahwa ayahnya belum sempat mengenal putranya.
"Pak, ini Albi, cucu Bapak."
Bocah tampan bergigi gingsul itu tersenyum sambil mencium tangan kakeknya.
"Kakek sakit apa?" Tanyanya polos.
Pak Iman terlihat sangat senang mengetahui bahwa cucunya sudah sebesar dan sepintar itu. Bocah itu bahkan sama sekali tidak menaruh dendam meskipun pernah diusir dan dicampakkannya. Pak Iman memeluk Albi erat.
"Kakek cepet sembuh ya?"
"Bapak!!!"
***
Hari itu adalah hari paling bahagia sekaligus memilukan dalam hidup Rhea. Bahagia karena ia akhirnya bisa menikah dengan pria yang benar-benar mencintainya. Tapi juga menjadi hari paling menyakitkan karena kehilangan ayahnya, pria yang menghabiskan seumur hidupnya untuk menjaga dan melindunginya.
Sementara Albi merasa sangat terpukul karena menyaksikan kakek yang dikenalnya untuk pertama kali meninggal di dalam dekapannya. Albi terus menangis memanggil-manggil nama kakeknya. Ia bahkan meronta-ronta melarang orang-orang memasukkan jenasah kakeknya ke liang lahat.
Terlalu berat bagi anak seusia Albi untuk menerima kenyataan seperti itu. Ditengah kesedihannya, Rhea berusaha untuk tegar dan tabah demi Albi. Ia meyakinkan Albi untuk bisa merelakan kakeknya agar bisa beristirahat dengan tenang di alam sana.
****
Diantara para pelayat yang datang ke rumah ayahnya, Rhea melihat sosok Bian datang bersama seorang wanita.
"Rhe, kami turut berduka cita atas meninggalnya ayah kamu, kakeknya Albi."
"Cih! Aku tidak sudi menerima simpati palsumu!"
Dika mendekati dan merangkul pundak Rhea seakan mengingatkan bahwa mereka sedang berada pada momen yang sangat tidak pas untuk bertengkar.
Dika kemudian menjabat tangan Bian, "Terima kasih atas kedatangan dan bela sungkawanya. Silakan."
Dika mengajak Bian duduk bersama para pelayat yang lain. Sementara itu Tania merasa penasaran kenapa ibunya Albi begitu membenci Bian, suaminya.
Tania mengulurkan tangannya, "Saya, Tania. Istrinya Bian."
Rhea membalas jabat tangan Tania kemudian meninggalkan wanita itu begitu saja. Merasa kesal diacuhkan, ia memilih bergabung bersama suaminya yang sedang asyik berbicara dengan Dika.
"Ah, kenalkan. Ini Tania, istri saya. Dan sayang, ini Dika, papanya Albi."
Mereka berkenalan.
"Boleh saya menemui Albi?" Tania selalu terang-terangan soal niat dan tujuannya.
"Albi sedang shock. Ia perlu waktu untuk menenangkan diri -"
"Saya datang jauh-jauh kesini cuma buat ketemu sama Albi. Saya juga sama sekali tidak berniat membuat Albi lebih menderita. Saya justru berniat baik untuk menghiburnya. Tapi Anda malah melarang saya ketemu sama Albi." Tania tiba-tiba saja memotong perkataan Dika dan marah-marah.
Dari dalam kamar Albi mendengar adanya keributan di ruang tamu dan ia seperti mengenal suara wanita itu.
"Mom, siapa itu? Kenapa ribut-ribut?"
"Mommy juga ngga tahu sayang. Biarin aja, ada Daddy yang urusin."
Suara Tania kembali terdengar memaki-maki Dika dan kali ini suaranya lebih keras sehingga Albi dapat mendengarnya dengan jelas.
"Itu Mama Tania, Mom!"
"Mama?!"