The Magic Of The Sea

The Magic Of The Sea
bab 42 Menarik kepelukan kembali



Ccttaaarrr......


Petir menyambar serta kilat yang begitu bercahaya ditambah suara gemuruh hujan deras yang semakin menakutkan.


Anggiva sempat tersentak saat akan menutup gorden yang diterpa angin dan bergidik ngeri saat menyaksikan kilatan petir diluar sana.


Ini sudah jam sembilan malam namun Arsean belum juga kembali, kemana anak itu pergi.


Meskipun ada rasa jengkel dihatinya namun tak bisa dipungkiri bahwa saat ini gadis itu terlihat gelisah memikirkan Arsean.


" uuuhhhh kemana dia pergi kenapa belum juga kembali, gara gara pergaulan nya dengan Reval dia jadi ikut ikutan brandal... " gerutu Anggiva.


" biarkan saja toh dia juga bersama temannya kan nanti dia juga akan pulang..." ucap Anggiva sembari melangkah kan kaki menuju sofa.


Deg.....


Tidak, tidak bisa Anggiva tidak bisa membohongi dirinya sendiri ditambah lagi sedari tadi Reval tidak mengangkat telepon darinya.


Langsung saja gadis itu bergegas menuju kamar untuk mengambil jas hujan beserta payung setelah itu kembali ke ruang tamu.


Sejenak ia berhenti dan menatap ponselnya yang hampir sekarat baterainya.


Percobaan terakhir sebelum akhirnya ponselnya benar benar mati, Anggiva kembali menelpon Reval.


Panggilan tersambung harap harap cemas saat menunggu semoga saja diangkat.


* Panggilan tersambung *


" uuuh siapa ini.. " -Reval.


" ya brengs*** dimana kalian sekarang. " -Anggiva.


" ouuwwhh mantan ku rupanya ada apa hmm apa kau mencari Arsean.." -Reval.


" jangan bertele tele kalian dimana sekarang katakan.. " -Anggiva.


" tenang saja kami sedang berada di tempat perkumpulan biasa dan tidak bisa pulang karena terjebak hujan.." -Reval.


" bagaimana dengan Arsean.. " -Anggiva.


" ouuhh dia sedang mencoba sedikit hal baru hmm... hehehe..." -Reval.


« uhuuukk uhuukkk...»


« hei lihat anak polos ini dia tidak bisa tahan sedikit pun....»


" Sial kau awas saja cepat kirim dimana lokasi kalian berada aku akan menjemput Arsean dan menampar kalian semua.. " -Anggiva.


" wuooww wuooww kenapa kau kasar-


" kirim lokasinya sekarang... " -Anggiva.


" ya ya baiklah tapi jangan salahkan aku karena ini kemauan anak itu sendiri.." -Reval.


Tuuttt... tuutt....!!


Panggilan berakhir.


Triingg.. !!


Pesan terakhir dari Reval dengan mengirimkan lokasi mereka berada.


Setelah nya Anggiva bergegas dan meninggalkan ponselnya disofa karena sudah mati.


Gadis itu nekat menerobos hujan hanya bermodalkan sepeda serta jas hujan yang menempel ditubuhnya tak lupa juga payung yang ia bawa.


Ditengah rasa panik begini ia tidak sampai terpikirkan hal lain selain menjemput Arsean dengan sepeda yang ia miliki.


Apalagi dengan ponselnya yang tidak bisa lagi dipakai karena keburu mati.


Untung saja ia hafal dengan lokasi yang Reval kirimkan.


Setelah menempuh jarak yang lumayan memakan waktu meskipun tak begitu jauh akhirnya gadis itu sampai ditempat yang ia tuju.


Memarkir sepedanya terlebih dahulu sembari mengusap wajahnya yang basah terkena hujan.


" huuugff dingin sekali..." gadis itu gemetaran karena dingin dan tak cukup sampai disitu Anggiva langsung membuka pintu yang kebetulan tidak terkunci membuat semua penghuni didalam sana terkejut.


BBRRAAKK....!!


Kedatangan Anggiva sejenak membuat para lelaki itu terdiam terlebih lagi Arsean.


Dapat dilihat dengan jelas bagaimana reaksi kemarahan yang terpancar diwajah gadis itu saat melihat Arsean sedang mencoba rokok yang diberikan oleh salah satu teman Reval.


Tap tap tap tap...


Langkah kaki yang terdengar mencekam mampu membuat mereka ciut meskipun seperti sedang diancam oleh seorang wanita.


Sreeettt...


PLAKK...


Srakk...


" hei apa yang kau-


PLAKK...


Reval terpaling kesamping dan merasakan perih dipipi kanannya dikarenakan tamparan Anggiva.


" sudah kubilang kan aku akan menampar kalian semua saat datang kesini.." tegas Anggiva.


" dan kau, beraninya berperilaku seperti mereka dengan ikut ikutan.. " Lanjut Anggiva menunjuk Arsean.


" kau sudah tidak waras hah dengan sok soan pergi tanpa pamit padaku lalu melakukan perbuatan seperti ini, duduk santai disini tanpa memikirkan aku yang sedang gelisah menunggu mu... apa yang kau inginkan hah.. apa-


" AKU INGIN BEBAS MEMANGNYA KENAPA, KAU SENDIRI JUGA BILANG TIDAK USAH LAGI MEMIKIRKAN MU.. " Bantah Arsean dengan nada tinggi membuat mereka semua tersentak terlebih lagi Anggiva.


" kenapa sekarang mencari ku setelah mengatakan bahwa aku bisa pergi kemanapun yang ku mau.. " lanjut Arsean.


Sejenak Anggiva terdiam dan yang lain juga tidak mau ikut campur masalah mereka walau sebenarnya penasaran kenapa Anggiva sepeduli ini pada Arsean yang katanya hanya anak teman ayahnya.


" kenapa kau egois hmm... kau bisa bermain dengan siapapun yang kau mau sedangkan aku tidak bisa dan kau juga berusaha menyembunyikan ku dari semua orang disekolah dengan mengatakan bahwa kita tidak usah saling kenal.. aku juga punya perasaan.. " kini Arsean mengeluarkan semua unek unek nya.


" saat ada monyet itu kau juga lebih memerhatikan dia.. " lanjut Arsean.


" hei memangnya dia memelihara monyet juga hmm.. " bisik Sultan pada Reval.


" ssstt diam kau tolol.." balas Reval sembari meringis menahan sakit dipipinya.


" Kau memang wanita yang tidak punya pendirian... hiks.. hiks.. padahal aku ingin sekali mendapat perhatian mu.. aku juga ingin diakui olehmu dimanapun hiks... jangan sembunyikan aku hiks.." sekarang lelaki polos itu menangis.


" uihh dia menginjak harga diri lelaki dengan menangis seperti itu.. memalukan. " bisik Doni pada Reval.


PLAKK..!!


" apa kau juga ingin merasakan tamparan maut gadis itu.. " balas Reval sembari menemplok jidat temannya itu.


Deg... !!


Anggiva bisa merasakan bagaimana sesak hatinya saat mendengar kan pengaduan Arsean yang merasa tidak dipedulikan.


Gadis itu tersentuh saat melihat airmata Arsean yang merasa kecewa padanya.


Memang benar sesuai perkataan Arsean tentang dirinya yang egois dan juga tidak punya pendirian yang tetap.


Melihat lelaki polos itu menangis polos didepannya siapa yang merasa tega untuk membiarkan nya.


" maafkan aku.. hiks..hiks.." lirih Anggiva.


" maafkan aku aku sudah salah maafkan aku hiks.. maaf-


CUPP.... !!


Anggiva tidak bisa melanjutkan kalimatnya saat bibirnya bertabrakan dengan bibir milik Arsean dan pemandangan itupun cukup mengejutkan bagi para lelaki yang berada disekitarnya.


" wuoohh apa ini bikin iri saja.. " gerutu Arvin.


" seingatku selama kami berpacaran dia selalu marah saat aku menyentuh nya." cibir Reval.


" aku tidak yakin jika mereka hanya sebatas teman.... " tambah Sultan.


" hah salah besar perkiraan ku tentang dia yang kupikir sangat polos.. " sambung Doni.


" apa kita harus bertingkah polos dulu biar bisa begitu.. " balas Arvin.


Lumayan lama dengan posisi itu akhirnya mereka saling lepas dan baru sadar jika banyak pandangan mengintimidasi yang ditujukan pada mereka.


Ups gawat bagaimana ini ketahuan didepan geng nya Reval lagi.


" hujan sudah reda tu sebaiknya selesaikan saja urusan rumah tangga kalian dirumah." ucap Reval.


" eee.. soal tadi-


" lupakan, aku tidak akan bilang pada siapapun.. " Reval memotong ucapan Anggiva barusan.


Anggiva tersenyum pada Arsean begitu juga lelaki itu yang membalas dengan senyuman manis nya.


" aku hanya butuh pengakuan mu tentang aku pada siapapun dan dimana pun setidaknya bilang saja jika kita bersaudara.. " ucap Arsean.


" tentu saja kali ini aku tidak akan menyembunyikan mu lagi.. " balas Anggiva.


" kalau begitu kami pamit dulu.. " lanjut Anggiva lalu beranjak dari sana bersama Arsean.


" yakin mereka itu hanya sebatas teman Karena pertemanan orang tua mereka, kalau begitu kenapa berlebihan sekali sampai segitunya.. " cibir Doni.


" kenapa tidak langsung mengatakan didepan gadis itu tadi hmmm.. " balas Reval.


" hehee aku takut akan berakhir seperti mu heheh.. " ucap Doni.


" mereka itu sudah seperti punya hubungan spesial saja, yah lagipula kelihatannya mereka cocok juga sih... hah aku yakin pada akhirnya mereka juga akan bersama. " batin Reval.