
Anggiva terus mengurung dirinya dikamar tanpa ada niatan untuk menemui Arsean dan bahkan tidak peduli sedang apa lelaki itu sekarang.
Rumah itu terasa sunyi tidak ada suara sekalipun kecuali ombak laut dan detak jarum jam. Kenapa jadi sepi begini, apakah Arsean tidak punya niat untuk meminta maaf padanya biasanya dia akan merengek pada gadis itu.
Benar sepertinya memang tidak ada keberadaan Arsean terbukti saat Anggiva keluar kamar ruang tamu tampak kosong, dapur dan kamar mandi serta kamar Arsean juga kosong setelah diselidiki.
Hanya pintu utama yang terbuka lebar.
" Dia kemana... apakah dia kabur... " gumam Anggiva.
" tidak mungkin.... mau kabur kemana memangnya.. dia kan tidak tau arah... hah... apa aku terlalu keras Memarahinya... Anggiva... " monolognya.
Gadis itu memilih duduk disofa mencoba menenangkan pikirannya dengan menyalakan televisi.
Sedangkan ditempat lain kini Arsean sudah berada ditempat keramaian.
Berjalan hanya menggunakan insting akhirnya ia sampai ditempat ini sebut saja tempat orang orang yang menjual beragam barang di tokonya masing masing.
Rumah Anggiva yang terasing kan dipantai tentu tidak terlalu dekat dengan tempat keramaian seperti ini dan Arsean cepat sampai pun karena ada orang yang berbaik hati memberikannya tumpangan.
Melihat manusia yang tampan rupawan seperti itu siapa yang tidak tergoda apa lagi wajah imutnya yang memancing orang orang untuk mengkasihaninya.
Tanpa bermodalkan apapun kecuali dengan pakaian khas rumahnya dan sendal jepit, dengan percaya diri Arsean masuk kesebuah toko alat make up.. kenapa dia tau itu toko make up karena dari luar ia melihat seorang pembeli yang sedang berinteraksi dengan penjual sambil mencoba beberapa lipstik yang persis seperti milik Anggiva.
Arsean membuka pintu kaca besar dihadapan nya dengan mendorong pelan lalu matanya tertuju pada alat alat make up persis seperti milik Anggiva.
Setelah melayani pembeli selanjutnya kini penjual itu mulai mendekati Arsean.
" selamat datang... ada yang bisa saya bantu anak muda... " tanya sosok penjual berjenis kelamin laki laki sekitar umur 40-an begitu.
" eumm... bantu apa... " tanya Arsean terus fokus pada barang dihadapan nya.
Penjual itu merasa heran dengan pertanyaan Arsean, kenapa anak muda ini tidak bisa menangkap maksudnya.
" eumm... anda mau cari apa. " tanya penjual itu.
" cari alat gesek gesek dibibir.. " jawab Arsean santai.
" hah... alat gesek gesek dibibir..??.. " ulang penjual itu sembari berpikir.
" ouww... apa itu lipstik... " lanjut penjual itu setelah menemukan di otak nya.
" bukan... tapi itu lho alat gesek gesek dibibir nanti bibirnya jadi merah.. " kekeuh Arsean.
Ngomong ngomong make up Arsean sudah dibasuh dulu dirumah sebelum pergi kesini makanya orang orang tidak terkejut melihatnya walau masih terlihat ada sisa diwajahnya.
" iya itu tuan... itu namanya lipstik.. " penjual itu mencoba memberitahu sesuatu yang benar.
" aarrhh.. aku bilang bukan... bodoh banget sih kamu... " udah salah nyolot lagi itulah Arsean.
Rasanya pengen maki deh tapi kan boleh... ingat pembeli adalah raja. batin sang penjual.
Karena merasa percuma berdebat akhirnya penjual itu mengambil sebuah lipstik diraknya lalu memperlihatkan pada Arsean.
" yang ini bukan... " tanya pak penjual sambil memperlihatkan lipstik itu di depan mata Arsean.
" ah iya benar sekali.. " jawab Arsean dan merampas barang itu.
" itu namanya lipstik tuan... " ucap pak penjual.
" diam kamu gak usah sok tau.. " cibir Arsean merasa sudah benar.
" Oh ya satu lagi aku mau cari ini... eumm... itu lho.. apa ya... eumm... KRIM MATA YA BENAR.... aku sempat baca tadi.. " girang Arsean.
Hampir saja sang penjual itu mengeluarkan kata kata mutiara saat tiba tiba Arsean berteriak dan mengejutkan dirinya.
" baiklah tunggu disini.. " ucap bapak penjual dan bergegas mengambil barang yang dimaksud.
" ini kan... " Pak penjual itu menyerahkan pada Arsean setelah mengambil nya.
" terimakasih... " ucap Arsean dan menerima barang itu.
" ya sama sama... tunggu dulu saya ambil plastik nya... " ujar pak penjual itu lalu menuju tempat ia menaruh plastik.
" Anggiva pasti senang... aku harus cepat cepat memperlihatkan ini padanya.. " monolog Arsean lalu keluar dari sana tanpa membayar juga tanpa sepengetahuan pak penjual itu.
" total semuanya tiga- HEI KEMANA KAMU... SIAL... TERNYATA DIA PENIPU... TUNGGUUU... AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN MU KABUR... " Dengan langkah seribu bapak itu cepat cepat keluar dan mencari keberadaan Arsean namun nihil lelaki itu tak lagi terlihat disana.
Tetapi pak penjual itu tak kenal lelah ia terus mengejar Arsean dan harapan nya semakin bercahaya saat melihat Arsean sedang berjalan terburu buru di jalan yang sudah menjauh dari kerumunan itu.
" HEI TUNGGUUU... " pak penjual itu terus mengejar meski tertinggal jauh dari Arsean yang kini sudah berlari.
Kembali pada Anggiva.
kini gadis itu sudah tidak bisa membohongi dirinya sendiri saat Arsean belum juga kembali padahal ini sudah lumayan lama.
Dirinya sedang mondar mandir dipintu dengan perasaan cemas dan tak berhenti menggigit kukunya.
" bagaimana ini.. kemana kamu Arsean... ayolah kembali... aku hanya mengetesmu... aku tidak benar benar marah padamu...ayolah... aku masih sangat menyayangi mu aku belum sanggup ditinggal oleh mu... " gumam Anggiva.
" apakah aku harus mencarinya... tapi kemana... arrrhhh pusiingggg.... " frustasi Anggiva menggaruk garuk kasar kepalanya yang tidak gatal.
Hingga tak lama kemudian... yang ditunggu tunggu pun datang sambil berlari dan memegang sesuatu dikedua tangan nya.
Anggiva yang melihat Arsean kembali langsung memeluk lelaki itu dengan erat.
GREEPP...
" kemana saja kamu ha.. jangan pernah berpikir untuk kabur... aku tidak marah... aku sangat menyayangi mu.. " tutur Anggiva menyamankan posisi nya dipelukan Arsean.
" aku hanya ingin membuat Anggiva senang... aku tidak sanggup dimarahi Anggiva.. " adu lelaki itu.
Anggiva melepas pelukan itu dengan tenang dan tersenyum kearah Arsean.
" yeeeyy... aku senang sekali... Anggiva tidak marah lagi... " girang lelaki itu.
Anggiva tak sanggup menahan gemas sampai tangannya terangkat untuk mengusak surai milik Arsean.
Cupp....
Lagi lagi gadis itu dibuat serangan jantung oleh lelaki ini yang tiba tiba mengecup pipinya dan setelah melakukan itu ia hanya menampilkan nyengir tak berdosanya.
" Arsean berapa kali kubilang jangan menciumku seenaknya... itu tidak baik untuk jantungku.. " -Anggiva.
" hehe.. habisnya aku senang sekali mencium yang harum itu... " ucap Arsean.
" ohya aku punya kejutan... " lanjut Arsean.
" apalagi.. aku tidak yakin dengan kejutanmu... itu... " Karena setiap kali Arsean memberi kejutan itulah mara bahaya nya datang.
Kejutan versi Arsean adalah bahaya menurut Anggiva.
" taraaaaa..... " dengan bangga Arsean memamerkan barang yang dibeli ralat tapi diambil dari sebuah toko.
" ini sebagai ganti make up yang rusak. " lanjut Arsean.
Anggiva yang melihat itu langsung membinarkan matanya senang.
" ini.... ini... serius... " ucap Anggiva senang.
" yah... ini untuk mu... ambillah... " jawab Arsean santai.
Anggiva mengambil nya dan tak henti hentinya tersenyum senang.
" aku kagum padamu... terimakasih... Arsean... aku senang sekali... aku menyayangimu... " Anggiva mengatakan itu sambil mengecup singkat pipi Arsean giliran lelaki itu yang jantung nya tak aman sekarang.
" Ngomong ngomong... kau dapatkan ini darimana... " lanjut Anggiva.
Deggg....
" HEI PENIPU KEMBALIKAN PUNYA KUUUU.... DASAR MALING... " teriak penjual itu yang mengejar sampai kerumah Arsean.
Walau tertinggal jauh tapi beliau tak akan kehilangan jejak Arsean.
Demi mengejar dua alat kosmetik pak penjual ini rela meninggal kan tokonya yang tidak di tutup atau mungkin sekarang barang barangnya bisa dikatakan tidak baik baik saja.
" hah... hah... " Pak penjual itu sudah berdiri diantara mereka dengan nafas terengah engah.
" bapak siapa yaa... " tanya Anggiva.
Bukannya menjawab bapak itu malah merampas alat kosmetik yang dipegang Anggiva.
" anak ini maling... dia mengambil barangku tanpa membayarnya... " jelas pak penjual itu dengan susah payah karena capek berlari.
" AP-APAAA... " shock tentu saja kedua kalinya Arsean memberi kejutan terindah untuk nya.
" dasar maling... kalau tidak mampu tidak usah mencuri segala.. makanya jangan sok nikah muda kalau tak bisa membiayai... katakan pada suami mu untuk tidak mengulangi nya lagi... " jelas pak penjual itu membuat Anggiva tak terima.
" maaf Pak tapi saya masih sekolah.. " bantah Anggiva.
" itu bukan urusan ku... dan kalian harus membayar karena aku sudah susah payah mengejar sampai sini.. " ucap bapak itu.
" maafkan kami pak... baiklah tunggu.. " ucap Anggiva lalu masuk kedalam untuk mengambil uang.
Beberapa menit kemudian ia kembali sambil mengeluarkan uang berwarna merah beberapa lembar dan menyerahkan nya pada bapak itu.
" terimakasih... tapi kalian tetap tidak akan mendapatkan alat kosmetik ku.. ini bayaran karena aku sampai harus mengejar kesini... bersyukurlah aku masih berbaik hati tidak melaporkan ini ke polisi dan tidak mengajak orang orang untuk menghajar suami mu.. " jelas pak penjual itu.
" sekali lagi maafkan aku.. " Anggiva terus memohon maaf sedangkan Arsean sudah menunduk tak berani menampakkan wajahnya.
" baiklah aku permisi... " Pak penjual itu pun melenggang pergi darisana.
" apalagi ini ya tuhaaaannn... " erang Anggiva mengusap kasar wajah nya.
Kini gadis itu mendekati Arsean dan menatap lelaki itu tajam.
" tatap aku..... " dingin Anggiva.
Tak berani Arsean sungguh tak berani menghadapi Anggiva yang marah level akhir sekarang.
" KUBILANG TATAP AKU BODOH... " bentak Anggiva sampai membuat Arsean tersentak dan terpaksa menatap Anggiva.
" maaf kan aku Ang-
PLAKK...
Arsean harus merasakan perih saat tangan Anggiva menampar pipi kanan nya hingga ia terpaling kesamping.
" tidak ada jatah makan siang dan juga makan malam untuk mu hari ini... bersyukurlah aku masih berbaik hati tidak mengusir mu dari rumahku ataupun menyuruhmu tidur diluar saat malam hari... sudah cukup untuk hari ini kau membuat aku gila... " kata Anggiva tanpa ekspresi.
" sekarang masuk kamarmu dan jangan keluar sebelum aku memaafkan mu.. " lanjut Anggiva.
" kapan kau akan memaafkan ku... " lirih Arsean.
" saat kau sudah benar benar sadar akan perbuatan mu... sekarang masuk ke kamar mu... " dingin Anggiva.
" tap-
" KUBILANG MASUK... " bentak Anggiva dan Arsean langsung memasuki kamarnya sesuai perintah Anggiva.
BRAKK...
Gadis itu menutup pintu utama dengan keras dan juga mengurung diri dikamarnya.