
Sudah waktunya Anggiva untuk pergi bekerja, gadis itu telah bersiap siap namun sebelum pergi ia menghampiri pemuda itu yang sedang menonton tv.
Terlihat pemuda itu serius sekali menonton dan sesekali tertawa entah apa yang lucu padahal acara di tv nya sedang sedih.
" Heiiiii..... " Pemuda itu melirik ke arah suara.
" akuuu... pergi sebentar ya... tidak apa apa kan kau ku tinggal sendiri dirumah. " lanjut Anggiva meminta izin.
Tidak ada jawaban pemuda itu malah terlihat bersedih.
" hanya sebentar saja nanti aku pulang kembali yaaaa.... " bujuk Anggiva.
Tetap saja pemuda itu masih diam dan merasa tidak rela untuk melepasnya begitu pun Anggiva yang tidak tega melihat wajah muram itu.
" ayolahhh... ini pentingg... nanti kalau lapar tinggal pergi ke meja makan atau buka kulkas disana ada beragam makanan yang siap saji.. tidak apa apa kan... "
" ku mohon mengerti lah.. " lanjut Anggiva.
" heung.... "
" iya janji aku tidak akan lama.. " seakan Anggiva mengerti dengan cara bicaranya pemuda itu.
sejenak kemudian pemuda itu mengangguk dan mengizinkan membuat Anggiva lega.
" benar kah... terimakasih aku janji setelah semua selesai aku akan kembali.. kalau begituuu aku pergi dulu yaaa.. nanti kalau ngantuk tidur duluan saja dikamar tamu. " jelas Anggiva.
Saat Anggiva hendak pergi pemuda itu juga ikut bangun.
" hei kamu mau kemana... "
" heung... "
" eeee.. pasti mau mengantar ku sampai pintu ya ya sudah ayo.. " sebenarnya Anggiva tidak mengerti namun iya saja lah dari pada kelamaan.
Anggiva mengunci pintu agar tidak ada perampok yang masuk dan pemuda itu tidak pergi kemana mana, Gadis itu telah berada diluar namun diri nya kembali melirik kebelakang melihat pemuda itu yang menempelkan wajahnya dijendela dekat pintu memandang kepergian diri nya.
" aisss... dasaarr... tadinya aku mau terharu tapi melihat wajah konyolnya aku jadi pengen tertawa.. ahahaha... hei moncongmu itu tolong dikondisikan... " Anggiva tidak mampu menahan tawa saat melihat wajah konyol pemuda itu yang menempel dijendala apalagi dengan hidung tertarik keatas seperti itu.
Setelah nya gadis itu pun pergi menuju ketempat kerja meninggalkan pemuda itu yang kembali menonton tv.
Sampai ditempat kerja Anggiva malah memikirkan Pemuda itu dan menjadikannya tidak fokus sehingga ditegur oleh teman kerja nya.
Padahal pemuda itu adalah orang asing yang harus nya diusir tapi kenapa Anggiva yang orang nya bodoamat tiba tiba jadi sepeduli ini, apakah karena ganteng..
Mungkin sih itu alasan utamanya.
Disuatu tempat sebut saja dikampus.
Seorang Dosen muda baru saja selesai mengajar dan sekarang Dosen tampan itu hendak mencari makan disebuah restoran, namun sebelum itu ada saja siswi siswi yang menghampiri nya seperti sekarang.
" pak Dosen... " sapa salah satu siswi dari tiga diantaranya.
" eh iya mona ada apa... " balas Rafelio sebut saja nama Dosen tampan itu.
" mau pulang aja ni pak.. " tanya mona caper.
" iyaaa... jam saya sudah selesai dan saya mau cari makan dulu.. "
" ihh pak Dosen gak ngajak ngajak.. " kini Alia bersuara.
" iya ni pak.. " tambah Rina.
" kalian kan masih ada kelas lagian bisa menimbulkan fitnah.... udah ya... saya pergi dulu.. sampai besok.. " Tanpa mendengar balasan dari tiga cewek itu, Rafelio langsung menaiki mobil dan tancap gas.
Dosen muda tampan itu ingin menuju ke sebuah cafe dan singkat nya telah sampai namun cafe ini adalah tempat Anggiva bekerja, habislah gadis itu kalau ketahuan karena sebenarnya Rafelio ini adalah kakaknya Anggiva yang penyayang dan cerewet itu.
Tapi untungnya Anggiva lebih dulu melihat abangnya itu dan berusaha menghindar dengan pura pura pergi ke toilet dan tugasnya dialihkan oleh orang lain untuk sementara.
Kembali pada Rafelio berada yang sedang menunggu pesanannya.
Tak lama kemudian pesanannya pun datang, melihat orang yang mengantar makanannya seketika Rafelio tersenyum memang ini yang ditunggu tunggu.
" silahkan dinikmati.. " ucap wanita dan hendak pergi namun tangannya dicekal oleh Rafelio.
" bisaaa... bicara sebentar.. " tanya Rafelio berharap wanita yang menjadi pujaannya itu mengangguk.
" maaf ini waktu saya bekerja.. mohon maaf saya tidak bisa.. " tolak wanita itu.
" saya... mohon maaf... " Wanita itu langsung pergi meninggalkan Rafelio yang diyakini pasti wanita itu sedang menangis.
" hah... Naumiii.. aku mengerti perasaan mu... maafkan kedua orang tuaku..... tapi aku tidak akan pernah putus asa untuk mendapatkan kembali cintamu... " lirih pemuda itu.
Ditempat Naumi, terlihat wanita itu sedang menangis didapur dan kebetulan Anggiva bersembunyi disana dan melihat nya.
" eh kak Naumi... kenapa nangis kak.. " Menyadari Anggiva yang bertanya dengan cepat Naumi menghapus air matanya dan bersikap seperti tidak ada yang terjadi.
" engga.. engga kok.. ini.. tadi cuma ada serangga yang masuk.... kamu kemana sih tadi kenapa minta digantiin sama kakak.. kalau tau dia kakak gak mau ngelayanin. " Ujar Naumi mengalihkan suasana.
" e-emang kenapa kak.. kakak kenal sama lelaki itu.. "
" udah ah.. gak ada apa apa... kamu sana gih lakukan tugasmu kembali.. " Naumi berucap dan setelah itu pergi.
" ada apa sih... jelas jelas tadi dia nangis dan kak Naumi bahas tentang abang gue... HUAAHHH.. jangan jangan.... awas ya bang udah berani bikin anak orang nangis.. " Anggiva tidak curiga apa pun tentang hubungan mereka dan hanya menyimpulkan menurut pemikirannya saja.
Singkat nya jam pulang Anggiva pun tiba, dengan terburu buru ia langsung tancap menuju rumah.
Pukul 10 malam dan gadis itu tidak yakin akan keadaan pemuda itu dirumah ditambah lagi ini sudah malam dan satu hal lagi, pastinya pemuda itu tidak mengerti harus menyalakan saklar lampu.
Hah makin pusing jika dipikirkan.
Akhirnya sampai juga dirumah dan Anggiva langsung membuka pintu yang terkunci dengan kunci cadangan yang ia bawa.
Ceklek.......
Pintu utama terbuka dan benar saja suasana didalam sangatlah gelap.
Anggiva meraba raba saklar lampu dan menyalakannya.
Klak......
Suasana menjadi terang dan Anggiva seketika terkejut melihat pemuda itu yang meringkuk dibawah meja ruang tamu.
Langsung saja ia dekati.
" hei kenapa kau berada disana.. aku sudah pulang... " mendengar suara yang dirindukan pemuda itu lalu bangun dan langsung menerkam Anggiva memeluk gadis itu.
Greepp....
Pemuda itu memeluknya erat seakan takut jika ditinggalkan lagi, begitupun Anggiva yang membalas pelukan itu.
" baru ditinggal beberapa jam juga.. " kekeh gadis itu.
Setelah puas memeluk, pemuda itu pun melepasnya.
" lihatlah kau tau cara mematikan tv tapi kenapa tidak tau cara menyalakan lampu dan berapa lama kau meringkuk disana.. "
" heung... "
" ya ampunnn.. seperti nya aku harus mengajarimu cara bicara.. yasudah lah ohya apa kamu sudah makan... " Pemuda itu memang mengerti apa yang dibicarakan manusia namun tidak tau cara menjawabnya.
Seperti saat ini pemuda itu menggeleng lalu memegang perutnya dan menunjuk ke mulut nya yang dibuka lebar.
" baiklah... kalau begitu ayo aku siap kan... huh.. serasa ngurus bayi.. "
Mereka pun menuju dapur dan menyalakan saklar lampu dapur terlebih dahulu.
Klak.....
Seketika Anggiva membulatkan matanya melihat pemandangan didepannnya yang seperti kapal pecah.
Apa yang diperbuat pemuda ini sampai dapurnya berantakan seperti ini.
Beberapa gelas pecah, piring berserakan dan lagi banyak sekali air yang tumpah dimana mana.
Anggiva baru pulang dari pekerjaan yang melelehkan dan ingin melepasnya dengan bobo cantik, lalu apakah ini sekarang haruskah ia membereskan ini terlebih dahulu walau memang harus.
" Aaaaaaaa...... apa yang kau lakukan....... haaaaaaaa.... aku mengambil keputusan yang salah dengan membiarkan orang ini ditinggal sendirian... haa.. mama tolong aku. "
" heung... " dengan rasa tak bersalah pemuda itu malah bengong.
Kalau saja tidak ganteng sudah ditendang dari rumah ini.