
Hari ini diperlihatkan dirumah orang tua seorang gadis bernama Anggiva sedang sarapan bersama dengan anak sulung mereka.
Ekhem perkenalkan dulu nama ayah dari Anggiva adalah Diwantara, ibunya bernama Andriani dan kakak sulungnya yang muncul di episode entah keberapa bernama Rafelio.
Dan sedikit pengulangan, sang ayah berprofesi sebagai pimpinan perusahaan dikantor nya. Ibunya juga seorang pekerja keras dibutik miliknya sendiri.
Dan sudah pasti Rafelio si pemuda tampan dan cerdas telah menjadi seorang Dosen di kampus.
Dimeja makan hanya suara dentingan sendok makan yang terdengar, tidak ada yang membuka suara sama sekali karena terlarut dalam pikiran masing masing yang sebenarnya tengah memikirkan orang yang sama yaitu salah satu keluarga yang memilih pergi hidup mandiri.
Sebenarnya Andriani sebagai seorang ibu sangatlah mencemaskan anaknya apalagi anak perempuan namun dikarenakan kesibukan ia tidak punya waktu untuk terlarut dalam kerinduan begitu pun dengan Pak Diwantara yang terus mencari keberadaan Anggiva yang namun tidak pernah ketemu. Lain dengan Rafelio yang santai saja karena ia sudah tau dimana dan bagaimana keadaan adiknya itu toh dia sendiri yang membiayai dan mengawasi nya.
Tiiingg....
Sang ibu meletakkan sendok dipiring kacanya lalu meneguk segelas susu dihadapan nya.
" harusnya kita disini berempat...hahh.... dimanakah anak itu berada. " lirih ibu Andriani tiba tiba bahkan belum meletakkan gelas yang dipegang nya.
Mendengar itu Pak Diwantara juga merasa gundah dan menyudahi sarapan nya.
Beliau melirik istri dan anaknya lalu berkata
" ini semua salah papa.... huhfff... maafkan papa... dan papa berjanji akan membawa pulang Anggiva secepatnya. "
" secepatnya ya pa... mama kangen sekali pada Anggiva... " sahut bu Andriani.
" iya maa... " balas sang suami.
" hufff kalau begini kasihan juga papa dan mama... sepertinya mereka mulai kapok terus menerus mendesak adikku.. apa nanti aku kerumah nya saja ya.. membujuk nya untuk pulang... hah.... coba dulu saja deh.. " batin Rafelio.
Beralih di kediaman Anggiva.
Setelah sarapan dirinya dan Arsean memilih duduk dibelakang rumahnya menikmati semilir angin pantai yang menyejukkan.
Arsean yang melihat tempat asalnya ingin sekali menyebur berenang dilautan itu. Entah kenapa dirinya seakan dihipnotis untuk menyelam.
" huuaahh.... beruntung sekali Rafelio memberiku tempat tinggal sebagus ini dekat pantai begini lagi. " ucap Anggiva merenggang kan kedua tangannya.
" eee.... bolehkah aku mendekati air itu. " tanya Arsean sekaligus meminta pada Anggiva.
" maksudmu.. ingin bermain lebih dekat lagi kesana... " Anggiva balik bertanya dan Arsean mengangguk antusias.
" hahah.. baiklah.. tapi ditepi saja ya..
jangan terlalu jauh.. aku akan mengawasi mu dari sini... " Mendengar itu Arsean meloncat kegirangan lalu bergegas mendekati air laut yang maju mundur dibawa arus.
Pemuda itu berlari lari kecil bagaikan anak kecil ketika melihat air laut yang maju mendekati nya lalu balik mengejar ketika lautnya mulai surut. Anggiva yang menyaksikan dari atas sana tertawa melihat tingkah pemuda itu.
" awas jangan kejauhan mainnya nanti bisa tenggelam.. " teriak Anggiva mengalahkan arus air laut yang terdengar kencang.
" iyaaa.... " balas Arsean melambaikan tangannya lalu lanjut bermain membuat istana pasir sepertinya.
" hah... dasar darimana asalnya sih dia.. " gumam Anggiva tersenyum.
Saat asyik menikmati Arsean bermain tiba tiba terdengar suara bunyi bel dari pintu depan mengharuskan Anggiva meninggalkan pemuda itu dan bergegas membuka pintu namun sebelum itu ia sempat kembali mengingat kan Arsean seperti tadi dan menyuruhnya menunggu disitu sampai Anggiva kembali.
Ceklek...
Pintu terbuka menampilkan wajah Rafelio yang kelewat ceria dihadapan Anggiva membuat gadis itu terkejut sekaligus gelisah karena tiba tiba abangnya datang tanpa memberi tahu dulu.
" apa kabar adiikkuuu.... " seru Rafelio langsung masuk tanpa dipersilahkan dan mendudukinya pantatnya disofa.
" ck... untuk apa sih kesini.. " kesal Anggiva ikut duduk disofa.
" oh jadi gak senang abangmu datang ha. " balas Rafelio sambil mencomot cemilan yang memang sudah terletak dimeja.
" bukan begitu... beri kabar dulu kek kalo mau datang... " kata Anggiva.
" punya handphone kan kenapa gak baca pesan ku... " sahut Rafelio santai.
" oiya lupa... aku gak sempat megang handphone tadi... " Anggiva menepuk jidatnya.
" lah itu... emangnya sesibuk apa kamu sampe lupa megang handphone biasanya benda itu adalah benda yang tak boleh kelupaan di hidupmu.. " jelas Rafelio membuat Anggiva mencibik kesal.
" ih lebay gak gitu juga kali.. "
" intinya ada apa abang datang kesini.. jangan bilang cuma lagi pengen aja.. " lanjut Anggiva bahkan memotong ucapan yang belum diucapkan abangnya walau pun pemuda itu sudah mangap.
" ya ituu..... "
" itu apa... "
" hah gak dengar... " Anggiva hendak bangkit namun tangannya dicekal lebih dulu membuat ia harus duduk kembali.
" plis dengar dulu....mama dan papa tiap hari mengkhawatirkan kamu bahkan tadi pagi keduanya juga tidak selera makan karena kamu tidak ada... tolong Anggiva untuk kali ini saja abang mohon.... pulang ya... " mohon Rafelio memegang kedua tangan adiknya.
Anggiva memalingkan wajahnya dan mencoba menahan airmata yang akan keluar karena jujur ia juga merindukan orang tuanya namun hatinya masih menolak.
" abang mohon ya... kasian mama sama papa... " lanjut Rafelio mencoba meluluhkan hati sang adik.
" maaf tapi kali ini aku gak bisa.. "
" tap-
" jangan paksa aku bang.. " potong Anggiva melepaskan tangannya sendiri.
Rafelio memilih diam sejenak membiarkan Anggiva menenangkan hatinya.
" percuma aku pulang toh nantinya mama sama papa juga bakal ngulangin lagi beberapa kemudian nantinya. "
" rindu nya itu hanya sementara.... mereka lebih menyayangi pekerjaannya.. " lanjut Anggiva.
" itukan-
" iya aku tau mereka kerja juga buat aku buat ngebahagiain aku.. " potong memang sudah hafal jawaban abangnya.
" tapi gak perlu sampe segitunya kali, kita udah kaya walau mama gak kerja aku hanya perlu satu anggota keluarga saja kalau aku pulang sekolah jangan hanya para bibik yang menyambutku pulang... aku juga ingin dijemput salah satu anggota keluarga bukan hanya supir terus.. " jelas Anggiva.
" perempuan banyak maunya ya dikasih kekayaan berlimpah salah, miskin salah padahal orang orang lain pada iri tau kalo dijemput pakek supir pribadi... " balas Rafelio membuat Anggiva semakin kesal.
" iihhhhh nyebelin... aku pulang sekolah mau meluk keluarga ku tau apalagi saat dijemput disitulah aku ingin melepaskan kelelahan ku bermanja pada mama kalo seandainya mama yang jemput...masa aku harus meluk supir dan minta ciuman darinya... " kesal Anggiva meninggikan suara namun Bukan takut Rafelio malah tertawa dibuatnya karena ocehan adiknya yang menurutnya lucu.
" ahahahahaha.... hahahahah.... benarkan... perempuan emang banyak maunya... ahahaha... dasaaaarrr.... ahaha.. tolong perutku sakit hahahaha.... " Rafelio tertawa lepas sampai membuat perutnya keram.
" kesaaaaaaalllll pulang aja sana.. " gerutu Anggiva.
" ahahaha baiklah baiklah tidak usah marah begitu... hahaha... kalo boleh abang mau kok yang jemput kamu besok besoknya.. "
" gak usah terimakasih... "
Tiba tiba Anggiva menepuk jidatnya dan mengingat sesuatu.
" ya ampun aku lupa... semoga dia mainnya aman aman aja ya... huff.... " gumam Anggiva.
" dia siapa... " tanya Rafelio sempat mendengar nya.
" bukan apa apa.... eee.. ohya mendingan abang pulang aja deh aku juga mau pergi nih... ya ya... "
" ya kalo kamu mau pergi ya pergi aja biar aku disini sekalian mau lanjut tidur.. "
" ihhhh gak bisa... udah ya pulang aja tidur nya dirumah aja... " Desak Anggiva menarik tangan abangnya lalu mendorong pelan tubuh itu menuju pintu.
" kamu kenapa sih aneh... " heran Rafelio.
" ssssttt.... daaaa... kalo mau tidur lain kali aja oke... da ummmaachhh.... " setelah melempar flying kiss Anggiva pun menutup pintu meninggalkan Rafelio yang berada di luar.
" tu anak kenapa sih aneh.. dasar padahal rumah ini gue yang beliin... huh.. " Pemuda itu lalu bergegas pergi menaiki mobilnya percuma saja berdiri disini.
Didalam Anggiva berlari ke pintu belakang dan memanggil Arsean namun tidak ada sahutan yang memang ternyata pemuda itu sudah tidak ada ditempat semula.
Tentu Anggiva panik dan menghampiri tempat Arsean bermain tadi.
Pikiran nya semakin kalut ketika tidak menemukan keberadaan Arsean.
" Arsean.... kamu dimana.... hiks... jawab aku... hiks... maafkan aku karena meninggalkan mu sendiri.... hiks... tolong jawab aku kamu dimana.... hiks... " Anggiva menjatuhkan kedua lutut nya dipasir yang basah tak peduli dirinya dibasahi air laut yang maju.
" hiks... kamu dimana... hiks.. sudah kubilang kan tunggu aku disini sampai aku kembali hiks... jangan main terlalu jauh apalagi coba coba berenang.... aku takut... hiks... aku takut kamu tenggelam.... hiks... " tangis gadis itu.
Saat itulah sebuah sandal terbawa arus muncul didekat Anggiva.
Gadis itu mengambil nya dan semakin takut ketika diyakini kalau sandal itu adalah milik Arsean.
" tidak mungkin hiks... tidaaakkkk.... hiks... tolong kembali lah.... hiks... aku takut... aku tidak sanggup jika harus kehilangan mu diwaktu yang singkat ini hiks... tolong kembali Arsean.... hiks.... " Anggiva semakin menangis deras dan mencoba menepis perasaan buruknya walau kemungkinan besar itulah yang terjadi.
Benarkah Arsean tenggelam dilaut itu.
Hah kedatangannya tidak diundang dan kepergiannya pun tanpa pamit itulah seonggok nama yang pernah tercoreh dihati.
Arsean meski kedatangan nya penuh tanda tanya tapi kepergian nya penuh tanda tanya juga.