
Sosok pemuda kini tengah menyeruput secangkir kopi sesekali melirik jam ditangan kirinya.
Sedari tadi pandangan nya tidak pernah luput dari pintu masuk restauran tersebut karena memang sebenarnya ia sedang menunggu kedatangan seseorang.
" huuff.. " Menghela nafas yang entah keberapa kali dan duduk tak nyaman meskipun sama sekali tidak ada yang salah dengan kursi restauran tersebut.
Wajah yang semula cemas kini menyunggingkan senyum seketika saat menatap kehadiran sang pujaan hati.
Dan dapat terlihat jelas dari kejauhan wanita tersebut juga menyunggingkan senyumnya lalu berjalan menuju tempat pemuda itu ya sebut saja Rafelio dan perempuan itu adalah Naumi.
Sesuai rencana yang diatur tadi siang, malam ini akhirnya merekapun bisa bertemu setelah menyelesaikan kesibukan nya masing masing.
Terpukau adalah kata yang sesuai dari Rafelio untuk Naumi saat melihat betapa cantik dan anggun nya wanita tersebut saat mengenakan dress abu abu selututnya, apalagi dengan rambut terurai panjang tak lupa diselipkan kebelakang sebagian.
" maaf membuatmu menunggu lama tadi aku harus meminta izin terlebih dahulu pada boss ku.. " ucap Naumi penuh sesal setelah menyamankan posisi duduknya.
" bagaimana bisa aku marah saat melihat wajah anggun mu itu.. Bukan masalah besar sayang jadi tenang saja.. Lagipula menunggumu bukannya membuat ku menggerutu tapi malah semakin rindu." balas Rafelio tak lupa dibumbuhi rasa penuh cinta.
" baru juga udah mulai kamu.. " Wanita itu tampak malu malu dibuatnya.
" ohya tadi makanannya udah aku pesenin sesuai dengan kesukaan kamu.. " ucap Rafelio lagi lagi membuat Naumi bahagia karena memiliki pacar yang super peka ini.
" aahh kamu emang masih ingat makanan kesukaan akuu.. " goda Naumi.
" pasti dong aku ingat.. " balas Rafelio.
" euumm emangnya apa.."
" ciuman dari akuu hahaha.. " Wanita itu membulatkan matanya sebelum akhirnya tak dapat menyembunyikan gurat malu diwajahnya.
Biarkan saja waktu mereka untuk saling ngegombal nah sekarang beralih ditempatnya Anggiva.
Gadis itu sedang sibuk berkutat dengan alat dapur dengan kata lain tengah menyiapkan berupa makanan yang belum diketahui dilihat dari wujudnya.
Apa gerangan yang telah terjadi sehingga Anggiva yang sangat jarang sekali didapur kini memilih untuk melakukan hal yang tidak pasti.
Ya gadis itu baru saja kerasukan Drakor.
Lalu apa hubungannya dengan memasak pada waktu malam begini apalagi setelah makan malam.
Memang belum terlalu malam terbukti dengan jarum jam yang masih menunjukkan angka 8 dengan jarum panjang berada diangka 5.
Hati Anggiva merasa terketuk saat melihat adegan Drakor yang begitu menyentuh hati, dimana saat si gadis menghidangkan makanan yang tidak enak dikarenakan dia tak bisa memasak lalu dengan senang hati si lelaki menyembunyikan kegagalan yang dilakukan si gadis dan memakan dengan lahap meskipun dirinya harus tersiksa bahkan memuji masakan pasangan nya tersebut.
Uuugh.. !!
Sungguh terharu bukan, dan sekarang Anggiva ingin mencobanya tentu saja dengan Arsean yang menjadi bahan percobaan.
Ngomong ngomong soal dia saat ini lelaki itu tengah menonton kartun diruang TV.
Damai sekali rasanya daripada dia mengacau lebih baik begitu kan.
Baiklah makanan yang dirancang sepenuh hati telah selesai dan siap dihidangkan untuk orang yang tepat.
Semoga saja ekspektasi gadis itu sesuai dengan yang diharapkan.
Ahh rasanya jadi tidak tega tapi untungnya bukan racun tidak ada salahnya kan.
Tenang.. !!
Makanan yang disiapkan tidak berbahaya kok hanya saja membuat nya lebih asin dari rasa aslinya.
Dengan langkah pasti Anggiva membawa makanan tersebut ke hadapan Arsean dan meletakkannya dimeja ruang TV.
Mengambil tempat duduk disebelah Arsean yang sedang fokus menatap Televisi.
PIP... !
" aaarrrnggg... " erangan kecewa dari Arsean karena tiba tiba saja TV nya dimatikan.
" kenapa malah dimatiin kan Arsean mau liat gimana keadaan mereka semua setelah memakan kue buatan si ulat kuning.. " gerutu lelaki itu.
" gak perlu karena sekarang kamu harus ngerasain makanan buatan aku... Khusus untuk kamu.. Ayo cicipi dan katakan bagaimana rasanya.. " dengan wajah gembira Anggiva menyuguhi makanan tersebut pada Arsean.
" ini apa.. " tanya Arsean setelah melihat penampakan makanan yang berada ditangannya.
" hadiah spesial untuk Arsean dibuat dengan rasa penuh cinta, aku bikinnya niat banget loh pengen kasih kamu kejutan... Semoga kamu suka ya katakan juga bagaimana rasanya.. ayo dimakan.. " ucap Anggiva dengan raut wajah bahagia dan ber ekspetasi tinggi.
Melihat wajah sumringah Arsean saat mendengar ucapannya sudah bisa ditebak jika Arsean akan seperti lelaki yang ada di Drakor itu.
Ahhh jadi beneran tidak tega karena telah mengerjai lelaki baik ini.
Arsean mulai menyendok makanan dipiring lalu memasukkan kedalam mulutnya sedangkan Anggiva menunggu tanggapan terharu yang akan diberikan Arsean.
Anggiva semakin mengembangkan senyumnya saat dirasa lidah Arsean bertemu dengan makanan buatannya.
Dan lelaki itu sendiri membulatkan kedua matanya yah seperti harapan Anggiva versi kebalikan nya langsung saja...
" hwuueekk... hwuueekk..." senyum Anggiva membeku saat melihat Arsean memuntahkan makanan tersebut kedalam piring itu.
" apa ini rasanya mengerikan sekali seperti memakan aku juga bingung mengatakan rasa anehnya aahh jangan jangan Anggiva bukan membuat dengan rasa penuh cinta tapi seperti yang dilakukan si ulat kuning tadi yaitu menggunakan ingus serta kentut yah oh tidak apakah itu be-
" DIAM... aaaaa hiks.. aku berharap pada orang yang salah rupanya.. " lirih Anggiva seketika senyum yang tadi mengembang berganti dengan raut sedih.
" lain kali Anggiva masak telur saja jangan bikin yang aneh aneh, dibandingkan dengan rasa yang pernah aku rasa... Rasa inilah yang paling buruk.. Bahkan aku berani taruhan hewan pun pasti langsung trauma saat memakannya.. " jelas Arsean dengan kejujuran nya.
Apa ini bahkan jauh dari ekspektasi, tadinya ingin menyiapkan tissu karena pasti terharu tapi sekarang Anggiva harus menyiapkan hati untuk mendengar kejujuran ini.
Sakit yah... Makanya tak semua orang bisa ditaruh harapan karena setiap hati itu berbeda dan tak bisa dipaksa sesuai keinginan kita.
" besok telur kamu yang akan aku masak ngeselin pokoknya.. " gerutu Anggiva sembari merampas makanan yang ada ditangan Arsean dan pergi menuju dapur.
" eh kok marah emangnya aku salah ohya ngomong ngomong apakah aku juga punya telur lalu seperti apa.. " monolog Arsean.
Sedangkan didapur, Anggiva mau tidak mau harus menerima dengan lapang dada karena apa yang dikatakan Arsean memang kebenaran hanya saja bukan seperti maksud gadis itu.
Sudahlah lagian ngapain ikut ikutan sih, berbeda bukan berarti tidak tapi iya dengan cara lain.
Setiap orang punya cara yang berbeda untuk mencapai tujuan yang sama namun terkadang sebagian orang tak bisa menerima perbedaan tersebut.