The Magic Of The Sea

The Magic Of The Sea
bagian 18 Jangan lupakan aku lagi



Pagi kembali menyinari bumi menggantikan sang rembulan yang telah bertugas dimalam hari.


Anggiva gadis itu terbangun karena dering alarm yang menusuk telinga. Kalau saja ia tidak mengingat untuk sekolah maka bisa dipastikan kalau gadis itu akan melanjutkan tidurnya.


Anggiva terbangun merenggang kan otot otot nya serta menguap lebar sebelum menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tidak perlu waktu lama untuk menghabiskan waktu dikamar mandi karena ia adalah tipe yang mandi seadanya tapi walaupun begitu belum pernah ada yang pingsan ketika ada yang didekat nya.


Memakai seragam sekolah serta merias wajahnya senatural mungkin tak lupa menata rambutnya dengan rapi.


Hari ini ia memilih untuk mengepang satu rambutnya.


Setelah nya ia keluar dari kamar menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.


Sarapan pagi ini adalah roti ditemani selai stroberi, jadi tidak butuh waktu lama untuk menyiapkan nya.


Anggiva menuju ke kamar Arsean setelah menata sarapan itu dengan sempurna.


Dibuka nya pintu kamar laki laki itu yang memang tidak dikunci.


Terlihat jelas bungkusan selimut yang besar membalut laki laki itu. Anggiva tersenyum lalu mendekati ranjang Arsean untuk membangunkan nya.


Sekali lagi Anggiva tersenyum melihat mulut Arsean yang sedikit terbuka menampakkan dua gigi depannya.


" heii.. bangunn... ini sudah pagi.. " lembut Anggiva sembari menoel noel pipi Arsean.


Masih tak bergeming dalam tidurnya kini Anggiva mencoba untuk memblokir pernapasan nya dengan mencubit hidung Arsean.


Jelas sekali laki laki itu terbangun dengan rasa terkejut dan terengah engah. Kasian sih namun tidak ada pilihan lain.


" ahahah... maafkan akuu.. lagian kamu sih... maafkan aku... hahah... " Anggiva hanya mampu tertawa melihat nya walau sebenarnya kasian.


" heung.... kau jahat sekali... " ucap Arsean dengan suara khas orang bangun tidur.


" lupakan... sekarang kau bangun dan mandi setelah itu sarapan.. " seru Anggiva menyudahi.


" baiklah... " Patuh Arsean lalu menuju ke kamar mandi.


Sepeninggallan Arsean, Anggiva pun memilih keluar dan menunggu di meja makan.


Singkatnya.


kini dua insan itu sudah berada dimeja makan menikmati sarapan dengan khidmat.


" heung... apa kamu akan pergi lagi.. " tanya Arsean meski tau jawabannya.


" tentu saja... aku harus pergi sekolah setiap hari kecuali hari minggu.. " jawab Anggiva disela sela makannya.


Mendengar itu Arsean menunduk lesu dan memilih menghentikan makannya. Menyadari itu Anggiva pun tak enak hati.


" heii.. aku hanya pergi sebentar.. setelah itu aku juga pasti kembali lagi kesini bersama mu... " ucap Anggiva mencoba membuat Arsean untuk tidak bersedih.


Arsean mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk.


" tapi aku takut seperti kejadian kemarin... kamu melupakan ku... " lirih nya.


Mendengar itu rasa bersalah Anggiva kembali muncul.


" akuuu-


Sreett...


Greepp....


Anggiva terkejut mendapat perlakuan Arsean yang tiba tiba bangun dari kursinya dan memeluknya dari samping menopang kepalanya dibahu gadis itu.


" kemana pun kamu pergi tolong... jangan lupakan aku... aku membutuhkan mu.. tolong selalu ingatlah aku... " tutur Arsean mampu meluruhkan hati si gadis itu.


Anggiva tersenyum dan tangannya terangkat untuk mengusak surai milik Arsean.


" sampai kapan pun aku akan selalu mengingat mu.. begitupun kamu.. yang juga harus selalu mengingat ku... " tambah Anggiva.


Sejenak mereka pun larut saling menyampaikan suara hati. Namun mengingat Anggiva harus berangkat sekarang, jadilah ia harus melepaskan pelukan itu.


" maafkan aku... tapi aku harus berangkat sekarang.. " lagi lagi Anggiva merasa bersalah harus mengatakan itu.


" heung... berangkat lah.. dan jangan lupa pulang... ada aku yang selalu menunggumu... disini... " ucap Arsean.


Greepp...


Kali ini Anggiva yang memeluk Arsean menduselkan kepalanya didada laki laki itu.


" secepatnya aku akan pulang.. " setelah mengatakan itu Anggiva pun melepaskan pelukannya.


" aku pergi dulu... tetaplah dirumah.. jangan keluar kalau tidak ada perlu... " lanjut Anggiva.


" daaa... sampai jumpa nanti.. " Anggiva melambaikan tangannya lalu melesat pergi.


" aku akan selalu mengingat mu.. Anggiva.. heung.. " monolog lelaki itu setelah itu menutup pintu dan beranjak ke sofa untuk menonton TV.


Ngomong ngomong dia sudah mengerti untuk menyalakan nya karena Anggiva sempat mengajarinya.


Beralih sejenak dari mereka.


Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan cafe menampilkan sosok pemuda dengan tampilan keren serta wajahnya yang memukau turun darisana dengan banyak gaya.


Pengunjung lainnya juga terkagum kagum melihat sosok idaman seperti nya.


Tanpa melihat kanan kiri pemuda itu melangkah pergi mengabaikan tatapan kagum dari setiap wanita yang melihatnya.


Dirinya duduk disatu kursi yang kosong yang dapat diisi dua orang di tempat itu.


Melepaskan kacamata hitam yang sedari tadi bertengger dihidung mancungnya dan tersenyum tulus pada sosok pelayan yang sedang melayani orang lain.


" sesekali bersikap songong gak papa kan.. tapi gue emang ganteng sih.. buktinya saat gue lewat tadi bak seorang idol... haha.. " songong pemuda itu yang tak lain adalah Rafelio kita bersama.


Pelayan yang melayani orang lain tadi kini menghampiri nya.


" mau pesan apa mas... " ucap pelayan wanita itu dengan formal.


" pesan calon istri seperti kamu.. bisa gak ya... " goda Rafelio membuat pelayan wanita itu tersenyum yang tak lain adalah Naumi.


" aku pesan kamu.. jadi tolong duduk disini temani aku.. " lanjut Rafelio.


" maaf kalau yang itu tidak ada dimenu. " balas Naumi menimpali candaan pacarnya itu.


" aku tidak bilang yang ada dimenu.. " balas Rafelio lagi.


" serius ak-


Sreett...


Rafelio menarik Naumi untuk duduk di depannya, Naumi pun terpaksa harus terduduk karena tarikan pacarnya itu.


" kamu... aku tidak bisa sekarang... nanti kalau bos ku lihat aku bisa dimarahi.. " ucap Naumi melihat kanan kiri takut takut bos nya liat.


" aku akan bicara dengan bos mu nanti. " timpal Rafelio santai.


" kau ini... " gerutu Naumi.


" Oh ya kenapa kau pagi pagi kemari.. apa kau tidak ada jam mengajar.. " lanjut Naumi bertanya.


" tidak ada... nanti aku masuk siang.. " jawab Rafelio terus memandangi Naumi.


" berhenti menatap ku seperti itu.. " kesal Naumi walau sebenarnya salting ditatap seperti itu.


" kenapa pacar ku bisa secantik ini sih.. " ucap Rafelio semakin membuat Naumi ingin terbang.


" hah... lagi lagi.. kau ini.. " sudah biasa menanggapi pacar nya ini sedari dulu.


" Ekheummm... "


Suara gerheman yang disengaja mengagetkan mereka berdua dan Naumi ditambah kaget ketika melihat siapa orang itu.


" pak bos... " dengan cepat Naumi berdiri dan menunduk.


" aku membayarmu untuk bekerja bukan untuk duduk santai seperti itu.. " sindir lelaki berkepala empat itu.


" maafkan saya. " cicit Naumi.


Rafelio yang melihat itu memutar bola mata malas dan kesal melihat pria dengan perut buncit itu.


" berapa harga cafe mu ini.. " sombong Rafelio sambil mengeluarkan kartu hitamnya.


Pria yang menjabat sebagai pak bos itu terkejut dan membelalakkan matanya.


" aku bisa saja membali cafe ini... jadi tolong biarkan salah satu pelayan mu ini untuk menemaniku.. lagipula dia itu pacarku. " jelas Rafelio tanpa ragu. Naumi yang mendengar itu merasa terharu.


" b-baiklah kalau begitu maafkan aku telah menganggu... Naumi temani saja orang ini.. aku permisi. " ucap pria itu dan melenggang pergi.


" sombong sekali kau ini... tidak baik seperti itu.... aku jadi tidak enak... " cibir Naumi.


" heheh... lagian aku kesal ada orang yang mengganggu waktu ku dengan pacar ku.. " ngeles Rafelio.


" yaya... apapun itu... " Naumi merasa jengah dengan kelakuan pacarnya.


" ayo duduk lagi.... " pinta Rafelio menampilkan cengirannya.


Naumi pun kembali duduk berhadapan dengan orang yang dicintai nya walaupun sering kali dibuat kesal olehnya namun tak jarang orang yang dicintainya itu membuatnya merasa terharu.