The Power Of Single MoM

The Power Of Single MoM
Pertemuan



Agak mengherankan bagi Tata dan Rhea karena tiba-tiba saja bos besar Star Ray ingin bertemu dengan mereka setelah sekian lama mereka bekerjasama tapi ia tak pernah sekalipun menampakkan dirinya.


Mereka bahkan baru tahu bahwa Ragil bukanlah pemegang kekuasaan tertinggi di perusahaan itu. Selama ini Ragil selalu saja tampil sebagai orang nomor satu dalam setiap urusan. Siapa sangka pria congkak itu nyatanya hanya tangan kanan yang dijadikan umpan.


Pagi itu Rhea dan Tata sudah tiba di kantor Star Ray. Seperti biasa Ragil menyambut mereka dengan baik dan penuh rasa hormat. Tata benar-benar merasa janggal dengan sikap Ragil yang mengistimewakan mereka.


Semua orang di industri hiburan yang mengenal Ragil pasti tahu bagaimana congkak dan angkuhnya produser yang satu itu. Tapi entah kenapa ia begitu sopan dan ramah kepadanya dan Rhea.


Ragil membawa mereka ke dalam ruangan kerjanya. Tak lama kemudian seorang pria yang katanya bos Ragil datang.


"Bian?!" Rhea terkejut. Tak menyangka akan bertemu pria jahanam itu disana.


"Perkenalkan, ini Fabian Nanda Subroto, pemilik Star Ray Production." Ragil sedikit membungkuk penuh hormat kepada Bian.


Rhea benar-benar tidak percaya dan tidak ingin mempercayai apa yang baru saja didengarnya.


"Lalu kenapa selama ini anda tidak pernah memberitahu kami bahwa bajingan ini adalah atasan anda?!" Rhea benar-benar naik pitam.


Ia merasa dipermainkan dan ditipu mentah-mentah oleh Ragil dan Bian.


Tata berusaha menenangkan Rhea tapi sia-sia. Emosi Rhea memuncak. Ia sangat membenci pria yang telah menghamili dan mencampakkannya yang sekarang juga sedang menipunya dan bermain-main dengan nasib dan karir putranya. Air mata kebencian, kemarahan dan kecewa tumpah ruah di wajah mulus Rhea.


"Bisa tinggalkan kami berdua?"


Tata menolak dan bersikeras untuk membawa Rhea keluar dari ruangan Ragil. Tapi Ragil berusaha menghentikan Tata dan segera membawanya keluar untuk memberikan Bian kesempatan berbicara dengan Rhea.


"Sejak kapan lo ngerencanain ini semua?"


"Sejak gue lihat Albi punya bakat dan kemampuan yang luar biasa."


"Sejak kapan lo tahu kalau Albi anak gue?"


"Sejak Albi tampil di pesta walikota."


Rhea semakin kesal karena tahu bahwa ia tengah dijebak mentah-mentah oleh orang yang paling dibencinya.


"Jadi lo sengaja nawarin kontrak sebesar itu buat narik Albi ke perusahaan lo?"


"Itu murni kontrak Rhe. Gue lagi butuh artis baru yang potensial untuk mempertahankan perusahaan gue dan kebetulan Albi cocok dengan apa yang gue butuhin."


"Karena kalimat penutup lo di acara talkshow semalam."


"Apa maksud lo?"


"Gue tahu selama ini lo dan Dika berbohong soal pernikahan kalian dan Albi. Gue ngga pernah terganggu selama itu nguntungin gue dan perusahaan gue. Tapi mendengar perkataan lo semalem, gue yakin lo ngga lagi acting. Dan entah kenapa gue ngerasa terganggu dan ngga suka lo terjebak cinta lokasi sama lawan main lo."


Lagi-lagi Rhea harus menahan ledakan amarahnya. "Lo pikir lo siapa bisa ngatur-ngatur hidup gue?!"


"Gue ayah biologisnya Albi. Jadi gue berhak ikut campur dengan urusan orang yang menjadi ayah tiri anak gue."


Rhea tertawa terbahak-bahak. "Ayah?! Sejak kapan lo punya hak buat jadi ayah Albi?! Dan ikut campur?! Jangan mimpi! Lo bukan siapa-siapa dan ngga punya hak apa-apa atas Albi dan hidup gue! Dasar bajingan ngga tahu malu!"


"Tunggu Rhe! Lo boleh maki gue. Ngatain gue bajingan, penjahat atau apapun. Tapi fakta bahwa Albi adalah anak kandung gue, darah daging gue ngga bisa lo pungkiri."


"Lo bener-bener ngga punya malu dan ngga punya otak. Kemana aja lo waktu gue hamil dan butuhin lo? Waktu gue bertaruh nyawa ngelahirin Albi? Waktu gue banting tulang buat ngebesarin Albi?"


"Rhe, gue minta maaf. Waktu itu gue masih sangat muda. Gue takut tiba-tiba jadi seorang ayah. Gue ngga tahu harus gimana kalau tiba-tiba ada anak yang manggil gue Bapak dan nuntut pertanggung jawaban gue. Waktu itu bokap gue juga lagi kampanye buat pemilihan gubernur. Dia langsung ngirim gue ke Amrik supaya ngga ada gosip yang mengancam pencalonannya."


Rhea tepuk tangan, "Wah, wah, lo ngga mikirin tentang gue? Lo pikir gue ngga takut kaya elo? Apa karena bokap gue ngga nyalon gubernur jadi boleh gue dibuang dan dihancurin gitu aja?" Rhea mulai menangis, "Semua orang ngehina gue. Semua orang jijik sama gue. Semua orang ngusir gue seakan gue kuman. Gue ngelahirin dalam ketakutan, ngerawat dan ngebesarin anak gue dalam penderitaan. Dan lo tiba-tiba saja datang cuma mau bilang kalau lo nyesel?"


"Tapi, Rhe. Gue juga menderita dihantui rasa bersalah gue. Gue juga berkorban buat anak kita. Gue selalu kirimin lo duit buat -"


"Oh, jadi karena duit itu lo ngerasa berhak atas anak gue?!" Rhea menyerahkan buku rekeningnya yang berisi uang dari Bian, "Nih, ambil balik duit lo! Gue ngga butuh!!!! Jangan pernah ganggu hidup gue dan anak gue lagi!"


Bian tidak bisa lagi menahan Rhea untuk pergi. Wanita itu sudah sangat marah. Bian belum pernah melihat Rhea semarah itu. Meskipun begitu, Bian sedikit lega, melihat kemarahan Rhea, ia yakin bahwa Albi benar-benar anak kandungnya. Sekarang dia punya lebih banyak waktu untuk lebih dekat dengan darah dagingnya itu.


***


Rhea pulang dengan penuh emosi. Ia menceritakan semua yang dialaminya pagi itu kepada Tata. Tentang bagaimana dengan pedenya Bian menganggap bahwa dirinya punya hak atas Albi, bagaimana ia merasa sangat membenci pria itu dan bagaimana ia khawatir kalau-kalau Bian berniat mengambil Albi darinya.


Tata tak kalah emosi dan kesal karena merasa ditipu oleh Ragil. Ia seharusnya mencari tahu lebih jauh tentang pemilik Star Ray sebelum menandatangani kontrak dengan mereka.


Sekarang ia benar-benar kesal karena harus bekerjasama dengan orang yang paling berusaha dihindarinya dan dibencinya itu. Tata menghubungi pengacaranya untuk meninjau ulang kemungkinan mereka memutuskan kontrak dengan Star Ray dan konsekuensi yang harus mereka tanggung.


Sementara Rhea sedang berusaha menenangkan diri. Ia harus mencari cara agar putranya aman dari jangkauan Bian. Rhea harus memutar otak dan segera menemukan jalan keluar.


"Ah ya! Gue tahu harus mencari siapa!"