The Magic Of The Sea

The Magic Of The Sea
bagian 19 Dibuat kesal



Disekolah Anggiva.


Gadis dengan kepang satu itu menduduki dirinya dibangku dan memilih untuk membaca novel yang sengaja ia bawa.


Bel belum juga berlangsung membuat suasana kelas yang ramai semakin riuh dengan canda tawa para murid.


Anggiva sebagai anak yang tak mudah bergaul sangat membenci suasana seperti ini karena ia sendiri yang terlihat tenang disini.


Sebenarnya ia bukan dikucilkan namun dia sendiri yang memilih untuk tidak bergabung dengan pembicaraan gosip mereka membuat teman sekelasnya merasa malas pada dirinya.


" baca novel mulu... " sebuah suara mengejutkan dirinya dan menatap kearah sumber suara tersebut.


" eh....Abian.. " sapa Anggiva tersenyum.


" suka sekali sih menyendiri kayak gini... kenapa gak gabung sama yang lain. " tanya Abian sembari menarik kursi yang bukan miliknya mendekat dengan kursi Anggiva.


" lagi males aja... " jawab Anggiva tidak sepenuhnya berbohong.


Para siswi yang melihat keakraban mereka semakin membenci Anggiva karena dengan gampangnya Anggiva dapat berinteraksi dengan orang yang menurut mereka bisa dijadikan idaman.


Anggiva tak bodoh untuk tidak menyadari tatapan tak suka yang diberikan oleh para siswi disekitarnya namun ia tak memusingkan hal tersebut.


" eee... pulang dari sini ada waktu gak.. " tanya Abian.


" eumm.. kalau dibilang sibuk gak juga. " jawab Anggiva.


" gimana kalau nanti kita jalan jalan.. " ajak Abian memantapkan hatinya.


Sebenarnya Anggiva sangat senang diajak oleh orang yang disukainya namun entah kenapa hatinya tak tega untuk meninggalkan Arsean lagi, dan sekarang pun ia mendadak rindu pada lelaki itu.


" eee... sebenarnya aku mau banget... tapi aku gak bisa... " tolak Anggiva selembut mungkin.


" kenapa... " tanya Abian merasa sedikit kecewa.


" eee.... ituu... karena... karena aku harus ngejagain kelinci aku dia lagi sakit dirumah... jadi kasian kalau ditinggalin. " Alasan konyol yang terpikir kan oleh Anggiva.


" ouuhhh... " Abian yang mendengarnya sedikit tidak percaya namun ia tak mau mendesaknya takutnya Anggiva malah tak nyaman dengan sifatnya yang memaksa.


Beruntung bel jam pertama telah berbunyi dan semuanya duduk ditempat masing masing termasuk Abian kecuali Anggiva yang sedari tadi duduk dibangku nya sendiri.


Beralih ditempat nya Arsean dirumah.


Setelah menonton siaran tadi entah apa itu kini ia sedang berada dikamar Anggiva tepatnya sedang duduk dimeja rias gadis itu.


" heumm... aku harus mulai darimana ya. " gumam Arsean sembari mengambil sebuah lipstik mahal milik Anggiva.


" kata orang didalam kotak tadi merias wajah itu perlu untuk kecantikan dan aku ingin melakukan nya untuk membuat Anggiva takjub padaku karena aku pintar.. " monolog Arsean tersenyum didepan cermin.


Ia mulai menorehkan lipstik itu diarea bibirnya namun bukan seperti pada umumnya setiap orang memakai lipstik, justru ia menekan dengan cukup kuat sembari menorehkan dibibirnya alhasil lipstik bermerek mahal itu patah.


" Aiss... kenapa bisa patah... mungkin memang karena sudah tak layak.. " bertolak belakang dengan Arsean katakan justru lipstik itu baru dibeli tiga hari yang lalu.


" sekarang aku harus memakai yang lain. " gumam Arsean dengan bibir yang memerah sempurna bahkan bibirnya yang tipis terlihat tebal karena lipstik.


Tangannya mengambil sebuah krim yang juga berharga mahal jika dilihat dari labelnya.


" krim mata... " ucap Arsean melihat tulisan dilabel krim tersebut.


" ah ini pasti untuk wajah.. seperti yang kulihat dikotak tadi.. " lanjutnya lalu menumpahkan seluruh krim itu diwajahnya sampai menutupi kulit putih nya itu.


Arsean sibuk berdandan dengan menggunakan make up milik Anggiva dan dandanannya itu sungguh tak wajar, entah apa yang terjadi saat Anggiva pulang nanti dan menyaksikan hal ini.


Lelaki itu melakukan hal tersebut bukan tanpa alasan, tak sengaja ia melihat adegan yang menampilkan orang berdandan dan Arsean pun terpengaruh untuk melakukan hal itu.


Singkat saja waktu Anggiva pulang pun tiba.


Gadis itu langsung tergesa-gesa tidak sabar untuk pulang dan menemui orang yang dirindukan nya sejak jam pelajaran tadi.


Abian yang melihat itu pun mengurungkan diri untuk bertanya saat Anggiva terlihat buru buru bahkan mengabaikan dirinya.


Anggiva pulang dengan bus karena dirinya tidak minta mobil pribadi ataupun motor saat memilih keluar dari rumah bahkan menolak Abangnya yang siap antar jemput dirinya kesekolah.


Anggiva turun setelah bus itu berhenti dan berlari menuju rumahnya karena bus itu tidak berhenti tepat didepan rumahnya.


Dalam hati ia terus membayangkan bagaimana wajah bahagia Arsean ketika dirinya pulang dan lelaki itu akan menyambut nya dengan antusias.


Mengatur nafasnya yang terengah engah dan mulai mengetuk pintu sembari memanggil manggil Arsean.


" Arsean buka pintu nya ini aku... aku pulang.... " seru Anggiva sembari mengetok pintu.


Tak dapat sahutan Anggiva memilih untuk memanggil beberapa kali lagi hingga akhirnya terdengar jawaban dari dalam dan Anggiva pun tersenyum.


Ceklek....


" ya tung-


Arsean tak dapat melanjutkan kalimatnya sekaligus terkejut ketika tiba tiba tubuhnya dipeluk oleh Anggiva.


" hari ini aku menepati janji ku kan... aku langsung pulang dan sangat merindukan mu.... " ucap Anggiva memejamkan matanya menduselkan kepalanya didada Arsean.


Tak ingin membiarkan kesempatan ini Arsean pun membalas pelukan itu dengan mengelus ngelus kepala Anggiva.


" aku sangat senang kau kembali... dan hari ini aku sudah menyiapkan sesuatu untuk mu.... " balas Arsean.


" apa itu. " tanya Anggiva masih setia dengan posisinya.


" lepaskan dulu pelukan mu dan tatap aku. " jawab Arsean sembari memerintah.


" ada apa sih... " Anggiva penasaran namun belum juga mengubah posisinya.


" ayo lepaskan dan buka matamu.. " suruh Arsean.


" baiklah lalu apa yang- AAARRRRHHGGGG.... APA YANG KAU LAKUKAN.. " teriak Anggiva tepat setelah melepas pelukan nya dan membuka mata lalu menatap wajah Arsean yang penuh dengan dandanan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata kata.


" ini hadiah untuk mu... aku ingin membuat mu takjub dengan melakukan hal ini... Oh ya dan aku lihat ini dari orang yang berbicara didalam kotak itu... " jelas Arsean nampak merasa santai walau raut wajah Anggiva sudah berubah mengerikan.


" kau apakan alat make up ku... oh tidak... aku tidak yakin barang barang berharga ku baik baik saja sekarang.. " Anggiva mengerang frustasi memegang kepalanya dengan kedua tangan nya.


" maksudnya... " tanpa menjawab Arsean, Anggiva langsung masuk dan menggeledah kamarnya. Arsean yang penasaran pun mengekori dari belakang.


Gadis itu benar benar dibuat gila setelah menemukan lipstik nya yang mahal patah dan krim matanya habis tak tersisa lalu alat alat yang lain pun bisa dikatakan sekarat.


" ARSEAAAAAANNNN..... " teriak Anggiva.


" ada apa kenapa berteriak... harusnya kau bangga pada ku... " Arsean masih tampak santai menjawab nya seakan tidak menyadari kemarahan Anggiva yang sebentar lagi akan meledak.


" bangga...????.... apa yang kau katakan barusan...???... bangga katamu...???... BARANG BARANG BERHARGA KU JADI RUSAK KARENA KELAKUAN KONYOLMU IDIOT... AAARRRRHHGGGG... siapapun tolong pungut dia aku ikhlas... " Erang gadis itu.


" apa yang salah aku hanya-


" DIAMM... kenapa masih bisa ngeles kamu.. ini bukan hanya tapi sudah kelewatan... dan aku benar-benar... Arrrggghhh... aku benar-benar gila dengan kelakuan mu.. " Anggiva mengurut ngurut keningnya yang tampak pusing.


" percayalah bukan masalah harga tapi masalah kelakuanmu yang tak berguna itu.. huuhh... " lanjut Anggiva bahkan hampir menangis dibuatnya.


Kini Arsean menyadari bahwa kelakuan nya bukan membuat Anggiva senang tapi justru kecewa. " apa aku salah... " cicit nya pelan.


Anggiva yang mendengarnya seakan ingin bunuh diri saking frustasi dengan pertanyaan yang dilontarkan Arsean barusan.


Apa lelaki itu tidak menyadari seberapa salah kelakuannya kenapa masih bisa bertanya seperti itu.


" hah... ck... bodoh.. " ucap gadis itu lalu keluar darisana tak peduli dengan Arsean.


Tak ingin diabaikan seperti ini Arsean pun mengikuti Anggiva dan berusaha untuk meminta maaf.


" maafkan aku... tolong jangan tinggalkan aku... tolong maafkan aku... aku tidak akan mengulangi hal ini lagi... " ucap Arsean memohon mengekori Anggiva sampai ruang tamu.


Anggiva berhenti dan berbalik menatap Arsean yang kini mengembangkan senyumnya merasa dimaafkan.


" apa maaf mu bisa mengembalikan itu seperti semula...???... tidak kan... aku tidak perhitungan hanya dengan alat alat yang bisa sampai kapan pun aku beli... tapi kelakuan mu.. itu... kelakuan tidak berguna mu itu... bisa saja kau melakukan hal yang lebih gila lagi suatu saat nanti jika aku tidak bersikap begini... dan membiarkan mu... hah... aku kecewa pada mu... apa susahnya sih duduk diam menunggu ku tanpa melakukan apapun... " jelas Anggiva melunturkan senyum manis lelaki itu.


" apa yang harus aku lakukan sekarang agar kau memaafkan ku.. " cicit Arsean.


" tidak menggangguku dan jangan banyak tingkah... " jawab Anggiva hendak pergi menuju kamar nya namun dirinya terhenti sejenak mengingat satu kalimat lagi yang harus disampaikan atau hanya sekedar membuat Arsean semakin merasa bersalah.


" satu hal lagi... dengan mengembalikan alat alat ku mungkin... kau bisa mendapatkan maaf ku.. " percayalah Anggiva tidak serius dengan ucapan nya itu, ia hanya ingin membuat Arsean merasa bersalah dan sadar juga tidak akan berani mengulangi hal ini lagi.


Setelah itu Anggiva melewati Arsean begitu saja dan masuk kekamar tak lupa menutup pintu lumayan keras.


Tinggallah Arsean yang merasa bersalah dengan dandanan aneh yang masih tertempel diwajahnya itu.


" apa pun itu akan aku lakukan demi mendapatkan maaf mu... tunggu saja aku pasti bisa mengganti alat mu itu.. " monolog Arsean bertekad kuat.