The Power Of Single MoM

The Power Of Single MoM
Ancaman



Keesokan harinya, Rhea mendatangi kediaman Subroto, ayah Bian yang adalah seorang gubernur di ibukota. Pelayan membukakan pintu rumah dan mengijinkannya masuk dan duduk di ruang tamu kebanggan keluarga Subroto.


Tak lama kemudian, Rika, ibu Bian menemui Rhea di ruang tamu.


"Ada perlu apa kamu datang kesini?"


"Saya ingin bertemu Pak Gubernur. Apa beliau ada di rumah?"


"Suami saya belum pulang."


"Sayang sekali, kalau begitu saya permisi."


Ketika hendak keluar dari rumah Bian, ayah Bian baru saja datang. Jadi Rhea mengurungkan niatnya untuk pamit dan memilih untuk menunggu agar bisa berbicara langsung dengan Pak Subroto.


"Mau apa kamu kesini?" Tanya Pak Broto sinis


"Bisa kita bicara sebentar?"


Subroto duduk di sofa ruang tamunya, "langsung ke intinya saja!"


Rhea menunjukkan surat perjanjian kerjasama antara Star Ray dengan putranya, Albi. Subroto membaca dengan seksama sampai pada nilai kontrak yang mereka sepakati.


"Anda lihat sendiri kan bagaimana kelakuan putra kesayangan Anda? Apa anda juga berfikir tentang bagaimana reaksi publik jika tahu bahwa putra andalah yang ternyata bajingan pengecut yang mencampakkan Rhea Anabarja yang sedang mengandung anaknya seperti sampah?"


Subroto tidak menyangka Bian akan bertindak sejauh dan seceroboh itu. Bagaimanapun juga Rhea benar, jika masyarakat tahu tentang aib keluarganya, jabatannya sebagai gubernur pun akan bermasalah dan terancam.


"Jadi, apa yang kamu inginkan."


"Simple. Suruh anak anda mengakhiri kontrak itu dan jangan pernah lagi mengganggu kehidupan saya dan anak saya. Jika dia tidak bisa membiarkan saya hidup denga tenang, maka akan saya pastikan bahwa kali ini saya tidak akan lagi hancur sendirian. Kalian semua harus merasakan kehancuran yang lebih besar dan menyakitkan!"


Rhea mengambil berkas kontraknya lalu pergi meninggalkan rumah Subroto. Meskipun sangat menyesakkan berada di tempat dimana dulu ia diusir, diancam dan dibuang seperti sampah ketika sedang mencari Bian, Rhea merasa lega telah mengancam dan menekan Subroto untuk mengendalikan Bian.


Dengan begitu, Rhea berharap Bian lebih berhati-hati terhadapnya dan Albi. Bian tidak akan bisa merebut Albi darinya karena itu artinya semua orang akan tahu siapa dia dan bagaimana kebusukannya selama ini terhadap Rhea dan Albi.


****


"Rhe, lo darimana aja?!"


"Dari rumah Subroto."


"Mo ngapain lo kesana?"


"Buat mastiin agar Bian ngga berbuat macem-macem sama Albi." Rhea menceritakan tentang kedatangannya ke rumah Subroto.


"Sekarang, lo harus bantuin gue buat cari informasi tentang rumah tangga Bian. Tentang istri, anak dan mertuanya. Semuanya. Setelah punya perisai, sekarang gue butuh senjata buat ngelawan Bian."


Tata mengangguk setuju.


Bukan hal sulit untuk menemukan informasi orang-orang kaya dan berpengaruh seperti mereka. Meskipun tidak semua yang tertulis dalam artikel adalah benar dan sesuai kenyataan, setidaknya data dan fakta dasar pasti ada dan sesuai.


Tata juga menemukan fakta bahwa meskipun sudah lima tahun menikah, mereka belum juga memiliki momongan. Tania, istri Bian adalah sosialita yang aktif dalam kepengurusan salah satu partai politik yang berhasil mengusung ayah Bian menjadi gubernur.


"Waw! Ayahnya gubernur, ibunya sosialita, mertuanya pengusaha, istrinya politikus, dan anaknya bajingan keparat. Keluarga sempurna." Rhea membaca laporan Tata dengan seksama.


"Jadi apa rencana lo selanjutnya?"


"Gue sudah punya perisan dan senjata. Langkah gue selanjutnya tergantung pada aksi Bian." Rhea tersenyum penuh kemenangan.


***


Malam itu Bian terpaksa mampir dulu ke rumahnya karena ayahnya terus saja marah-marah di telepon dan memaksanya pulang ke rumah. Seperti biasa, sang ibu akan selalu menyediakan semua makanan favorit Bian di meja makan begitu tahu putra kesayangannya itu pulang. Wanita yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan nongkrong dan hura-hura itu sepertinya mulai bosan dan ingin menimang cucu yang bisa dipamer-pamerkan kepada komplotan sosialitanya layaknya sebuah mainan baru.


Rika menyambut kedatangan Bian dan langsung menggiringnya ke meja makan. Ketika sedang menikmati makan malamnya dengan lahap, tiba-tiba sang ayah turun dan bergabung dengannya di meja makan.


"Bian, Papa benar-benar ngga menyangka kamu akan sebodoh itu! Papa sudah menyekolahkanmu di Amerika tapi nyatanya kamu tetap saja tidak menjadi lebih pandai."


"Apa maksud Papa? Bisa bicara lebih jelas?"


"Untuk apa kamu menawarkan kontrak sebesar itu untuk pendatang baru seperti Albi?"


"Sejak kapan Papa tertarik dengan bisnis Bian?"


"Sejak kamu melibatkan bocah itu kedalam hidup kamu!"


"Jadi Papa sudah tahu kalau Albi adalah anak kandung Bian? Lalu untuk apa Papa bertanya tentang uang yang tidak seberapa itu? Ia bahkan berhak atas semua uang yang Bian miliki."


"Hentikan Bi! Jangan mengulang kebodohan yang sama! Kamu tahu persis bahwa sampai kapanpun ayah tidak akan pernah mengakui anak itu sebagai bagian dari keluarga Subroto."


"Sayangnya, Bian tidak membutuhkan ijin atau pengakuan Papa untuk menjadikan Albi anak Bian."


"Bian!!! Dengar! Kamu sudah membuang anak itu dan tak ada seorangpun yang tahu bahwa kamulah yang menghamili Rhea. Jadi jangan coba-coba menghancurkan hidup kamu hanya karena kamu sangat menginginkan seorang anak. Kalian bisa melakukan program bayi tabung dan kamu akan segera memiliki anak dari Tania."


"Kenapa Papa tidak bicara saja dengan menantu kesayangan ayah itu? Agar ia membuang gengsinya dan mengakui saja bahwa ia tidak bisa hamil secara normal seperti perempuan lain. Dengan begitu mungkin dia akan dengan senang hati menerima saran Papa untuk melakukan program bayi tabung."


Subroto tahu betul bahwa perkataan Bian benar. Selama ini Tania selalu menolak program bayi tabung karena malu dianggap sebagai wanita yang tidak normal. Ia bersikeras untuk bisa hamil secara normal meskipun sudah banyak dokter yang mengatakan bahwa hal itu sangat sulit akibat kelainan endometrium dan struktur rahim yang juga tidak normal.


Meskipun begitu, Subroto tidak bisa membenarkan sikap putranya yang ingin mengakui Albi sebagai anaknya. Karena itu artinya, jabatan, karir politik dan nama baik keluarganya sedang dipertaruhkan. Dan Subroto yakin bahwa Rhea bukan lagi gadis muda yang lugu dan mudah ditakhlukkan. Gadis itu tumbuh menjadi wanita dewasa yang kuat dan menakutkan.


"Bian dengar, Papa cuma ngga mau karir dan keluarga kamu hancur cuma gara-gara anak itu. Kamu sudah melangkah sejauh ini, jadi jangan sampai semua pencapaian kamu berakhir sia-sia begitu saja."


"Bian sudah dewasa, Pa. Bian tahu apa yang harus Bian lakukan. Jadi Bian harap mulai sekarang, Papa dan Mama ngga usah ikut campur urusan Bian lagi."


Bian bergegas pergi meninggalkan rumah orang tuanya karena tidak ingin berdebat lebih lama lagi. Bian tahu tentang semua kekhawatiran ayahnya. Ia juga tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan hidup tanpa Star Ray.


Tapi keinginannya untuk memiliki Albi sebagai anaknya lebih besar. Bocah itu sudah mencuri hatinya sejak awal. Ia sudah terlalu banyak mengalah terhadap istri dan keluarganya. Kali ini ia tidak ingin lagi menjadi pengecut yang terus saja bersembunyi di balik ketiak mereka. Ia ingin, setidaknya sekali saja, menjadi sosok pria yang paling dicintai dan dihormati Albi, putra kandungnya.