The Power Of Single MoM

The Power Of Single MoM
Anak



Berita tentang Rhea dan Albi sampai juga ke telinga Subroto yang kini sudah menjabat sebagai gubernur.


"Pa, lihat! Itu kan Rhea! Artis yang dihamili Bian, anak kita?" Bu Broto rupanya menjadi salah satu penggemar acara talkshow yang sedang mengundang Rhea sebagai bintang tamu.


"Apa kamu yakin, Ma?"


"Iya, Pa. Itu anaknya? Apa mungkin itu anak Bian, Pa?"


"Sudahlah, Ma. Bian sudah punya keluarga sendiri. Jadi jangan ungkit-ungkit lagi soal masa lalunya!"


"Tapi anak itu sangat pintar dan tampan seperti Bian, Pa."


"Ma! Cukup!"


***


Tata sedang sibuk menerima banyak telepon dari orang-orang yang ingin mengundang Rhea dan keluarganya ke acara mereka. Jadi Rhea memutuskan untuk pulang lebih dulu bersama Albi. Karena kelelahan, Albi tertidur di mobil.


"Sekarang kamu tahu kan seperti apa cara kerja dunia hiburan? Mereka mempercayai apa yang ingin mereka percaya, bukan apa yang sebenarnya." Rhea membenarkan posisi tidur Albi.


Meskipun baru tahu dan cukup terkejut dengan bagaimana ia menjadi populer dalam sekejab, Dika tak ingin terlihat memalukan di depan Rhea. "Jadi, apa kau merasa lebih baik."


"Bagaimanapun juga, aku masuk ke dunia itu dengan kerja keras, tidak instan seperti sekarang. Jadi kembali kesana dengan penuh percaya diri setelah apa yang terjadi tentu membuatku sangat bersemangat. Sekarang aku merasa lebih baik. Setidaknya aku tidak lagi merasa terlalu buruk untuk bertemu dan berhadapan dengan orang yang mengaku sebagai penggemarku."


"Syukurlah, aku senang mendengarnya." Dika memang senang melihat Rhea merasa lebih baik dan percaya diri. Tapi sebenarnya ia juga khawatir dengan ayahnya.


"Btw, acting kamu bagus juga. Sepertinya kamu juga punya bakal terpendam seperti Albi." Rhea tulus memuji Dika yang memang memainkan dengan sangat baik perannya sebagai ayah pura-pura Albi.


"Aku justru kagum dengan Albi yang bisa tanpa salah sedikitpun memanggilku Daddy. Coba kalau tadi dia keceplosan panggil Om, bisa gawat."


***


Bian sedang memandangi layar ponselnya dengan serius. Ia melihat vidio penampilan Albi yang dikirim oleh walikota kenalan ayahnya. Penampilan Albi memang luar biasa, tapi ada yang jauh lebih menarik perhatian Bian. Yaitu wanita yang berdiri jauh di samping panggung dan menyaksikan Albi tanpa berkedip. Bian yakin bahwa bocah laki-laki itu adalah anak Rhea yang itu berarti juga anak kandungnya.


Tapi bagaimana mungkin mereka mengarang cerita bahwa anak itu adalah anak Dika? Apa Rhea seputus asa itu sampai mau menjadikan pria lain sebagai ayah bohongan Albi? Apapun itu, Bian harus memastikan bahwa ia akan mendapatkan Albi kembali.


"Sayang, kamu lagi apa?" Tania yang sudah memakai lingerie menyusul Bian ke ruang kerja.


"Oh, ini. Ada email dari Ragil." Bian berbohong. Ia tidak istrinya tahu bahwa ia sedang mencari tahu tentang Rhea dan anaknya.


Tania kemudian meletakkan ponsel ke dalam saku Bian dan membawa suaminya itu ke kamar.


Bian dan Tania sudah lima tahun menikah. Tapi mereka belum juga dikarunia anak. Tidak sedikit dokter kandungan yang mereka kunjungi untuk berkonsultasi tapi tak satupun yang membuahkan hasil. Dokter mengatakan bahwa Tania mengalami endometrosis dan kelainan struktur rahim yang membuatnya susah hamil.


Tak ingin menyerah dengan kelainan yang dialaminya, Tania semakin sering berolahraga, menjaga pola makan dan rutin berhubungan badan dengan suaminya. Tak peduli Bian tertarik atau tidak. Mereka hanya perlu bersenggama agar segera memiliki keturunan.


Sebagai salah seorang pemimpin di rumah produksi milik ayah Tania, Bian kerap kali kelelahan karena tugas dan permasalahan yang dihadapinya di kantor. Tapi seolah tak mau tahu, jika tiba jadwal mereka bercinta, maka Tania akan tetap memaksa bagaimanapun caranya agar suaminya mau berbagi spe*ma dengannya. Seperti itulah Tania, egois dan mau menang sendiri.


Sementara Bian yang terpaksa menikahi Tania agar ayahnya mendapat dukungan dana kampanye dari ayah Tania, tidak punya pilihan lain selain menuruti dan menjadi budak nafsu Tania.


Bian tak pernah sekalipun menikmati acara bercinta seperti ketika ia melakukannya untuk pertama kalinya bersama Rhea. Sejak menikah, Tania selalu menguasai semua permainan. Ia tidak pernah membiarkan Bian mengambil inisiatif atau memimpin, bahkan dalam urusan bercinta.


Dalam kehidupan sehari-haripun, Bian lebih mirip seperti boneka yang dikendalikan oleh Tania. Ia tidak lagi diijinkan melakukan apapun yang dia sukai dan inginkan tanpa ijin dan kemauan Tania.


Bian berusaha bertahan dalam hubungan yang mencekiknya setiap hari itu hanya demi sang ibu.


Sejak mendengar keterkaitan Bian dengan gosip kehamilan di luar nikah yang menimpanya dan Rhea waktu itu, ibunya mengalami serangan jantung dan sering sakit-sakitan. Karena itu, ia tidak ingin hal buruk menimpa ibunya jika ia berpisah dengan Tania. Karena bagaimanapun juga ibunya sangat menyukai dan selalu membanggakan menantu kayanya itu kepada teman-teman sosialitanya.