The Magic Of The Sea

The Magic Of The Sea
bab 41 Lelaki lugu itu telah berubah



Pintu rumah terbuka, Anggiva masuk kedalam lalu menuju sofa untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Ngomong ngomong rumah terasa sepi apa mungkin Arsean belum kembali.


Untuk membuktikan rasa penasaran nya, Anggiva pun memanggil manggil Arsean namun tak ada sahutan sama sekali.


Benar saja lelaki itu belum pulang lantas kemana ia pergi.


Gadis itu pun kembali berdiri berinisiatif untuk mencari lelaki itu, Namun baru saja hendak melangkah tiba tiba terdengar suara beberapa motor dari luar.


Tak ingin menebak terlebih dahulu dirinya langsung menghampiri dan berdiri dipintu utama.


Anggiva tersenyum namun sedetik kemudian berganti dengan raut kesal diwajahnya.


Arsean pulang dengan Reval bersama teman temannya yang lain, terlihat anak itu sudah bisa berbaur dengan lingkungan sekitar. Meskipun Reval orangnya agak baik tapi perilakunya itu yang kotor seperti gemar sekali merokok misalnya ditambah lagi pergaulannya yang bebas.


Berpacaran selama tiga bulan dengan lelaki itu sudah tentu ia tau bagaimana pergaulan mantannya itu.


" Bagaimana seru kann.. " tanya Reval pada Arsean yang sudah turun dari motornya.


" iyaaa... nanti sore kita kesana juga ya.. " lelaki lugu itu mengangguk bahkan tak menyadari kehadiran Anggiva karena terlalu asyik bersama temannya.


" Okee... Kalau gitu kita pamit yaa.. " ucap Reval tak lupa menyunggingkan senyum pada Anggiva yang tengah berdiri diambang pintu.


" daaaa hati hatiii... " balas Arsean.


" jangan lupa apa yang kuajari tadi jika kau akan diinterogasi... Okee.. " bisik Reval diangguki Arsean.


Mereka yang sekarang menjadi bagian dari Arsean pun pulang dengan motornya masing masing. Kini tinggallah Arsean dengan Anggiva yang sedari tadi memandang nya dengan tatapan tak suka.


Yang namanya Arsean ia malah bodoamat dan melangkah begitu santai menghampiri Anggiva.


" darimana.. " datar Anggiva.


" kepo.. " balas Arsean mampu membuat Anggiva melototkan matanya.


Gadis itu yang awalnya bersedekap dada sembari bersandar dipintu kini berdiri dengan tegap.


" aku tanya darimana.. " Anggiva masih mencoba untuk menahan emosi nya.


" kepo... " jawab Arsean dengan jawaban yang sama.


Oh baiklah lelaki ini sendiri yang memintanya jangan salahkan Anggiva.


" Kenapa kau sudah berani menjawab ku seperti itu... Kau keluyuran bersama mereka bahkan tidak bilang sebelumnya padaku hingga membuat ku harus menunggumu disekolah... Jangan sok ya kamu mentang mentang sudah punya teman.. " emosinya Anggiva.


" kan kamu sendiri yang bilang jika disekolah kita itu tidak usah saling kenal jadi wajar kan jika aku pergi dengan temanku tanpa memberitahu mu.. " Sarkas Arsean.


JLEBB...!!


Darimana anak itu dapat keberanian hingga cara bicaranya itu juga tidak ada takut takutnya.


" hah apa...?? Oke fine bahkan dirumah, kita juga tidak perlu saling kenal... Cari makan sendiri sana.. " final Anggiva lalu meninggalkan Arsean disana sendirian.


" huh aku juga tidak peduli.. " balas Arsean juga menuju ke kamarnya.


Apa yang telah terjadi pada Arsean, kenapa dirinya bisa seberani itu. Biasanya hal yang paling dia takuti adalah kemarahan dari seorang Anggiva lalu sekarang sepertinya tidak lagi. Apakah ini ajaran Reval yang menyuruhnya untuk tidak jadi penakut.....??


Siang itu Anggiva benar benar tidak peduli pada Arsean dan menikmati makan siangnya sendirian, tak hanya itu Arsean juga sama tidak peduli bahkan lelaki itu tak keluar kamar sedari tadi.


Apa lelaki lugu itu benar benar telah berubah, ia bukan lagi lelaki lugu yang Anggiva sukai melainkan sudah menjadi lelaki pembantah sekarang.


Rindu sekali saat lelaki itu mengadu dan meminta dengan manja... Ah rasanya hambar sekali makanan yang ia santap ini.


Sore Harinya Anggiva tengah bersantai diruang tamu sembari menonton acara kesukaan nya. Ngomong ngomong Rafelio tumben tidak datang kemari tapi syukurlah karena ketidakhadiran nya adalah kenyamanan.


Saat sedang menikmati acara itu tiba tiba Arsean keluar dari kamarnya dengan pakaian yang begitu rapi.


Lelaki itu langsung melangkah menghiraukan Anggiva yang berada disana.


Awalnya ingin bertanya namun Anggiva urungkan saat melihat Arsean yang tidak peduli padanya sama sekali.


Saling tidak peduli benar benar terjadi, gadis itu hanya mampu menghela nafas. Arsean bagaikan bayi yang baru saja menginjak usia baru dan menyukai apa yang ia temui tanpa pikir panjang lalu kembali saat dirinya akan bosan.


Dan Anggiva akan menunggu Arsean kembali seperti dulu lagi, ini juga kesalahannya yang egois.


Sudahi dulu permasalahan mereka kini beralih ketempat yang jarang kita lalui yaitu Ditempatnya Pak Diwantara.


Masih ingat beliau siapa tentunya beliau adalah ayah dari dua anak yang bernama Rafelio dan Anggiva.


Saat ini beliau sedang berada dirumah lebih tepatnya sedang berada diruang kerja.


" huuhh sedikit lagii.. " monolognya sambil menatap layar komputer didepannya.


" Oh ya mana dokumen itu ya... aku harus mencarinya sekarang.. " lanjut beliau lalu bangkit dari duduknya untuk mencari dokumen yang kadang terselip di rak buku.


Pak Diwantara terlihat begitu fokus mencari dokumen tersebut. Ruang kerja ini sudah lama tercipta bersamaan dengan berdirinya rumah kokoh ini. Rumah besar ini adalah peninggalan orang tua beliau yang diwariskan padanya karena dirinya merupakan anak tunggal.


Dulu Pak Diwantara adalah seorang pemuda yang tampan dan merupakan orang yang suka berpetualang. Tak heran jika beliau mengetahui semua tentang alam.


Beliau tidak sendiri karena Pak Diwantara selalu ditemani oleh seorang sahabatnya yang mempunyai hobi yang sama.


Bahkan pernah saat itu beliau dan sahabatnya menemukan sebuah keajaiban yang tidak pernah orang lain temukan.


Aneh tapi nyata.


Brukhh...!!


Sebuah berkas dengan tempelan debu yang begitu tebal terjatuh dilantai tak sengaja tersenggol saat Pak Diwantara mengambil dokumen yang beliau cari.


Meletakkan dokumen itu terlebih dahulu lalu mengambil berkas yang jatuh tadi.


" uhukk uhuukk... " Beliau terbatuk saat membersihkan debu tersebut.


Mulailah beliau membuka berkas yang didalamnya terdapat banyak sekali foto jaman dulu saat dimana beliau menjadi seorang petualang.


Lembar demi lembar tak ada yang terlewat dan tersenyum saat melihat dirinya yang begitu tampan sambil mencium seekor kelinci hasil tangkapannya.


Dan tiba saat lembaran selanjutnya memperlihatkan dua lelaki yang saling merangkul satu sama lain.


Senyum yang tadi terlihat manis tiba tiba menghilang begitu saja berganti dengan raut wajah kesal saat melihat lelaki yang merupakan sahabatnya itu.


" kau adalah sahabat terbaikku sebelum aku mengetahui sifat busukmu itu.. Garvano.. "


" kesalahan terbesarku adalah mempercayaimu dan merelakan wanita pertama yang kucintai demi dirimu.. Lalu apa balasanmu, kau memang orang paling busuk... Jika tau akhirnya seperti apa aku tidak akan pernah menyerahkan wanita spesial itu padamu.. "


" Vindarisa.... Maafkan aku karena telah menyerahkan mu pada orang yang salah.. " lirih Pak Diwantara.


" kau adalah wanita spesial berbeda dengan wanita lain.. Putri Duyung... mungkin itu istilah mu... hah aku merindukan mu.. " Bahkan tak sadar telah ada jejak airmata dipipi beliau.